Jalan yang panjang jauh terbentang
Bertabur duri menusuk kaki
Akupun pernah tersapu bandang
\tapi aku coba bangkit kembali
Aku dan kamu punya mimpi
Hidup bahagia esok hari
Ku lepas semua keraguan
Berikan senyuman untuk masa depan
Pedih perih kita lalui
Luka duka kita jalani
Jangan pernah ada rasa benci
Tak ada yang perlu kita sesali
Bergandengan dalam temarang
Genggam tangan penuh kemesraan
Menyambut cinta dengan senyuman
Tersenyumlah untuk masa depan
Minggu, 17 April 2011
Kamis, 14 April 2011
DIAN CINTA
Cinta merupakan panggilan akrab untuk Cintiya Thumbelina, seorang gadis cantik berdarah Batak-Arab. Semenjak kedua orang tuanya bercerai, Cinta dibesarkan oleh keluarga Danu-sahabat Ibunda Cinta, yang kini menetap di Pulau Jawa.
Danu dan istrinya sangat menyayangi Cinta. Mereka membesarkan Cinta penuh kasih sayang. Semua yang Cinta butuhkan dipenuhi tanpa kata “nanti”. Meskipun istri Danu mengetahui Cinta adalah putri mantan kekasih Danu waktu SMA dulu, namun tidak terlintas kebencian sedikitpun di hatinya kepada Cinta. Dia justru mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Cinta.
Dulu.
Empat tahun lamanya Danu dan Ibunya Cinta merajut benang asmara, merenda hari penuh cinta. Namun semuanya berakhir karena sebuah adat. Orang tua mereka tidak merestui hubungan yang terjalin antara keduanya. Alasannya cukup sederhana. Hanya karena dalam sistem kekerabatan mereka seorang pria dan wanita tidak boleh menikah dengan orang semarga karena dianggap bersaudara. Hingga pada akhirnya hubungan mereka berakhir dengan sangat terpaksa.
Tidak lama setelah perpisahan itu, Danu dinikahkan dengan seorang gadis cantik bernama Rani, sedangkan Marani Tonga - ibunya Cinta, masih ditemani tangisan hati sepanjang hari. Dua tahun setelah resepsi pernikahan Danu dan Rani, datanglah seorang pria Arab bernama Abdul Husen menawarkan cintanya kepada Marani Tonga. Tanpa mendengarkan kata hati Marani Tonga, kedua orang tuanya langsung menerima pinangan Abdul Husen terhadap putrinya. Untuk kedua kalinya Marani Tongs hanya bisa menuruti apa yang dikehendaki oleh orang tuanya,
Meskipun mereka telah menjadi pasangan yang sah, tetapi hati Marani Tonga selalu tertuju kepada Danu. Dengan sabar, Abdul Husen terus berusaha untuk mendapatkan cinta Marani Tonga. Marani Tonga yang memang sedang membutuhkan seseorang yang dapat membalut luka masa lalunya, akhirnya membukakan pintu hatinya untuk suami yang sangat asing bagi dirinya. Tidaklah heran, itu karena Marani Tonga dan Abdul Husen belum pernah saling mengenal sebelumnya.
Ditengah bayang-bayang masa lalu yang sangat menyakitkan, lahirlah seorang bayi mungil yang sangat lucu. Dia adalah bidadari yang memberi energi baru dalam hidup Marani Tonga. Bidadari kecil itu diberi nama Cinta-Cintiya Thumbelina Husen.
Hari-hari yang mereka lalui berubah sejak kehadiran Cinta. Kebahagiaan dan tawa bahagia selalu mewarnai hari-hari mereka.
Namun sayang, badai telah datang menghempaskan kebahagiaan yang baru mereka rasakan. Berawal dari sebuah penghianatan yang berujung dengan perceraian. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Abdul Husen yang selama ini dibanggakam oleh Marani Tonga telah menodai fitrah pernikahan dengan menikahi seorang gadis belia tanpa sepengetahuan Marani Tonga. Rasa kecewa membuat Marani Tonga memilih jalan pisah dengan suaminya. Maka, anak yang tak berdosalah yang menjadi korbannya.
Seperti yang terjadi pada pasangan yang bercerai pada umumnya. Perebutan hak asuh anak selalu menjadi topik utama. Keduanya ingin mempertahankan Cinta dan berusaha agar hak asuk putri semata wayang mereka jatuh ke tangan mereka. Namun, usia Cinta yang ketika itu masih enam tahun menjadikan kemenangan hak asuh bagi Marani Tonga. Tentu saja Abdul Husen tidak dapat begitu saja menerima. Berulang kali Abdul Husen mencoba mengambil paksa Cinta. Untunglah, semua rencana itu tidak pernah berhasil. Karena Marani Tonga tidak pernah sedikitpun lengah untuk terus menjaga Cinta.
Sayang, lagi-lagi tradisi dalam keluarga merampas kebahagiaan Marini Tonga.
Sebuah tradisi turun temurun dalam keluarga Marini Tonga bahwa pasangan yang telah memiliki anak dan bercerai tidak boleh dipertemukan apalagi hidup bersama sebelum anak itu berusia dua puluh satu tahun. Maka anak yang orang tuanya bercerai harus dijauhkan dengan ayah dan ibunya karena diyakini akan membawa sial. Sungguh adat yang tidak rasional.
Orang tua Marani Tonga adalah orang yang sangat panatik akan tradisi. Mereka sangat tunduk dan bersikap tegas kepada siapa pun orang yang berani menentang tradisi keluarga mereka.
Mendengar musibah menimpa orang yang pernah menjadi ratu dihatinya, Danu mengajak istrinya menemui Marani Tonga. Rani - istri Danu memang perempuan yang sangat pengertian. Tanpa merasa curiga kisah cinta yang lalu terulang lagi, Rani menyetujui permintaan suaminya. Bahkan Rani mengusulkan untuk membantu meringankan masalah yang sedang dialami Marani Tonga dengan cara mengangkat Cinta sebagai putri mereka.
Ketika ditemui, Marani Tonga tampak sangat terpukul dengan takdir yang harus dia jalani. Marani Tonga hanya dapat tersenyum, bercanda dengan Cinta. Sebagai sesama perempuan, Rani dapat merasakan bagaimana jika harus berpisah dengan putri yang sangat dia cintai, meskipun sampai saat ini Rani belum dianugerahi seorang anak.
“Saya tidak tega jika harus memisahkan Marani Tonga dengan putrinya.” Bisik Rani kepada Danu seraya meneteskan air mata.
“Tradisi dikeluarga ini mengharuskan seperti itu.” Timpal Danu. “Jika bukan kita yang mengasuh Cinta, tetap saja Marani Tonga akan berpisah dengan Cinta.” Tambahnya.
Orang tua Marani Tonga mengambil paksa Cinta dari pangkuan Marani Tonga. Marani Tonga tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menangis seraya menyerukan nama putrinya.
Marani Tonga berharap orang tuanya dapat menghilangkan tradisi itu dan membiarkan dirinya membesarkan Cinta dengan kasih sayangnya. Namun, tradisi tetaplah tradisi.
“Tidak ada yang dapat menghapus tradisi ini.” Kata orang tua Marani dengan sangat tegas.
Memang, ini sangat tidak adil. Anak yang ia kandung sembilan bulan lamanya dan mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan buah hati tercinta harus diserahkan begitu saja kepada orang lain. Tapi kedua orang tua Marani Tonga tidak pernah memikirkan hal itu. Yang ada di dalam benak mereka hanyalah menjunjung nilai adat dan tradisi yang diwariskan orang-orang sebelum mereka.
Mungkin saat itu Cinta yang masih berusia enam tahun belum mengerti apa itu perpisahan dan apa arti sebuah tangisan, meski dia sendiri melihat ibunya merintih menangisi kepergian dirinya. Danu dan istrinya membawa Cinta pergi. Mobil mereka melaju perlahan, semakin berlalu hingga hilang di ujung jalan.
Marani Tonga terus menangis. Dia memanggil nama Cinta berulang-ulang. Berbeda halnya dengan orang tua Marani Tonga, mereka sama sekali tidak tampak meneteskan air mata. Kesedihanpun tidak ada barang sedikit saja.
“Sekalipun kamu menangis darah, itu tidak akan mengubah tradisi keluarga kita.” Kata orang tua Marani Tonga.
Semua telah terjadi. Marani Tonga masih harus menunggu setidaknya lima belas tahun lagi untuk bertemu dengan darah dagingnya sendiri.
***
Waktu terus berlalu, dari detik ke detik hingga tahun pun berganti wajah. Cinta, bidadari kecil yang lucu kini menjelma menjadi gadis cantik nan jelita.
SEMPURNA.
Mungkin itulah Cinta dimata orang-orang yang melihatnya. Seakan tidak ingin menghapus orang tua biologis yang telah memberinya kehidupan, karakter fisik orang tuanya sangat mendominasi ciri fisik Cinta.
Cinta.
Rambutnya sebahu berwarna cokelat tua, berkilau indah dan sedikit bergelombang. Kulitnya putih dengan tubuh semampai - seperti Abdul Husen, ayahnya. Mata sayu dengan alis hitam namun tidak tebal juga menambah kesempurnaan cantiknya remaja ini. Sangat mirip dengan Marani Tonga. Cinta juga sangat cerdas dan pandai bergaul.
Tidak ada yang meragukan prestasi Cinta di sekolah. Diusianya yang masih belia juga, Cinta sudah beberapa kali meraih penghargaan sebagai fasion designer termuda di tanah air. Pantaslah Danu dan istrinya sangat bangga kepada Cinta.
Seperti niatnya dulu. Danu dan istrinya hanya ingin membantu merawat Cinta, bukan menggantikan posisi Abdul Husen dan Marani Tonga di hati Cinta. Sehingga Danu dan Rani tidak pernah menyembunyikan siapa orang tua Cinta yang sebenarnya dari anak yang selama ini ikut mewarnai hari-hari mereka. Maka tidaklah heran, Cinta tidak pernah memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa.
***
Malam ini sangat indah.
Bintang-bintang bertaburan menghiasi langit alam. Cinta duduk seorang diri di beranda rumahnya. Tidak lama, datang seorang gadis cantik berulit sawo matang. Gaunnya panjang berwarna ungu serasi dengan jilbab putihnya dengan benik-benik kecil berwarna ungu muda. Gaun muslimah namun tetap modis. Dia adalah Nisa, sahabat Cinta dari semenjak mereka duduk di bangku sekolah dasar.
Cinta dan Nisa sudah saling memahami satu sama lainnya. Persahabatan mereka sudah lebih erat dari ikatan saudara. Mereka salng mengisi satu sama lainnya. Meski selama ini Nisa yang lebih banyak mengalah karena sifat Cinta yang sangat keras dan kokoh pendirian.
Begitulah.
Wajah anggun dan sayu namun karakternya begitu tegas dan keras. Tidak ada yang dapat membendung segala ambisinya. Cinta tidak suka diatur sehingga dalam persahabatanpun Cinta bukan tipe pengalah.
“Assalamu’alaikum.” Kata Nisa.
“Nisa. Tumben malam begini ke luar.” Sambut Cinta.
Nisa tersenyum, “Tadi aku mengucapkan salam. Kenapa tidak dijawab, Cinta?” tanya Nisa.
Cinta menjulurkan lidahnya, “Iya Ustadzah. Ribet baget jadi orang.” Kata Cinta. “Wa’alaikumsalam.” Sambungnya.
“Nah begitu, sahabatku.”
“Ada apa, Nisa?” tanya Cinta seraya memainkan rambutnya yang berkilau indah.
“Lho, kamu lupa malam ini Gesya ulang tahun?”
Cinta terkejut. “Serius?” tanyanya.
Nisa mengangguk.
“Sumpah gue lupa. Mana cape banget lagi.”
Ya, seharian ini Cinta memang sibuk di luar. Usai mengikuti fashion show, Cinta yang baru merintis karirnya sebagai model harus melakukan pemotretan dibeberapa tempat. Ditambah lagi kegiatan kampus yang memang sangat menguras tenaga.
Watak keras bukan berarti tidak punya solidaritas. Meski dalam keadaan lelah, Cinta tetap menghadiri ulang tahun Gesya, sahabatnya.
“Masuk dulu.” Ajak Cinta datar.
Dengan cepat, Cinta melangkah masuk rumah diikuti Nisa di belakangnya.
D kamar berwarna merah muda ini, Cinta mengeluarkan sebuah mini dress abu-abu bermotif bunga dari lemari putih berukuran besar. Bak seorang putri, dalam sekejap mata Cinta tampil dengan sejuta pesona. Tidaklah heran, hanya dengan memoles pipinya dengan bedak tipis kemudian memberi warna merah muda pada bibirnya, Cinta sudah dapat menyihir jutaan manusia untuk menatapnya penuh kagum. Karena gadis belia ini memang memiliki kecantikan alami dan sudah beberapa kali terpilih sebagai gadis sampul.
Ferpormence is the main point.
Itulah prinsip hidupnya selama ini.
Cinta selalu merasa penampilan adalah segalanya.
Selang beberapa lama, Cinta melangka panjang menuju ruang tamu menemui Danu.
“Mau kemana, sayang?” tanya Rani.
“Menghadiri ulang tahun Gesya, tante. Bolehkan?” jawab Cinta.
Rani tersenyum, “Minta ijin dulu sama om.”
“Siap.”
Dengan manja, Cinta menghampiri Danu. Dia duduk di samping orang yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri.
“Om boleh ya.” Kata Cinta tanpa basa basi.
“Ya, asal jangan pulang pagi lagi.” Jawab Danu.
“Ok.” Jawab Cinta girang.
***
Di pesta yang sederhana itu, Cinta tampak sangat cantik dan anggun. Bak seorang putri raja yang baru turun dari khayangan, semua mata tertuju padanya. Dengan sebuah jepit rambut kecil berbentuk kupu-kupu menghiasi rambutnya yang terurai, membuat Cinta semakin sedap dipandang mata.
Semua menatap kagum kepada Cinta, namun Cinta selalu bersikap acuh tak acuh kepada mereka.
Tibalah acara yang sangat dinantikan. Sebuah penampilan dari Vidi Aldiano menutup acara yang sangat sederhana itu.
(He…namanya juga orang terlanjur kaya. Ulang tahun sederhana juga mengundang penyanyi papan atas.)
“Vidi?” gumam Cinta melihat idolanya.
Tanpa canggung, Cinta ikut berdendang seiring dengan lagu yang ada. Mungkin juga karena melihat kecantikan Cinta yang selalu terpancar dari sudut manapun yang melihatnya, Vidi yang ketika itu membawakan lagu Nuansa Bening menghampiri Cinta dan mengajaknya bernyanyi bersama. Tentu saja Cinta tidak menolaknya. Cinta begitu menikmati panorama malam ini.
Jarum jam terus berputar, hingga waktupun menunjukkan pukul 02.10 dini hari. Sahabatnya, Nisa sudah terlebih dulu pulang. Sedangkan Cinta masih larut dalam suasana malam hingga acara berakhir.
Usai pesta, terlihat Cinta berjalan seorang diri.
“Sial. Mobil baru malah mogok.” Cinta menggerutu penuh kekesalan.
Tidak terbayangkan sebelumnya, mobil baru hadiah dari Danu dan Rani ketika Cinta lulus SMA.
Tahu-tahu seorang pemuda bertubuh kekar menghentikan langkah Cinta.
“Cinta.” Seru orang yang sudah tidak asing lagi bagi Cinta.
“Nick. Kamu di sini juga?” tanya Cinta kaget. “Aku tidak melihatmu di dalam.” Tambahnya.
“Aku memang hanya sebentar di sini. Ada agenda lain di luar.” Jawab Nick.
Nick adalah rekan seprofesi Cinta. Tampan dan kaya. Cinta dan Nick sudah dekat sejak lama, jadi tidaklah heran ada beberapa media lokal yang mengabarkan keduanya berpacaran.
“Kamu begitu cantik malam ini.” Puji Nick.
Cinta kembali mengambil langkah panjang meninggalkan Nick.
“Thanks, aku tahu. Semua orang berkata seperti itu.” Timpal Cinta seraya terus berjalan.
Nick memperhatikan Cinta yang terus menjauh dari pandangannya.
Cinta merogoh tas kecil yang senada dengan mini dress yang dia kenakan. Di keluarkannya sebuah handphone. Belum sempat Cinta menggunakan pnselnya, Nick kembali menghentikan langkah Cinta.
Nick berlari kecil menghampiri Cinta yang berada beberapa meter di depannya.
“Mobil kamu mana?” tanya Nick.
“Tidak mau ikut pulang bersamaku. Mungkin masih betah di tempat itu.” Jawab Cinta.
“Maksud kamu mogok?”
“Begitulah.” Jawab Cinta singkat.
Nick tertawa, “Pantas saja malam ini kamu jutek. Ternyata mobil itu yang telah membuat kamu kesal.”
Cinta tidak mempedulikan Nick. Dia terus memperhatikan mobil yang melintas barangkali ada taksi lewat.
“Cinta, kebetulan rumah kita searah. Bagaimana kalau aku yang mengantarmu pulang.” Tanya Nick.
“Makasih, Nick. Biar aku nunggu taksi saja. Tidak ingin merepotkanmu.”
“Aku yang meminta, itu artinya aku tidak merasa direpotkan.” Kata Nick berusaha meyakinkan. “Mari.” Ajaknya.
Akhirnya Cinta menerima ajakan Nick.
“Mana mobilmu?” tanya Cinta.
“Di sebelah sana.”
Dengan bangga, Nick membukakan pintu depan mobil mewah VW Passat berwarna biru dan mempersilahkan Cinta untuk masuk. Namun Cinta justru diam beberapa saat.
“Yang aku ingat mobil kamu bukan yang ini.” Ujar Cinta.
Nick tersenyum, “Oh, maaf seharusnya aku menceritakannya tadi.” Ujar Nick. “Mobil yang lama sudah waktunya istirahat, jadi aku membeli mobil ini sebagai gantinya. Bagus kan? Mewah.” Kata Nick dengan bangganya.
“Lumayan.” Jawab Cinta kemudian masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan Nick terus membanggakan mobil barunya itu.
“Kamu harus tahu, VW Passat ini merupakan mobil nomor satu ditujuh negara, terutama di Eropa dan Skandinava.” Jelas Nick.
Cinta tersenyum kaku, “Emang gue pikirin. “ bathin Cinta.
Dapat dikatakan Nick adalah putra salah satu orang terkaya di Jawa Barat. Selain seorang pengusaha yang menduduki jabatan di kursi top management, ayahnya juga adalah seorang aktivis yang memiliki lahan perkebunan yang sangat luas.
Mendengar cerita Nick, Cinta sempat dongkol juga. Pemuda yang usianya tiga tahun di atas Cinta ini ternyata lebih parah dari dirinya. Nick terlalu melek pinansial sehingga terkesan matre.
(Cowok matre… ke laut aje… he…)
Tapi jika harus jujur, sebenarnya diam-diam Cinta mengagumi sosok Nick yang sempurna dan memenuhi kriteria cowok idealnya. Begitu pun sebaliknya. Dalam diam Nick selalu berharap bidadari cantik yang saat ini ada di sampingnya kelak akan menjadi kekasihnya.
Saling mengagumi, namun tertutupi oleh ego dan gengsi. Tapi nampaknya Nick sudah tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Nick menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Tentu saja itu membuat Cinta terkejut.
“Gila kamu, Nick. Mengapa menghentikan mobil mendadak seperti itu?” ujar Cinta kesal.
Nick diam. Sesaat dia merangkaikan kata-kata terindah untuk mengutarakan perasaannya.
“Hanya ingin membuatmu kaget saja. Habisnya aku lihat kamu ngantuk begitu. Jadi biar kamu tidak tidur di mobil baru ku.”
Akhirnya bukan kata yang selama ini dia rangkai yang telah terucap.
“Sangat tidak lucu.” Kata Cinta tersenyum sinis kemudian kembali bersandar dan memejamkan matanya.
“Ya ampun, ini orang malah tidur.” Kata Nick.
Nick kembali menghidupkan mesin mobilnya dan melaju perlahan.
Sesekali dilihatnya wajah Cinta yang sangat bersih, cantik dan menawan. Jantungnya kembali berdetak cepat. Ada rasa ingin memilikinya.
Baru beberapa meter mobil melaju, Nick kembali menghentikan mobilnya.
Tentu saja kali ini Cinta yang baru memasuki alam tidur terkejut setengah mati.
“Nick.” Bentaknya. “Kamu sengaja?” tanyanya semakin kesal.
“Aku sayang kamu, Cinta.” Kata Nick antara sadar dan tidak.
Cinta diam.
Nick terus menatap wajah gadis pujaan hatinya yang tiba-tiba berubah menjadi merah padam.
“Aku harap kamu mau membukakan pintu hatimu untukku.” Kata Nick.
“Nick…” belum sempat Cinta berkata, Nick langsung memotong pembicaraan
Dengn nyali yang sangat pas-pasan Nick terus berusaha meyakinkan Cinta bahwa dirinya mampu menjadi yang terbaik bagi Cinta.
“Aku tahu aku tidak sempurna buat kamu. Tapi ijinkan aku menyempurnakan sebentuk hati yang kamu miliki. Aku akan membahagiakanmu, Cinta,” kata Nick lagi berharap hati Cinta terbuka untuk dirinya. “Terima aku, atau kamu akan melihat aku mati dalm hidup ini. Karena tanpa cintamu semua tiada yang berarti. Aku sangat mencintaimu.”
“Sure?” tanya Cinta berharap Nick akan memberinya sebuah jawaban yang pasti.
“Ya.” Jawabnya. “You always made me don’t rest. The shadow of a smile in your face already forced me to think of you. And now I conscious, that I fall in love with you.” Jelasnya.
Seakan tidak ingin kalah romantis dengan kata-kata Nick, Cinta memberikan jawaban dengan sangat puitis.
“Nick, if you wants to know, actually I have a same feeling with you.” Timpal Cinta.
“Jadi?” tanya Nick.
“Ketika hati ini sepi, aku selalu berharap akan ada pangeran yang datang dengan sekeping hati. Kini pangeran itu ada di hadapanku. Aku ingin hanya kamu yang memberi warna dalam cerita cintaku.” Kata Cinta.
“Kamu mau menjadikan aku raja di hatimu?” tanya Nick.
“Ya. Aku mau menjadi hamba yang selalu setia pada rajanya.” Jawab Nick.
“Kau bukan hamba. Tapi kamu adalah istana tempat sang raja menyemaikan cinta. Aku akan menjaga istana itu, karena di situlah tahtaku.”
Mengenang masa-masa muda saat virus cinta menyerang nadi setiap insan memang terasa begitu indah. Seperti yang sedang dialami Cinta dan Nick, sepasang remaja yang baru saja berjanji setia.
Cinta dan Nick memang sangat serasi. Keduanya berasal dari keluarga terpandang.
***
CINTA.
Sekali lagi cinta telah menjadi virus mematikan bagi orang-orang yang tidak bisa mengendalikannya. Remaja yang sedang dimabuk cinta biasanya lupa mana yang benar dan mana yang salah. Mereka hanya memikirkan apa yang dapat mereka lakukan untuk membuktikan keagungan cinta tanpa memikirkan dampaknya.
Gadis cantik bernama Cinta kini menjadi korban berikutnya.
Orang yang selama ini menjadi pangeran yang selalu dipujanya, kini kedoknya semakin terbongkar. Nick adalah seorang pecndu narkoba dan pecinta dunia malam. Tanpa ragu Nick memperkenalkan dunianya kepada Cinta. Cinta yang memang terlanjur cinta kepada Nick, tanpa ada upaya menolak dia sama sekali tidak keberatan untuk bersahabat dengan narkotika.
Dunia malam semakin kelam, kehidupan di luar memang kejam. Namun Cinta sangat menikmatinya. Sekali lagi karena cinta.
Bisnis Danu dan Rani yang semakin hari terus berkembang dengan pesatnya, juga membuat mereka semakin larut dalam obsesi kesuksesn hungga mereka lupa ada seorang remaja yang masih sangat membutuhkan perhatian dan bimbingan dari orangtua.
Cinta kini meninggalkan rutinitas kuliahnya, hanya karena cintanya kepada Nick.
Separah ini kah virus cinta menggrogoti akal sehat seorang manusia?
Ya. Inilah kenyataannya. Cinta yang selama ini menjadi kebanggaan Danu dan Rani telah berubah menjadi gadis arogan yang hanya memikirkan kesenangan. Semua karena Nick. Dialah yang membuat Cinta seperti ini.
Danu dan Rani tidak mengetahui sedikit pun bagaimana Cinta sekarang. Yang mereka tahu Cinta adalah putri kesayangan mereka yang sangat pantas untuk dibanggakan. Namun kenyataan sungguh sangat menyakitkan. Karena ternyata anak yang selama ini mereka banggakan tidak lain hanyalah seorang pecinta dunia malam. Gadis manja yang selalu mereka cinta adalah seseorang yang angkuh dan dibutakan ketenaran. Tidak tanggung-tanggung, kecantikan dan keindahan tubuh yang Tuhan anugerahkan tak segan Cinta pamerkan, semua bebas memandang.
Nick benar-benar mengubah hidup Cinta.
Sebagai seorang sahabat, hati Nisa ikut teriris melihat perubahan Cinta sekarang ini.
***
Waktu menunjukan pukul 01.15 dini hari. Seperti biasa, Nisa terjaga dari tidurnya. Segera dia menyegarkan diri dengan air wudhu. Dia dirikan shalat malam. Dengan hati yang benar-benar berserah kepada Yang Mahakuasa, dia mohonkan pinta dalam doa.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara bising di luar. Setelah mengakhiri doanya, rasa ingin tahu membawa Nisa mencari tahu apa yang sedang terjadi di luar rumahnya. Dia membuka sedikit tirai putih yang menutupi jendela kamarnya. Tampak sebuah mobil mewah dan puluhan motor sporty berhenti tepat di depan gerbang rumah Cinta. Nisa masih menatap jauh ke luar jendela. Dilihatnya seorang pemuda yang mengenakan jaket kulit berwarna merah padam ke luar dari dalam mobil mewah itu bersama seorang perempuan cantik yang sudah lama di kenalnya.
Perempuan itu mengenakan pakaian yang sangat ketat. Rok mini warna putih dan atasan tanpa lengan dengan bagian dada sedikit terbuka. Jalannya sempoyongan, sesekali dia tertawa kencang, sangat kencang diikuti deru motor teman-temannya yang arogan.
“Nisa?” gumam Nisa.
Melihat Cinta dalam keadaan seerti itu, Nisa menitikkan air mata. Nisa tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa agar sahabatnya bisa kembali seperti dulu. Meskipun Cinta berwatak keras dan tidak suka diatur, tapi itu lebih baik dari Cinta yang sekarang. Setidaknya kegiatan Cinta dulu masih positif dan jauh dari barang-barang haram.
Nisa tahu benar bagaimana sifat dan kepribadian Cinta. Dibutuhkan nyali dan kesabaran ekstra untuk dapat menyarankan apa yang sebaiknya Cinta lakukan. Itupun belum tentu didengarkan apalagi diterima oleh Cinta.
Nisa dan Cinta memang sudah sangat lama bersahabat. Sejak kecil, mereka selalu bersama bak kaka beradik yang terlahir dari satu rahim ibu. Namun sejak masih kanak-kanak pula prestasi Cinta lebih gemilang dibandingkan Nisa. Tidak jarang Nisa meminta Cinta untuk mengajarkan pelajaran akuntansi, matematika ataupun pelajaran yang lainnya. Namun tidak sebaliknya. Tidak pernah sekalipun tersirat dalam benak Cinta rasa ketertarikan akan kefasihan nisa dalam berbahasa Arab serta ilmu tauhidahnya yang sangat dalam.
Pribahasa mengatakan, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Atau orang Sunda sering mengatakan, uyah tees kahandap. Mungkin itu juga yang terjadi pada diri Cinta. Telahir dari keluarga animis yang memiliki paham kolot serta dibesarkan pebisnis sukses yang dimabuk harta. Danu memang orang terpandang. Sikapnya yang ramah dan dermawan membuat Danu digandrungi banyak orang. Namun tidak jauh berbeda dengan keluarga Cinta yang sesungguhnya. Danu dan istrinya juga adalah orang yang tidak mengenal Tuhan. Tujuan hidup mereka adalah bersenang-senang, mengejar mimpi dan mengukir karir.
(Cinta, malang nian nasibmu…)
Sebelum masuk ke dalam rumah yang megah, Cinta meoleh kepada Nick. Cinta tersenyum disambut ciuman dari Nick.
(Naudzubilahimindalik… sensor ah…)
Nisa memalingkan pandangannya. Bathinnya semakin merintih.
Di dalam dalam doanya, Nisa selalu meminta agar Allah memberikan secercah cahaya pelita untuk menerangi liku jalan hidup Cinta yang suram.
Tidak terbayangkan seandainya Danu dan Rani tahu apa yang telah terjadi dengan putrinya. Lalu jika ditanya siapa yang salah, siapakah yang pantas untuk disalahkan? Apakah adat dan tradisi yang membuat Cinta terpisah dari orangtuanya? Danu dan Rani yang tidak dapat membagi waktu antara Cinta dan pekerjaan? Atau pantaskah seorang hamba menyalahkan takdir Tuhan?
Semua bisu.
(Kalau begitu, tanya saja pada rumput yang bergoyang… ckckck…)
Akhir-akhir ini Danu memang semakin sibuk dengan pekerjaannya. Belum lebih dari dua bulan yang lalu, Danu dan Rani telah meresmikan perusahaan barunya di Bandung. Dapat dikatakan Danu memang orang yang sangat mujur. Setiap bisnis dan perusahaan yang dipegangnya selalu maju dan dapat memberkan laba yang memuaskan. Selain itu, Danu juga memiliki saham dengan persentase terbesar dibeberapa perusahaan asing.
Tapi untuk urusan mendidik, beginilah.
Dengan langkah gayang, Cinta menaiki anak tangga yang luas dengan sebuah karpet panjang mewah berwarna merah tua. Sungguh membuat rumah itu tampak seperti istana khayangan yang megah dan indah. Semua perabotan yang ada di dalam rumah ini adalah barang mmewah yang dibeli langsung dari toko furniture terbesar di Jepang. Sesampainya di kamar yang menggunakan semua perlengkapan bermotif kupu-kupu, Cinta langsung merebahkan diri di kasur empuk yang baru diganti satu minggu yang lalu. Terlelaplah Cinta, larut dalam mimpi-mimpinya.
Seorang pelayan perempuan setengah baya dengan pakaian biru dan rok sepanjang lutut, masuk ke dalam kamar Cinta yang pintunya masih terbuka lebar. Dia melihat setiap sudut kamar Cinta, kemudian berjalan menuju jendela.
“Astaghfirullah, maafkkan bibi, Neng. Lupa tidak menutup jendela sejak tadi. Neng Cinta pasti kedinginan.” Gumam pelayan itu dengan logat Sundanya yang khas seraya memnutup jendela kamar.
Jawiah, perempuan yang sudah hampir setengah abad mengembara di alam dunia dan mengabdikan diri pada keluarga Danu. Jawiah jugalah yang selama ini mengurus segala yang Cinta butuhkan.
Dengan penuh kesabaran, jawiah membuka high heeled shoes yang masih dikenakan Cinta. Rupanya Cinta sudah terlalu lelah hingga dia tidak sempat melepas sepatunya sendiri.
Tiba-tiba mata Jawiah berkaca-kaca menatap Cinta.
“Mudah-mudahan Gusti Allah menurunkan hidayah-Nya kepada Neng Cinta. Bibi tidak tega melihat si cantik seperti ini.” Kata Jawiah pelan seraya meneteskan air mata.
Bukan hanya malam ini, sering kali Cinta pulang dalam keadaan mabuk. Namun tidak ada seorang pun yang berani mengadukan Cinta kepada Danu dan istrinya.
***
Hari-hari Cinta semakin larut dalam pergaulan bebas. Baginya, Nick adalah dewa mulia yang selalu memberinya selangit kebahagiaan. Narkotika sejenis sabu, ovum dan ganja sudah menjadi sahabat karib Cinta.
Kemana Nick pergi, Cinta selalu setia mendampingi. Baginya ini adalah salah satu bukti cinta sejati. Tanpa mereka sadari ini bukanlah sebuah kesejatian melainkan jalan kesesatan. Namun tiada yang mengerti, masa muda telah membelenggu keduanya dengan kepuasan nafsu dunia. Dalam keadaan seperti ini, jangan pernah bertanya tentang virginitas.
Roda zaman terus berputar. Waktu tidak pernah berhenti walau sedetik saja. Kini tibalah semua berganti. Danu pengusaha kaya raya terlilit berbagai persoalan dan teancam bangkrut. Ratusan keluarga karyawan yang menjadi korban kebakaran di pabrik garmen miliknya berdemo menagih dana asuransi untuk biaya pengobatan keluarga mereka dengan jumlah dana yang tidak sedikit. Tidak jauh berbeda, pabrik tekstil yang baru saja ia bangun telah menimbulkan masalah besar yang mengakibatkan penutupan pada pabrik tersebut. Mengapa tidak? Ratusan penduduk yang bertempat tinggalnya disekitar lokasi pabrik datang berbondong-bondong meminta dana ganti rugi serta memaksa agar pabrik itu segera ditutup. Itu semua karena limbah pabrik tersebut telah meresahkan warga dan menimbulkan berbagai penyakit. Sungguh di luar dugaan.
Padahal pada waktu yang bersamaan Danu sedang terlilit utang. Karena kecerobohannya dalam mengambil sebuah keputusan beberapa waktu yang lalu sehingga mengakibatkan 65% saham yang dia miliki berpindah tangan kepada lawan bisnisnya.
Tidak seperti biasanya, malam ini Danu dan istrinya sudah ada di rumah. Padahal sudah beberapa bulan ini mereka tidak ada di rumah. Hanya sesekali pulang apabila ada keperluan kantor yang harus dibawa, kemudian pergi lagi dan tidak sekalipun menyempatkan makan bersama Cinta.
Sekalinya ada di rumah, Danu dan istrinya justru membuat keributan. Kegagalan dalam bisnis telah membuat lenyapnya rasa cinta dalam keluarga ini. Padahal jauh dilubuk hati Cinta, dia sangat merindukan masa-masa seperti dulu. Saat perhatian dan kasih sayang masih utuh dia dapatkan. Diam-diam, Cinta yang juga malam itu ada di rumah menguping pembicaraan Danu dan Rani dari balik pintu ruang kerja Danu.
“Apa yang kamu lakukan hingga kita menjadi bangkrut seperti ini?” tanya Rani dengan nada meninggi. “Kamu memang tidak becus mengelola perusahaan.” Makinya.
“Bisamu hanya menyalahkan orang. Padahal dalam hal ini kamupun ikut bersalah.” Timpal Danu dengan nada yang tidak kalah kerasnya. “Sebagai istri kamu hanya ingin menikmati hasilnya. Tidak peduli suami banting tulang di luar.” Tambahnya.
“Kamu anggap apa pengorbanan dan usahaku selama ini? Apa kamu fikir aku hanya istri yang hanya diam di rumah?” tanya Rani. “Kamu ingat, Mas. Keberhasilan yang kita raih juga adalah hasil kerja kerasku.”
“Ah, terserah. Lebih baik sekarang kamu bantu saya mencari jalan keluarnya.” Jawab Danu.
“Kamu yang membuat kegagalan ini. Tanggung jawab dong, Mas. Jangan malah mau mengajak istri hidup sengsara.”
“Rani, dimana akal sehat kamu? Ini perusahaan kita. Enak saja kamu mau lepas tangan begitu saja.”
Pertengkaran terus terjadi. Tidak ada yang mengalah antara Danu dan Rani. Masing-masing mempertahankan argumennya yang dirasanya itu yang paling benar. Sangat egois.
Mendengar pertengkaran itu, hati Cinta benar-benar terpukul. Lagi-lagi Cinta merasa hanya Nick yang dapat memberinya kebahagiaan. Segera Cinta lari ke kamarnya. Cinta menggapai ponsel yang dia letakkan di meja kecil dekat tempat tidurnya.
Sesegera mungkin Cinta menghubungi Nick. Namun Nick tidak dapat dihubungi. Perasaan Cinta sangat kacau. Pangeran pembawa kebahagiaan yang selalu dia puja kini tiada saat dia benar-benar membutuhkan seseorang yang dapat meneangkan bathinnya. Alhasil, jalan pintas yang Cinta pilih sungguh sangat gila. Pil-pil kecil barwarna putih telah menjadi pelarian untuk melupakan segala kepenatan.
Seraya menitikkan air mata, dengn perasaan putus asa Cinta menelan semua barang terlarang yang ada dalam genggamannya.
Seperti biasa, setiap malam Jawiah memeriksa kamar tidur Cinta barang kali ada keperluan Cinta yang belum tersedia atau hanya sekedar memeriksa barang kali ada jendela yang belum ditutup. Namun alangkah terkejutnya Jawiah ketika didapati anak majikannya tergeletak dilantai dengan mulut berbusa.
“Asstaghfirullah. Neng Cinta…” jeritnya nyaris tak sadar.
Suara Jawiah yang sangat kencang telah mengundang rasa penasaran orang-orang yang ada dalam rumah itu.
Semua berlari menuju kamar Cinta dengan rasa penasaran dan hati deg-degan-termasuk Danu dan Rani. Tidak seperti Jawiah. Danu dan Rani tampak lebih terkejut ketika melangkahkan kaki memasuki kamar Cinta. Putri kesayangannya telah terbaring tidak sadarkan diri di lantai kamar dengan waja pucat dan mulut mengeluarkan busa.
Rani segera merangkul Cinta. “Apa yang terjadi dengan outriku?” tanya Rani kepada Jawiah.’
“Bibi tidak tahu. Ketika bibi masuk, Neng Cinta sudah dalam keadaan seperti ini.” Jawab Jawiah bergetar.
Meskipun Cinta bukan anak yang terlahir dari rahimnya, namun Rani sangat menyayangi Cinta. Cinta sudah dia anggap seperti anak kandungnya sendiri.
***
Dengan hati yang terus diselimuti rasa khawatir, Danu dan Rani segera membawa Cinta ke rumah sakit. Cukup jauh.
Sepanjang perjalanan, Rani tidak henti-hentinya menetekan air mata hingga tibalah di banguan putih bernama Rumah Sakit. Seorang dokter muda melangkah cepat menuju ruang UGD diikuti dua suster yang cekatan namun tetap tenang.
“Selamatkan putri saya, Dokter.” Ujar Danu mengiba.
Pintu ditutup sangat rapat.
Danu dan Rani hanya bisa menungu jawaban dari dokter tanpa bisa berbuat apa-apa selain meneteskan air mata. Perasaan mereka campur aduk. Selama ini mereka belum dikaruniai seorang anak pun. Sekarang, anak yang selama ini mereka rawat sedang berada diambang kematian.
Hancur.
Itulah perasaan mereka saat ini. Lebih sakit dari ditusuk ribuan duri atau mungkin perasaan mereka bergetar tak menentu seperti ketika seorang hamba sahaya yang ditodong senapan dari berbagai arah. Hidup yang selama ini selalu dihujani dengan kesuksesan dan limpahan harta, harus lenyap dalam seketika. Sangat memperihatinkan. Bukan hanya itu, masih ada yang lebih memperihatinkan. Dalam keadaan ini, Danu dan istrinya masih saja tidak ingat pada kekuatan yang Mahasegalanya-Allah. Tidak tersirat sedikitpun rasa ingin memohon pertolongan Tuhan. Mereka hanya bisa termenung dan meratapi nasib mereka yang kini tidak memiliki apa-apa.
Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, namun yakin akan sulit bagi mereka menjawabnya, “Masih adakah Tuhan di hati mereka?”
Cukup lama, barulah seorang dokter cantik dan dua suster yang membantunya menampakkan batang hidung mereka.
Dengan cepat Rani menghampiri dokter itu.
“Bagaimana keadaan putri saya, Dokter? Tanyanya seraya menangis dengan penuh kebimbangan.
Sepertinya dokter itu sudah tidak heran dengan keadaan seperti ini. Sangat tenang. Dokter itu kemudian menjawab.
“Sejauh ini masih belum ada perkembangan.” Katanya. “Besok sore, Bapak dan Ibu ke ruangan saya untuk melihat hasil laboratorium..” Katanya lagi seraya tersenyum tidak memperlihatkan pertanda apapun.
“Tapi bagaimana dengan Cinta?” tanya Rani penasaran. “Saya mohon sembuhkan putri saya.”
“Kami akan berusaha dengan maksimal. Ibu dan Bapak mohon membantu dengan doa.” Kata dokter itu dengan suaranya yang lembut. “Saya permisi dulu.” Lanjutnya.
Danu terdiam.
“Ayah macam apa kamu? Anak kita dalam keadaan kritis, kamu hanya diam seperti itu, Mas.” Kata Rani.
Danu masih tetap diam seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Mas, apa ada dalam otak kamu? Anak kita sakit. Lebih baik kita bawa Cinta ke luar negeri untuk berobat.” Kata Rani semakin kesal.
Danu menoleh.
“Luar negeri?” tanya Danu. “Dimana otak kamu? Darimana kita mendapatkan biayanya? Kamu lupa? Sekarang kita bangkrut. Bangkrut.” Tegas Danu.
Sekarang giliran Rani yang terdiam. Air matanya terus mengalir.
“Sudahlah, jangan hanya menangis. Benar kata dokter tadi. Lebih baik kita berdoa.” Ujar Danu.
Sejenak suasana menjadi sepi. Hingga suara Rani memecah lamunan yang ada antara keduanya.
“Kamu tahu caranya berdoa agar Tuhan menerimanya?” tanya Rani.
Danu menggelengkan kepala. “Terlalu lama saya melupakan Tihan. Sampai-sampai saya lupa kapan terakhir kalinya saya berdoa.” Jawab Danu penuh penyesalan.
“Saya pernah mendengar orang bijak berkata Tuhan itu menetahui keinginan kita. Jadi kita tidak perlu yang namanya doa.”
Danu berlalu meninggalkan Rani seraya berkata, “Saya akan mencobanya. Yang saya dengar orang bijak berkata Tuhan sangat senang jika dipinta.”
Benar-benar tidak di luar dugaan. Sebuah perubahan besar terjadi dalam diri Danu.
Subhanallah.
Dengan sangat khusyuk Danu bersujud kepada Allah yang Maha Penyayang. Penuh kepasrahan dalam doanya Danu meminta kesembuhan untuk Cinta. Air matanya jatuh tetes demi tetes.
Rani yang sejak tadi mengikuti Danu dari belakang merasa terketuk hatinya melihat suaminya yang sedang memohon pertolongan Tuhan. Meski ragu doanya akan di dengar Tuhan, Rani memberanikan diri untuk mengikuti langkah suaminya.
***
Tidak perlu meninggalkan tempat Cinta untuk menunggu hasil pemeriksaan. Sepertinya lapar pun sudah tidak mereka rasa. Danu dan Rani dengan sabar melihat dan menjaga Cinta yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, terlihat warna biru memar dibeberapa bagian tubuhnya yang putih.
Keesokan harinya, berita yang sangat menyakitkan harus diterima oleh Danu. Dengan sangat hati-hati dan bijak, dokter menjelaskan kondisi Cinta dan apa yang menyebabkan Cinta seperti ini.
“…putri Anda over dosis.” Kata dkter setelah menjelaskan bagaimana keadaan Cinta.
Danu sangat terpukul mendengarnya.
Tidak begitu lama, Rani datang.
“Apa yang terjadi dengan Cinta, Mas?” tanya rani tiba-tiba. Dengan penuuh rasa penasaran, Rani menatap mata Danu yang sudah berkaca-kaca. “Bagai mana keadaan putri kami, Dok?” tanya Rani semakin penasaran.
Dengan kesabaran, dokter kembali menjelaskan. Pada saat itulah Rani murka. Tidak menerima dengan hasil tes putrinya.
“Anda memang dokter, tapi anda tidak tahu siapa Cinta. Putri saya anak yang sangat baik. Putri kami tidak mungkin menjadi seorang pemakai obat-obatan terlarang seperti itu.” Maki Rani.
Sebisa mungkin Danu menenangkan istrinya yang sangat tertekan. Tentu saja, siapa yang tidak terkejut mendengar Cinta adalah seorang pemakai? Karena selama ini, Cinta selalu jadi teladan semua orang, Cinta adalah sosok figur idaman.
Kondisi Cinta yang sangat memprihatinkan ini, menuntut Cinta untuk lebih lama berada di rumah sakit. Sudah empat hari, masih belum ada kabar baik untuk Danu dan Rani tentang putrinya. Sedangkan dalam keadaan seperti ini, Nick yang selama ini dipuja dan dipuji oleh Cinta tidak sedikitpun menampakkan batang hidungnya.
Cobaan yang menimpa keluarga Danu pun tidak cukup sampai di sini. Tanpa mempedulikan keadaan yang kini sedang dialmi Danu, warga yang tinggal disekitar pabrik tekstil terus mengompas dana ganti rugi atas terkontaminasinya air sungai yang mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari oleh berbagai limbah yang sebagian besar mengandung sulfida phenol yang dapat berpengaruh buruk pada kecerdasan anak dan wanita hamil, juga mengandung mineral NO3 yang dapat menimbulkan eutrofikasi.
Tentu saja warga sangat gelisah dengan keadaan ini. Karena eutrofikasi dapat mengakibatkan sulitnya cahaya matahari menembus permukaan air. Warga khawatir ekosistem di dalam air tidak dapat berfotosintesis. Selain itu belakangan diketahui bahwa peningkatan suhu yang terjadi disekitar diakibatkan oleh limbah pabrik berupa smog yang mengandung gas CO2 dengan persentase yang besar. Zat ini bersama mikro-organisme, debu, dan titik-titik air berkondensasi membentuk awan yang sifatnya dapat ditembus oleh sinar matahari namun tidak dapat ditembus oleh energi panas.
Hal ini sungguh membuat warga sangat geram. Terlebih lagi setelah zat berbahaya itu terakumulasi pada anggota keluarga mereka.
Saat ini keadaan Danu benar-benar sedang guncang. Dia tidak tahu lagi dari mana akan mendapatkan uang untuk biaya ganti rugi. Danu juga tidak ingin merugikan orang lain demi kepentingannya sendiri. Tanpa berfikir panjang, Danu menjual semua saham yang dia miliki di perusahaan Greatnees-sebuah perusahaan asing.
Mengetahui Danu telah menjual saham yang ada di perusahaan yang merupakan salah satu perusahaan terbesar di Asia itu, Rani sangat marah dan kecewa.
“Mengapa sampai harus menjual saham kita? Bagaimana kita dapat melanjutkan hidup jika kisa sudah tidak memiliki apa-apa?” tanya Rani.
“Tidak ada cara lain. Seluruh saham kita di Kaktus Niaga sudah disita bank. Sedangkan kita harus membayar dana asuransi kepada karyawan dan memberi dana ganti rugi kepada warga. Lalu apa kamu juga lupa? Kita harus membayar biaya pengobatan Cinta. Satu-satunya jalan hanyalah dengan menjual saham itu.” Je;as Danu.
“Semua ini salahmu. Adai saja kamu tidak ceroboh, tentu semua ini tidak akan pernah terjadi.”
“Bisamu hanya menggerutu. Masalah ini kita bicarakan di rumah saja.”
Rani tersenyum sinis. “Rumah yang mana, suami ku? Apa kamu pikir kita masih bisa menginjakan kaki di rumah besar itu?”
Danu diam sejenak. “Kita masih punya rumah yang dulu. Itu bisa kita jadikan tempat tinggal kita untuk sementara waktu.”
“Oh, yang itu? Bagiku itu bukan rumah, tapi kandang ayam.”
“Sudahlah. Jangan memperkeruh keadaan. Sekarang terserah kamu. Kamu mau ikut tinggal di kandang ayam itu dan kita bisa memulai kehidupan baru di sana meski harus menjadi ayam, tapi dapat menyambung hidup dengan usaha sendiri yang dikmpulkan butir demi butir, atau kamu akan tetap menjadi manusia angkuh yang nantinya akan menyambung hidup dari hasil meminta-minta di setiap sudut kota.”
Danu meninggalkan Rani yang masih sangat marah dan tertekan dengan kenyataan yang harus diterima. Namun tiba-tiba Rani menghentikan langkah Danu.
“Tunggu, Mas.” Katanya. “Maafkan saya. Benar, dalam hal ini aku juga bersalah.” Kata Rani.
***
Pada sebuah kesempatan, Rani dan Danu menyempatkan diri berkonsultasi dengan sahabat mereka yang kebetulan adalah seorang psikolog. Meski sebenarnya mereka merasa malu menceritakan apa yang telah dialami putrinya, tapi dengan ragu akhirnya Rani pun bicara.
Sejenak sahabat mereka diam setelah mendengarkan cerita dari Danu dan Rani, kemudian berkata, “Bukan hanya faktor lingkungan luar saja yang mempengaruhi perilaku seorang anak menyimpang. Tapi faktor keluarga juga.”
Rani terkejut. “Maksud anda?” tanyanya.
“Begini maksud saya. Diantara sekian banyak faktor yang menjadi penyebab menyimpangnya tingkah laku seorang anak diantaranya adalah disharmonisasi dalam keluarga. Ketidakharmonisan dalam keluarga akan menyebabkan seorang anak mencari perhatian lain di luar rumah atau bisa juga mencari kesenangan yang tidak dia rasakan dari keluarga dengan cara mengonsumsi narkotika, seperti yang terjadi pada Cinta saat ini.” Jelasnya lagi.
“Maksud Anda, kami yang bersalah?” tanya Rani tidak menerima..
“Saya tidak menyalahkan kalian sebagai orang tua. Tapi begitulah pada kenyataannya. Bukankah selama ini kalian membiarkan Cinta sendiri saat kalian sibuk mengurus perusahaan?”
Rani diam.
“Lalu bagaimana kami seharusnya?” tanya Danu. “Kami bekerja juga untuk Cinta. Karena kami menyayangi dia.” Tambahnya.
“Dari hasil musyawarah group dynamiscs, ada pendekatan yang disebut dengan heterofili dan homofili. Heterofili merupakan penegasan perbedaan pandangan antara yang berbicara dengan lawan bicaranya sehingga mengakibatkan terhalangnya produktivitas dalam kelompok. Sedangkan homofili memiliki arti sebaliknya, yaitu kesamaan pengertian antara orangtua dan anak, sehingga dalam konsep ini dapat terwujud suasana yang diidamkan, yaitu keharmonisan dalam keluarga.
Saat ini kenyataan memang telah membuktikan bahwa komunikasi yang tidak baik dapat berdampak sangat buruk, terutama bagi remaja yang belum begitu mengenal jati dirinya. Sehingga remaja dalam masa-masa rawan itu banyak yang terjebak dan ke luar dari norma yang ada.
Yang harus dilakukan saat ini, mulailah melakukan pendekatan pada Cinta. Karena orangtua sesungguhnya sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang mental seorang anak, apalagi remaja yang tengah memiliki hasrat yang sangat besar untuk mencoba sebala yang baru baginya. Sikap orangtua yang selalu tak acuh akan menjadi pemicu seorang anak yang telah beranjak dewasa untuk melakukan demoralisasi. Berikan Cinta perhatian dan kasih sayang. “
Mendengar semua yang dikatakan sahabatnya itu, Rani berbalik mencaci maki dirinya sendiri. Danu dan Rani kini menyadari tidak sepantasnya mereka saling menyalahkan karena apa yang terjadi pada Cinta jelaslah itu salah mereka berdua.
***
Pagi itu, Rani yang dengan begitu setia menemani Cinta terkejut dengan sebuah perkembangan Cinta.
Dilihatnya jemari Cinta bergerak, meski sangat pelan.
Karena merasa sangat bahagia, Rani segera memanggil dokter dan suaminya meski masih merasa setengah tidak percaya. Disaksikan Danu, Rani dan dokter, perlahan Cinta mulai membukakan matanya.
Cinta melihat sosok yang dikenalnya dengan samar-samar.
“Cinta.” Seru Rani bahagia.
Meski tidak memiliki apa-apa lagi, Rani dan Danu merasa sangat bahagia putrinya dapat kembali membukakan mata dan tersenyum kepada dirinya.
“Mama.” Ucap Cinta pelan.
Rani tersenyum bahagia. “Kamu memanggilku mama?” tanyanya tidak percaya.
“Ya.” Jawab Cinta pelan nyaris tidak terdengar. “Maaf, aku sedah mengecewakan semuanya.” Ucap Cinta lirih.
Cinta meneteskan air mata. Tampak penyesalan yang mendalam dari raut wajahnya.
“Cinta ingin pulang.” Ucap Cinta berkali-kali dengan suaranya yang parau.
Mendengar kata-kata Cinta, Rani merasa seluruh tulangnya copot dari persendian. Nadinya putus dengan darah segar yang terus mengalir. Tidak dapat terbayangkan ketika nanti harus membawa Cinta pulang ke tempat tinggal yang jauh berbeda dengan tempat tinggal mereka yang dulu. Sudah pasti Cinta tidak akan mudah untuk menerimanya.
Akhirnya setelah sekian lama dirawat karena kondisinya yang sangat memperihatinkan, Cinta pun diijinkan untuk meninggalkan rumah sakit ini.
***
Danu dan Rani segera membawa Cinta pulang dengan taksi berwarna biru.
“Mau kemana kita, Mah?” tanya Cinta.
“Pulang, sayang.” Jawab Rani dengan mata berkaca-kaca.
“Cinta tidak ingat jalan ini. Apa Cinta pernah ke sini sebelumnya?’
Rani menggelengkan kepala.
“Lalu pulang kemana kita?” tanya Cinta sangat penasaran.
Rani tidak menjawab. Hanya linangan air mata yang mewakili semua apa yang dia rasa.
“Ke rumah baru. Sebentar lagi kita akan sampai.” Kata Danu.
Cinta semakin tidak mengerti. Bathinnya pun terus bertanya-tanya mengapa harus pulang dengan taksi? Di mana mobil baru Rani? Di mana mobil kesayangan Danu? Dan juga di mana mobil miliknya? Mengapa tidak menggunakan salah satu mobil milik mereka?
Jutaan pertanyaan yang muncul dalam benaknya hanya mampu dipendam. Karena setiap kali Cinta bertanya hanya tetes air mata yang menjadi jawabanny.
“Ya sudahlah. Nanti juga aku akan mengetahuinya.” Bathin Cinta.
Sesuai dengan dugaan. Alangkah terkejutnta Cinta ketika sampai di depan rumah sederhana. Rumah tua. Bangunannya tua, prabotannya juga tua.
“Mengapa kita ke sini?” tanya Cinta dengan perasaan yang tidak menentu.
“Ini rumah kita yang sekarang.” Jawab Danu.
Cinta terdiam. Pikirannya jauh menerawang. Mungkin ini jawaban rinci dari pertengkaran yang dia dengar beberapa waktu lalu. Bangkrut. Cinta memeluk Rani dengan sangat erat.
“Kita akan mulai hidup yang lebi baik di sini.” Kata Cinta.
Rani dan Danu benar-benar merasa terharu. Dalam benak mereka sempat terpikir Cinta akan berontak dengan keadaan yang seperti ini. Tapi tidak. Sepertinya Cinta mulai belajar untuk memahami bahwa hidup tidak selamanya berada di atas.
Dalam rumah sederhana ini, terciptalah sebuah kehangatan. Di mana kasih seorang ibu tidak pernah lelah menyelimuti setiap sudut ruangan dan perhatian seorang ayah yang tidak pernah kurang. Cinta kini berubah menjadi gadis yang periang dan penuh pengertian. Tidak ada hura-hura, namun penuh tawa canda.
Memulai sebuah usaha dari bawah. Danu mengadu keberuntungan dengan menjadi seorang buruh bangunan, sedangkan Rani dan Cinta mengumpulkan kepingan rupiah dari hasil jualan sayur di pasar. Allah tidak akan menguji seseorang hingga luar batas kemampuan orang tersebut. Dengan kerja keras dan hati yang selalu berserah kepada Tuhan, Allah memberikan sebuah kemudahan untuk keluar dari permasalahan. Hasil sebuah usaha tidak ada yang sia-sia. Kini Danu dan istrinya dapat membeli sejengkal tanah untuk tempat usaha mereka. Mulanya hanya membangun sebuah warung kecil kemudian dalam waktu singkat berubah menjadi restoran sederhana yang setiap harinya tidak liput dari serbuan pembeli.
Kehidupan yang lebih baik kini mereka dapatkan, meski tidak lagi tergolong orang terpandang yang bergelimang harta. Namun di sinilah Danu dan keluarganya dapat merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
***
Hari bahagia kini akan segera tiba. Ulang tahun Cinta yang ke dua puluh satu tahun. Di mana pada ketika itu, Cinta dapat kembali kepada Marani Tonga-ibu kandungnya.
“Besok kamu sudah dapat kembali kepada ibumu, Cinta.” Kata Rani.
Cinta terkejut, “Kalian sudah tidak menginginkan kehadiranku lagi?” tanya Cinta seraya menatap Danu dan Rani.
“Bukan itu maksud kami. Kami hanya tidak ingin lebih lama menyiksa bathin Marani. Ibumu pasti sangat merinduknmu. Kamu mengerti kan maksud kami?” kata Rani.
Meskipun Danu dan Rani bukanlah orangtua kandung Cinta, tapi Cinta sudah sangat menyayangi mereka. Sungguh berat jika harus berpisah dengan orang yang selama ini ikut mewarnai hari-hari kita.
“Kami tetap akan menjadi orangtuamu. Kasih sayang kami tidak akan berkurang buat kamu.” Kata Rani lagi.
“Benar Cinta. Kami yakin kamu juga sangat merindukan ibumu.” Kata Danu.
Tanpa disadari air mata Cinta menetes.
Malam itu juga Danu, Rani dan Cinta mempersiapkan perlengkapan untuk terbang menuju Batak pada keesokan harinya.
“Cinta takut ini akan menjadi malam terakhir Cinta bersama kalian.” Kata Cinta seraya mengemas pakaiannya ke dalam koper besar.
Rani tersenyum. “Tenang putriku. Kekalipun kita jauh, tapi kasih sayang kami tidak akan pernah lelah menerangi hidupmu.” Kata Rani.
Suasana haru sangat terasa di rumah itu.
Mereka menghabiskan malam bersama, seakan tidak ingin kehilangan satu detik pun kebahagiaan yang mungkin tidak akan mereka rasakan lagi.
Jarum jam terus berputar. Malam berganti pagi yang dingin. Itulah Bandung, namun semua itu tidak menghalangi keberangkatan mereka menuju Batak.
“Tunggu sebentar, sayang. Kami akan ke luar.” Kata Rani.
Seraya menunggu Cinta bersiap-siap, Danu dan Rani hendak menyiapkan sebuah kado kecil. Dengan senyum bahagia Danu dan istrinya meninggalkan rumah.
“Untunglah kita sudah dapat mengumoulkan uang untuk membelikan Cinta gaun itu.” Kata Danu.
Danu dan Rani membelikan sebuah gaun berwarna kuning tua untuk Cinta. Itu adalah gaun yang sangat indah, meskipun harganya tidak seberapa dibandingkan dengan gaun yang dulu dapat mereka belikan setiap harinya.
Dengan perasaan berbunga-bunga tidak sabar ingin memberikan gaun yang sudah dibungkus dengan kotak kado dan pita kecil di tengahnya, Danu dan Rani meninggalkan toko dan melangkah dengan cepat. Sungguh, ini adalah adegan di luar skenario mereka. Sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi datang dari arah selatan.
Duak…!!!
Kado yang disiapkan terlempar jauh entah kemana.
Semua rencana yang sudah diatur sesempurna mungkin kini harus berakhir. Tiada lagi penerbangan menuju Batak, tiada kado istimewa yang mereka berikan untuk Cinta dengan cara yang luar biasa. Semua tinggal kenangan, hanya akan menjadi rencana yang tak mungkin kunjung menjadi nyata.
Hari bahagia, kini berselimut kabut duka, hari yang dinantikan ternyata hanyalahakan menjadi sebuah sejarah kematian.
Mendengar orangtuanya mengalami kecelakaan, Cinta berlari setengah tidak sadar ke tempat kejadian. Setibanya di sana, dia mendapati dua tubuh yang ditutupi koran tergeletak di aspal dengan darah segar yang masih bercucuran.
Hancur.
Cinta ingin segera menyusul Dani dan Rani. Cinta merasa sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Orang yang dia sayang kini telah tiada dan benar, tadi malam adalah malam terakhir untuk melihat senyum kedua orang tuanya.
Menatap raga tak bernyawa, muncul jutaan sesal di hati Cinta.
“Aku belum sempat membahagiakan kalian.” Bathinnya.
Teringat akan semuanya, ketika dirinya yang masih polos baru menginjakan kaki di Bandung. Dulu, Danu dan Rani selalu membawa Cinta ke alun-alun kota hanya sekedar untuk menikmati panorama senja. Hari-hari mereka selalu di liputi rasa bahagia. Dimaja ketika si manja minta dibuatkan susu sebelum tidur dan Danu yang selalu membuat lelucon-lelucon seru pada waktu malam. Semua terasa baru kemarin terjadi. Kini, tiada lagi sosok ibu yang dapat menjadi teman curhat, tidak ada lagi seorang ayah yang dapat menjadi pelindung dirinya.
Rasa rindu dan sesal terus berkecamuk di dalam hati Cinta.
SESAL-itu perasaan yang paling paling besar.
Menyesal karena belum sempat membahagiakan orang yang telah membesarkannya, sesal karena sudah sering mengecewakan orang yang menaruh harapan besar pada dirinya, juga sesal belum dapat membalas sgala kebaikan Danu dan Rani.
Tidak hentinya Cinta menangis histeris. Hatinya kini terasa jauh lebih sakit dibandingkan dengan ketika dia kehilangan semua harta kemewahannya. Cinta benar-benar tidak memiliki siapa-siapa. Nick, yang sempat menjadi pangeran dalam hidupnya hingga kini menghilang entah di mana. Dalam keadaan seperti ini, justru Nisa yang datang mengulurkan tangannya untuk membangkitkan Cinta dari keterpurukan.
“Aku tidak memliki siapa-siapa lagi. Gak ada gunanya aku hidup, Nisa.” Ucap Cinta getir.
Nisa merangkul sahabatnya. “Masih ada aku, Cinta. Kamu juga masih memiliki Allah. Dia tidak akan meninggalkanmu.” Kata Nisa. “untuk sementara ini, kamu bisa tinggal di rumahku.”
Cinta tidak menjawab apa-apa. Dia hanya bisa menangis seraya memaki Tuhan yang sama sekali tidak dikenalnya. Namun setelah Nisa memintanya berulang-ulang, barulah Cinta menjawab dengan sebuah anggukan.
Dengan tangan terbuka kedua orangtua Nisa menerima kehadiran Cinta. Mereka sama sekali tidak keberatanCinta tinggal di rumah mereka. Di rumah Nisa hanya ada tiga kamar. Dua kamar di bawah dan satu kamar di atas. Namun Cinta tidur di kamar atas bersama Nisa karena dua kamar yang ada di bawah milik orangtua Nisa dan adiknya.
Untuk saat ini keadaan Cinta masih sangat rapuh dan labil. Tidak ada satu orang pun yang dapat menyadrkan Cinta dari dunianya yang kini dipenuhi dengan ilusi. Diam-diam dalam keadaan yang masih guncang, Cinta sering memperhatikan rutinitas Nisa yang cukup asing baginya. Setiap malam, Nisa selalu terjaga dari tidurnya dan mendirikan shalat malam. Nisa selalu bangun pagi tidak lebih dari jam empat dini hari. Jilbab panjangnya tidak pernah dilepas ketika ada orang lain yang bukan muhrim, padahal rambut Nisa hitam panjang dan indah. Shalat lima waktu tidak pernah sekalipun ditinggalkan. Membaca Al-Quran pun sepertinya sudah menjadi suatu kebiasaan.
“Shalat dulu, Cinta!” kata Nisa dengan ramahnya.
“Shalat?” tanya Cinta.
Nisa mengangguk seraya tersenyum.
“Untuk apa?” tanya Cinta. “Apa dengan shalat kedua orangtua ku bisa kembali?” tanya Cinta lagi.
Nisa duduk di samping Cinta dan menjelaskan kepada Cinta bahwa shalat merupaka suatu kewajiban umat muslim dan tidak ada alasan untuk meninggalkannya kecuali yang empat hal, yaitu tertidur yang bukan disengajasehingga tertinggal waktu shalat, namun tetap harus melaksanakan shalat ketika ia terjaga. Benar-benar lupa dan harus melaksnakannya ketika ingat, mabuk atau pingsan dan harus melaksanakan shalat ketika sudah sadar, dan yang terakhir akhwat yang sedang haid atau nifas dan tidak perlu mengqodho’ shalat yang ditinggalkanselama haid atau nifas.
“Tapi Tuhan yang selalu kamu agungkan itu sudah bersikap tidak adil kepada ku. Dia telah merampas semua yang aku miliki.” Ujar Cinta dengan kesalnya.
“Cinta, tidak ada satupun yang bisa berbuat lebih adil dari Allah. Dalam setiap ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada hambanya akan selalu terselip hikmah dibalik semua itu. Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambanya. Percayalah! Akan ada jalan untuk keluar dari semua ini dan Allah telah menyiapkansebuah rencana terindah untukmu. Bahkan akan lebih indah dari yang kamu bayangkan.” Jelas Cinta kepada sahabatnya itu.
Namun entah apa yang salah dengan yang Nisa ucapkan. Tiba-tiba Cinta berlari ke luar rumah seraya meneteskan air mata. Sesegera mungkin Nisa mengejar Cinta.
“Kamu kenapa, Cinta?”tanya Nisa. “Apa ada yang salah denganku? Atau ucapanku tadi telah menyinggung perasaanmu?”
Cinta menggelengkan kepalanya.
“Lalu kamu kenapa?” tanya Nisa. “Apa yang membuatmu menjadi menangis seperti ini?”
Tampak Cinta menahan tangisnya dan berkata, “Aku iri sama kamu.”
Nisa benar-benar terkejut mendengarnya. “Maksud kamu apa?”
“Aku merasa Tuhan lebih menyayangimu.” Jawab Cinta.
Nisa benar-benar merasa bingung apa yang harus dia katakan.
“Kamu memang lebih pantas disayang Tuhan karena kamu adalah orang suci. Sedangkan aku, aku tidak bisa sepertimu. Aku hanyala seorang mantan pemakai narkoba, aku punya masa lalu yang suram, pecinta dunia malam. Aku tidak pantas bersimpuh memohon pertolongan Tuhan seperti yang selama ini kamu lakukan dan kamu ajarkan. Tuhan sudah sangat muak kepadaku, Dia tidak mungkin mendengarkan pintaku. Jangankan untuk memberi, apa yang selama ini aku miliki pun Tuhan tega mengambilnya.” Ujar Cinta tidak dapat menyeka air matanya lagi.
“Istighfar Cinta. Semua yang kamu katakan itu tidak benar. kita bisa memulai semuanya dari awal. Kamu harus bersyukur memiliki masa lalu. Kamu ingat apa yang dikatakan guru kita waktu SMA dulu?” tanya Nisa
“Apa?” tanya Cinta seraya menatap Nisa dengan matanya yang sayu.
“Orang yang memiliki masa depan adalah orang yang memiliki masa lalu itu artinya masa depan milik kamu Cinta. Dan masa depan kamu akan penuh dengan bahagia.” Jelas Nisa. “Jangan menangis seperti ini. Kita Allah sangat menyayangimu. Itu alasannya Allah menguji kamu karena Dia tahu kamu adalah orang yang tegar dan kuat.”
“Benarkah?” tanya Cinta.
Nisa menganggukan kepalanya seraya menatap Cinta yang berharap kepastian darinya.
“Tentu Cinta.” Jawab Nisa.
Sebisa mungkin Nisa membujuk Cinta untuk kembali tersenyum. Sampai akhirnya sebuah senyum hampa merekah dari bibir Cinta.
“Tidak ada satupun di dunia ini yang luput dari dosa. Namun Allah itu Mahapengampun dan penerima taubat asalkan ada niat dalam hati dan azzam untuk menjauhi semua larangan Allah dan melaksanakan segala perintahnya. Aku yakin Allah akan membantu kita untuk dapat terus berjalan lurus dalam ridha-Nya.” Jelas Nisa.
Dalam sebuah hadist Qudsi, Allah SWT berfirman,
“Jika kamu datang kepada-Ku, pasti aku menerimamu. Jika kamu datang pada malam hari, Aku pun akan menerimamu. Jika datang pada siang hari, Aku akan menyambutmu. Jika kamu mendekat satu jengkal tangan saja, maka Aku akan mendekatimu satu hasta. Jika kamu mendekati-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadamu satu depa. Jika kamu menemui-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku akan menemuimu dengan berlari. Sekiranya kamu kembali bertaubat kepada-Ku dengan membawa segudang dosa selain syirik, niscaya Aku akan datang dengan segudang ampunan pahala untukmu. Jika dosa-dosamu mencapai puncak gunung atau ke awan sekalipun, kemudian kamu kembali kepada-Ku dengan memohon ampunan, maka pasti Aku akan mengampunimu. Tidak ada yang lebih pemurah dariku. Aku Mahakaya dibanding yang lain.
Orang yang meninggalkan sesuatu karena Aku, maka aku akan memberikannnya lebih dari yang dia butuhkan. Siapa yang ingin ridha-Ku, maka Aku akan memenuhi dari yang kamu mau. Orang yang melakukan sesuatu atas dasar daya dan kekuatan-Ku, maka besi sekalipun akan Aku lunakkan untuknya. Ahli dzikir dan ahli syukur adalah kekasih-Ku. Orang-orang yang bermaksiat kepada-Ku, tidak akan aku putuskan rahmat-Ku. Jika mereka kembali kepada-Ku, maka Aku adalah kekasih mereka. Aku sungguh mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersuci. Jika mereka belum bertaubat, maka Aku adalah dokter mereka. Aku memberi ujian kepada mereka, agar mereka dapat membersihkan aib dan kesalahan mereka. Orang yang lebih mendahulukan Aku daripada yang lain, maka Aku akan mendahulukannya dari yang lain.
Satu kebaikan dari-Ku bernilai sepuluh bahkan bisa mencapai tujuh kali lipat dan seterusnya. Satu kejahatan dari-ku bernilai satu. Jika hamba-Ku menyesal dan meminta ampunan, maka Aku akan mengampuninya. Aku sangat menyambut baik amal saleh walau sedikitaku akan memberikan ampunan kepada orang yang mau kembali kepada-Ku. Rahmat-Ku lebih Aku dahulukan daripada murka-Ku. Kasih sayang-Ku jauh lebih Aku inginkan dari siksa-Ku. Ampunan dari-Ku lebih Aku cintai dari siksa-Ku. Aku jauh lebih sayang kepada hamba-hamba-Ku daripada seorang ibuyang mencintai anaknya.
Tidak hentinya air mata Cinta berlinang. Dia merasa bahwa dirinya adalah orang paling hina yang tidak pantas memohon pertolongan Tuhan. Hingga selama ini Cinta tidak pernah berani menyebut nama Tuhan.
“Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat.” Ucap Nisa.
Ada tiga modal utama untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Pertama, doa dan harapan, dengan menghadirkan hati, merintih dan hanya memohon kepada Allah serta yakinkan hati bahwa hanya Allah yang dapat memberikan ampunan. Kedua, beristighfar, meskipun banyaknya dosa sampai setinggi awan di langit. Dimulai dengan memuji keagungan Allah serta memohon ampunan kepada-Nya. Ketiga, bertauhid (menegaskan Allah SWT), karena tauhid adalah modal utama dikabulkannya doa.
Meski masih merasa pesimis, namun akhirnya hati cintapun terbuka untuk memulai lembaran baru yang lebih baik lagi. Masa lalu Cinta memang suram dan tidak ada satu orangpun yang dapat menghapus masa lalu seseorang. Lembaran hidup itu seumpama kaca. Jika sudah pecah mungkin dapat direkatkan kembali, namun retakannya akan tetap terlihat. Seperti nasi yang telah menjadi bubur, tidak akan dapat kembali seperti semula.
(Jadi lebih baik kita menjadikannya bubur ayam biar lebih enak… he… betul…betul…betul…)
Sama halnya dengan suratan hidup yang harus Cinta jalani. Meskipun bayang-bayang masa lalu masih melekat hebat di dalam ingatannya, namun sejarah tidak dapat terhapus meski alurnya tidak tertulis dalam sebuah narasi. Sehina apapun seorang hamba, anda ia mau berusaha dan menghadirkan niat yang kuat untuk kembali ke jalan Allah, maka bukanlah hal yang tidak mungkin ia akan menjadi kekasih yang sangat dicintai oleh Allah.
***
Dengan penuh kesabaran, Nisa membantu Cinta untuk memperbaiki hidupnya. Untunglah saat ini hati Cinta telah terbuka untuk menatap agungnya agama. Mulailah, Cinta mengenal siapa itu Tuhan, apa kewajiban seorang hamba kepada penciptanya, dan bagaimana seharusnya dia memperlakukan dan menempatkan Al Quran.
Malam itu, seperti biasa, Nisa membantu ibunya menyiapkan makan malam. Sementara Cinta berada di dalam kamar seorang diri, tidak jelas apa yang sedang dia kerjakan di dalam. Terkadang dia tersenyum takjub menatap wajahnya yang jelita dicermin, namun terkadang dia menangis dan seakan muak menatap dirinya sendiri. Entahlah, tidak ada yang tahu apa yang sedang ada dalam benak Cinta. Mungkin juga dia masih merenungi masa lalunya yang suram.
Ditatapnya foto Nisa yang dipajang di dekat tempat tidur. Nisa tampak begitu cantik meski tidak secantik dirinya. Tapi satu yang membuat hati Cinta bertanya-tanya,laki-laki yang dapat mencintai Cinta dengan tulus seperti Lukman yang selalu setia dan menjaga fitrah Nisa sebagai seorang perempuan. Semua hanya menggoda Cinta, tidak ada yang benar-benar tulus mencintainya.
“Jilbab?” gumam Cinta.
Diam-diam diraihnya sebuah jilbab berwarna hijau tua yang digantung tepat di belakang pintu kamar. Cinta kembali berjalan ke depan cermin. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, kalau-kalau ada orang yang melihat apa yang akan dia lakukan. Dengan penuh keraguan, Cinta mencoba mengenakan jilbab itu. Dia duduk di kursi depan cermin seraya menatap wajahnya yang indah.
Cinta mengusap air matanya. Dia tersenyum seorang diri “Akukah ini?”
Tanpa Cinta sadari, tahu-tahu Nisa datang.
“Subhanallah, Cinta. Kamu cantik sekali.” Ujar Nisa merasa takjub.
Cinta sangat terkejut. Segera ia hendak melepas kembali jilbabnya.
“Jangan dilepas, Cinta. Kamu sungguh jauh lebih cantik.” Puji Nisa.
Cinta tersipu malu. “Kamu tidak marah? Ini kan jilbab kamu.”
Nisa menggelengkan kepalanya. “Aku malah senang Cinta. Apalagi seandinya kamu mau mengenakan jilbab ketika ke luar rumah.”
Hati Cinta bergetar. Seakan hidayah dari Tuhan turun pada saat itu.
“Aku juga ingin mengenakan jilbab seperti kamu, Nisa.” Bathin Cinta.
“Mengapa tidak ada yang bisa mencintai aku dengan tulus?” tanya Cinta tiba-tiba.
Nisa diam. Dengan bijaknya Nisa berkata, “Suatu hari nanti kamu akan menemukan ikhwan yang selama ini kamu impikan.” Jawab Nisa.
“Tapi selama ini, semua laki-laki hanya menggodaku. Tidak ada yang mau menghargai aku seperti mereka menghargai kamu.”
“Itu karena kamu cantik, Cinta dan alangkah mulianya jika kamu dapat menghargai menjaga dan melindungi kecantikan yang Allah anugerahkan. Jangan biarkan mata yang tidak berhak menikmati keindahan itu.” Ujar Nisa sangat bijak.
Cinta merasa apa yang dikatakan Nisa ada benarnya juga. Namun pertanyaannya tidak cukup sampai di sini. Berkali-kali Cinta mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar.
“Apa jika aku menjadi orang baik, itu akan menghapus dosa-dosaku yang telah lalu?” tanya Cinta dengan mata berkaca-kaca.
“Insya Allah.”
Dalam Musnad Ahmad, Hqbah bin Amir mendengar Rasulullah saw bersabda,
“Perumpamaan orang yang mengerjakan dosa kemudian mengerjakan amal kebaikan sama seperti seorang laki-laki yang dihimpit baju besi. Sehingga, baju besi itu mencekik tubuhnya. Namun setelah mengerjakan amal kebaikan, satu persatu himpitan itu akan mengendur hingga ia bisa keluae ke muka bumi.”
Kini Cinta menyadari kesalahan yang dia lakukan selama ini. Melupakan Tuhan dan larut dalam kenikmatan dunia yang sesungguhnya hanyalah fatamorgana. Selama ini dia telah terbuai dalam bujuk rayu syetan. Azzam dalam hati Cinta semakin bulat untuk memperbaiki semuanya. Dia ingin berubah, tidak ingin lebih lama lagi tenggelam dalam lembah yang kelak dapat mengantarkannya ke depan gerbang neraka.
cinta ingin menata hidupnya kembali.
Seperti yang baru terlahir kembali. Kini, menjelmalah Cinta sebagai orang baru. Sangat jarng Cinta memperlihatkan rambutnya yang panjang bergelombang dan tidak pernah lagi dia memamerkan bentuk tubuhnya yang indah. Sekarang Cinta lebih suka menutupi auratnya. Meskipun busana muslim yang dia kenakan masih modis dan sedikit membentuk lekuk tubuh. Bukan hanya itu, kini Cinta tidak pernah meninggalkan kewajibannya mendirikan shalat, bersimpuh dan memohon ampunan kepada Allah.
***
Dengan semangat baru, Cinta kembali beraktivitas. Dia meneruskan usaha Danu dan Rani mengelola restoran yang sederhana dan terkadang dibantu Nisa-sahabat baiknya.
Siang itu, restoran yang diberi nama Dian Cinta tampak begitu sepi, tidak seperti biasanya. Hanya ada dua pengunjung. Pasangan muda mudi yang duduk di meja nomor empat. Itupun hanya sekedar minum. Suasana ini membuat semangat Cinta kembali kendur. Rasa Kantuk kerap kali datang menghampiri. Membuat Cinta menguap berkali-kali sampai akhirnya Cinta tertidur di kursi.
Belum lama.
(Baru “ngalenyap” kalau kata orang Sunda.)
Tiba-tiba seseorang datang dan membangunkannya
Cinta terperanjat, setengah tidak sadar. Dia mengusap wajahnya dengan lap meja. Orang yang membangunkan Cinta tampak berusaha menahan tawanya.
“Ada apa?” tanya Cinta heran.
Orang itu masih berusaha menahan tawanya. Kemudian mengulurkan tangan memberikan sapu tangan. “Lebih baik pakai ini. Lebih bersih.” Katanya.
Cinta terdiam memikirkan apa maksud perkataan orang itu.
“Apa?” tanya Cinta.
“Tuh.” Jawab orang yang belum Cinta kenal itu seraya menunjuk pada lap.
Setelah menyadari apa yang dilakukan dirinya, alhasil wajah Cinta menjadi merah seperti buah tomat yang baru dipetik dari tangkainya.
“Bukankah itu lap meja, Nona?” tanya pemuda kekar itu.
Cinta menyembunyikan rasa malu di balik senyumnya. Cinta terlihat salah tingkah. “Anda pesan apa?” tanya Cinta.
“Sepertinya jus apel puji sangat cocok untuk hari ini.” Jawab pemuda itu.
“Kenapa?” tanya Cinta.
“Warna merahnya sama dengan Anda.” Jawabnya seraya berbalik badan menuju kursi yang paling dekat dengan jendela.
Cinta merasa dongkol meski sebenarnya Cinta bahagia ada ornag yang dapat membangkitkan semangatnya.
Tidak lama, jus apel segar sudah siap.
“Semoga jus ini dapat memberi warna yang lebih indah untuk hari Anda” kata Cinta.
“Warna di hari saya kan?” tanya orang itu. “Kalau diwajah saya tidak mau. Karena saya tidak ingin menjadi s aingan Anda.”
Cinta benar-benar heran kepada orang itu. Baru pertama bertemu sudah bergurau stidak jelas seperti ini. Bahkan wajah merah Cinta pun selalu dia bahas.
“Diannova Abraham. Panggil saja Dian.” Kata orang itu seraya mengulurkan tangan.
Cinta terdiam.
“Boleh saya tahu nama Anda?”
Cinta menyambut tangan Diannova Abraham. “Cintiya Thumbelina.”
“Nama yang indah, Cintiya.” Kata Diannova.
“Makasih. Anda cukup memanggil saya Cinta.” Kata Cinta. “Baiklah, saya rasa saya harus segera kembali ke tempat saya.” Tambahnya.
Diannova hanya mempersilahkan dengan senyuman.
“Orang aneh.” Bathin Cinta.
Usai menghabiskan minumannya, Diannova langsung pergi. Begitu dan begitu lagi seterusnya. Setiap hari Diannova datang ke restoran itu hanya sekedar untuk melepas lelah dan dahaga.
Suatu ketika tidak seperti biasanya, Diannova tidak datang seorang diri melainkan bersama dua orang perempuan. Perempuan yang satu bertubuh gemuk dengan rambut putih usianya mungkin sudah lebih dari setengah abad, sedangkan yang satu lagi perempuan cantik dengan tubuh semampai. Pakaiannya terbuka Cinta terus memperhatikan Diannova Abraham. Jantungnya berdetak sangat cepat.
“Siapa perempuan itu? Apa mungkin itu kekasih Diannova?” tanya Cinta dalam hati.
Ada rasa kesal dan kecewa. Seperti rasa cemburu seorang perempuan yang melihat kekasihnya sedang bersama perempuan lain. Cinta ingin marah, tapi dia tidak bisa melakukannya karena Cinta bukan siapa-siapa.
Hari ini sikap Diannova juga berbeda. Tidak lagi mengajak Cinta bergurau. Mereka hanya saling sapa seperlunya saja.
“Mungkin benar perempuan itu calon istri Diannova.” Bathin Cinta untuk kesekian kalinya.
***
Petang mulai menjelang. Saatnya restoran ditutup. Cinta hanya membuka restoran hingga pukul lima sore. Ini sengaja dilakukan agar Cinta masih sempat meluangkan waktunya untuk mengkaji ilmu agama.
Di rumah, Cinta tampak sangat murung. Tiada senyum dia berikan kepada penghuni rumah.
“Kamu kenapa Cinta? Seharian ini kamu memasang muka muram.” Tanya Nisa.
“Entahlah. Aku juga bingung.” Jawab Cinta datar.
“Ada masalah di restoran?” tanya Nisa lagi.
“Ah…aku heran, kenapa dia harus datang dengan perempuan itu?” kata Cinta tidak menyadari apa yang dia katakan.
Nisa tersenyum, “Dia? Siapa?” tanya Nisa penasaran.
Seperti biasa.ketika harus memrasa malu, wajah Cinta menjadi merah.
“Apa sih? Cuma becanda juga.” Kata Cinta.
Nisa tersenyum. Sebenarnya Nisa tahu benar dengan apa yang sedang terjadi pada sahabatnya itu. Sebuah kata cinta kembali bersarang di hati sahabatnya.
“Aku siap mendengarkan cerita kamu.” Kata Nisa seraya menatap sahabatnya.
Cinta diam. Kemudian berkata, “Hmm, tapi kamu janji tidak akan menertawakanku.”
“Siap. Ada apa?”
“Seminggu setelah aku kembali membuka restoran, ada seorang pemuda yang datang membawa sebuah kebahagiaan. Ketika itu aku tengah tertidur di restoran karena restoran sepi dari pelanggan. Tiba-tiba dia datang. Dia menyaksikan kebodohanku.” Kata Cinta seraya tersenyum membayangkan peristiwa itu.
“Kebodohan apa?” tanya Nisa penasaran.
Cinta menahan tawanya. Wajahnya kembali memerah seperti ketika pertama kali bertemu dengan Diannova.
“Aku mengusap wajahku dengan lap meja.” Jawabnya tersenyum.
“Lalu?” tanya Nisa semakin penasaran.
“Dia memberiku sapu tangan. Diannova Abraham. Nama yang bagus bukan?” tanya Cinta.
“Ya. Itu nama pemuda itu?”
Cinta mengangguk. “Saat aku melihat senyumnya, tiba-tiba hatiku bergetar. Semua gerak tubuhnya membuatku merasa nyaman. Diannova selalu datang ke restoran setiap hari dan dia selalu memesan jus apel. Sebelum memesan minuman, dia selalu berkata saya suka bentuk hati, karena dunia akan lebih berwarna dengan cinta. Buatkan saya jus apel merah segar seperti wajah orang yang ada di hadapan saya ini. Dia selalu datang tepat lima belas menit sebelum restoran tutup dan dia datang setiap hari. Tapi, tadi orang itu datang dengan wajah yang berbeda. Seperti bukan pemuda yang selama ini aku kenal. Tidak sekalipun dia menyapaku. Dia hanya memesan makan dan minum dengan nada yang sangat datar. Bukan hanya itu, dia juga datang dengan dua orang perempuan. Yang satu perempuan yang sudah menjelang lanjut usia dan seorang lagi perempuan cantik.” Kata Cinta.
“Dia seorang akhwat?”
“Aku rasa bukan. Rambutnya terurai panjang, pakaiannya juga sangat terbuka.” Jawab Cinta. “Nisa, aku sangat cemburu melihat mereka.”
“Kamu mencintai pemuda itu?”
“Tidak mungkin.”
“Aku rasa itu mungkin saja. Kamu sendiri tahu kan, Mulan Jamilah saja yang sudah punya dua anak bisa jatuh cinta lagi.” Gurau Nisa.
“Uh, kamu malah bercanda.”
“Tapi benar kan?” tanya Nisa.
Cinta hanya diam. Seperti yang dikatakan orang-orang, diamnya perempuan berarti “ya”.
“Kalau boleh, besok aku akan menemanimu di restoran. Aku ingin tahu siapa pemuda itu.” Kata Nisa.
“Ya, ikutlah besok denganku.”
***
Keesokan harinya, seperti biasa. Diannova Abraham datang ke restoran. Seorang diri.
Segera Cinta memberitahu Nisa.
“Dia orang yang aku maksud.” Kata Cinta.
Tampak Nisa sangat terkejut “Jadi orang itu?”
“Kamu mengenalnya?” tanya Cinta.
“Aku tahu dia dari cerita teman kuliahku.”
“Dapatkah kamu menceritakan siapa pemuda itu?” tanya Cinta. “Sungguh, hatiku damai melihatnya.”
“Jaga pandanganmu, Cinta. Jangan biarkan apa yang ditangkap oleh matamu bercampur dengan nafsu.” Kata Nisa mengingatkan.
“Astaghfirullah. Terima kasih telah mengingatkanku, Nisa.”
“Cinta aku sedikit banyak tahu tentang dia. Aku harap kamu mengerti apa yang akan aku katakan nanti.” Kata Nisa. “ Diannocva adalah seorang mahasiswa dari luar negeri yang sedang melakukan penelitian di sini.”
“Sepertinya dia orang hebat.” Kata Cinta.
“Bukan hanya hebat, tapi sangat hebat. Banyak yang kagum kepadanya. Tapi aku berharap kamu akan mendapatkan pendamping yang lebih baik dari dia.”
“Apa maksudmu?”
“Yang dibutuhkan seorang akhwat adalah ikhwan yang bisa dijadikan imam dalam rumah tangga. Sebagai penuntun untuk tetap berjalan lurus di jalan ynag diridhai Allah.”
“Afwan, aku sungguh tidak mengerti apa maksud perkataanmu itu.”
“Seperti yang kamu katakan, Diannova adalah seseorang yang sangat hebat. Diusianya yang masih sangat muda dia sudah mengelilingi beberapa negara untuk mencari kedamaian dalam hatinya. Berbagai ilmu dia kuasai dan berbagai agama dia gali hukum dan normanya.” Kata Nisa.
“Lalu apakah itu sesuatu yang salah?” tanya Cinta.
“Diannova adalah orang yang tidak beragama.” Kata Nisa setengah berbisik.
Cinta terdiam seakan tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.
Sejenak Cinta meneteskan air mata ketika dia terkenang masa lalunya yang sama sekali tidak mengenal Tuhan. Cinta merasa Diannova tidak ada beda dengan dirinya. Sungguh kelam jalan hidup Cinta dulu. Cinta kembali membasuh pipinya dengan air mata. Rasanya sesal itu tidak pernah ada habisnya ketika bayang-bayang dosa terus menghantui fikiran Cinta. Dia merasa sangat takut dengan azab Tuhan.
Sungguh, Cinta sangat menyayangkan dengan apa yang terjadi dengan sosok yang sangat dikaguminya. Namun Cinta tidak dapat membohongi perasaannya bahwa dia telah jatuh cinta kepada Diannova Abraham.
“Tidak. Aku tidak boleh mencintainya.” Bathin Cinta terus berkata.
Namun apalah daya, tidak ada satu pun makhluk yang dapat menolak kehadiran cinta. Hampir setahun Cinta hanya terpaku dalam harapan kosong. Cintanya kepada Diannova seolah hanya fatamorgana. Sekalipun Diannova Abraham telah menjadi pelanggan tetap di restorannya, Diannova Abraham tidak pernah sekalipun menunjukan rasa yang berbeda kepada Cinta. Tampaknya Dian sama sekali tidak mengetahui peasaan Cinta.
(Pengalaman pribadi.. cinta terpendam itu menyakitkan lho… asli… percaya deh.)
Pada dasarnya Cinta adalah gadis yang kuat dan tegar. Cinta meyakini suatu saat Allah akan memberikan jalan terbaik untuk dirinya. Cinta juga percaya bahwa Diannova akan dapat membukakan pintu hatinya untuk menerima islam dan memeluk Al Qur’an sebagai pedoman dalam hidupnya. Seperti ketika Allah memberikan rahmat kepada Cinta hingga dia dapat mengambil hikmah dari kejadian yang menimpa keluarganya.
Tidak diduga. Hari itu, restoran yang biasanya ramai oleh pengunjung kembali sepi seperti ketika pertama Cinta bertemu dengan Diannova Abraham. Hanya ada beberapa orang di sana. Hari sore tampak mendung, tetes demi tetes air mata langit menitik membasahi taman restoran, semilir angin senja membawa dingin menusuk ke dalam tulang. Tiba-tiba terlihat seseorang berdiri di depan pintu masuk restoran.
“Diannova?” gumam Cinta.
Cinta berdiri dan bergegas menghampiri orang yang berdiri di mulut pintu itu.
“Diannova Abraham? Tidakkah Anda ingin memesan kopi untuk menghangatkan badan?” tanya Cinta.
Orang itu berbalik badan.
“Hujan lebat. Saya hanya ikut berteduh sebentar.” Kata pemuda itu.
Alangkah terkejutnya Cinta ketika terlihat orang yang ada di hadapannya bukanlah Diannova Abraham.
“Anda memanggilku siapa tadi?” tanya pemuda itu.
“Oh, tidak. Itu tidak penting. Lupakanlah!” jawab Cinta.
Beberapa menit kemudian, barulah hujan reda. Pemuda itu pergi meninggalkan restoran. Cinta memperhatikan kepergian pemuda itu.
“Tidak ada miripnya dengan Diannova Abraham. Tapi mengapa aku sapai salah orang?” tanya Cinta dalam hati.
Sekali lagi Cinta melihat ke mulut pintu. Kembali dilihatnya seorang pemuda berdiri di depan.
“Diannova Abraham?” bathinnya lagi.
Cinta tersenyum merasa sangat bahagia dapat kembali melihat Diannova Abraham datang ke restorannya.
“Ah, aku rasa itu bukan Diannova Abraham. Penglihatanku memang sudah eror.” Bathinnya.
Pemuda itu mendekat kemudian berkata, “Saya suka bentuk hati, karena dunia akan lebih berwarna dengan cinta. Buatkan saya jus apel merah segar seperti wajah orang yang ada di hadapan saya ini.”
Cinta terkejut. Itu benar-benar Diannova Abraham.
Cinta tersenyum, “Lima belas menit lagi restoran akan ditutup. Secepatnya minuman yang Anda pesan akan segera sampai di meja Anda.”
(Sedang hujan seprti itu memesan jus. Aneh gak sih..? apa gak makin dingin tuh?)
Kurang dari lima menit jus yang dipesan Diannova Abraham sudah siap.
“Minuman dingin di musim hujan. Selamat menikmati.” Kata Cinta seraya menyajikan jus apel.
“Saya ingin sedikit ngobrol dengan Anda. Anda sedang tidak sibuk kan?” kata Diannova Abraham.
“Ada apa? Apakah itu penting?” tanya Cinta.
“Duduklah!” kata Diannova Abraham.
Meski ragu, Cinta akhirnya duduk di hadapan Diannova Abraham.
Diannova Abraham diam sampai akhirnya berkata.
“Maaf sebelumnya, saya hanya ingin lebih mengenal Anda.” Kata Diannova Abraham.
Cinta salah tingkah. Wajahnya kembali merah seperti yang dikatakan Diannova Abraham, merah seperti apel merah yang segar.
Diannova memulai pembicaraan. Seakan tengah mengumpulkan data sebuah penelitian, atau lebih tepatnya seperti seorang polisi yang sedang menyelidiki kasus kriminal, Diannova Abraham mengajukan begitu banyak pertanyaan kepada Cinta. Mulai dari perjalanan hidup Cinta, hingga soal agama.
“Islam mengajarkan saya arti hidup yang sesungguhnya dan kehidupan yang akan terjadi setelah mati.” Jawab Cinta ketika ditanya tentang islam.
“Apakah Tuhan Anda selalu bersikap baik dan adil?”
Cinta menatap Diannova Abraham dan menganggukkan kepalanya.
“Dia selalu memberikan yang Anda pinta?” tanya Diannova Abraham.
Dengan bangga Cinta berkata, “Allah tidak selalu memberikan apa yang aku inginkan, tapi Dia selalu memberikan apa yang aku butuhkan.”
Diannova Abraham tampak sangat memperhatikan setiap kata yang terucap dari mulut Cinta.
“Ada apa Anda mempertanyakan tentang keyakinan saya ini?” tanya Cinta.
Diannova Abraham tersenyum, “Hanya sekedar untuk menambah wawasan saja.” Jawab Diannova Abraham. “Satu lagi pertanyaan saya. Masih bersedia untuk memberi jawaban?” tanya Diannova Abraham.
“Ya. Silahkan.” Kata Cinta.
“Apakah orangtua Anda yang mengajarkan Anda untuk menjadi seorang muslimah seperti ini?” Kata Diannova Abraham.
Cinta meundukan kepalanya. Tampak pertanyaan itu membuat Cinta kembali teringat kesedihan hatinya.
“Maaf. Apa ada yang salah dengan pertanyaan saya tadi?”
Cinta mengangkat kepalanya sejenang tengadah menatap langit-langit restoran kemudian berkata, “Tidak perlu minta maaf.” Kata Cinta. “Saya baru dua tahun ini merasakan hidup dan mempunyai kehidupan.” Tambahnya.
Diannova mengerutkan dahinya, “Maksud Anda?”
“Saya dibesarkan oleh pasangan dermawan kaya tapi saya sama sekali tidak mengenal agama. Orangtua kandung saya bercerai ketika saya masih kecil. Ibu saya adalah orang yang sangat terikat oleh adat dan tradisi. Sekarang ibu saya ada di Batak. Saya menjadi seperti ini dengan bantuan sahabat saya dan tentunya dengan ijin dari Allah. ”
“Lalu ayah Anda?”
“Saya tidak tahu pasti di mana keberadaannya. Kabar terakhir yang saya dengar, ayah saya kembali ke negara asalnya. Arab.” Jelas Cinta.
Tampak Diannova Abraham sangat terkejut, “Ayah Anda seorang Arab?” tanya Diannova Abraham.
“Ya.” Jawab Cinta.
‘Lalu apa maksud Anda baru merasakan hidup dan mempunyai kehidupan?”
“Karena saya baru dua tahun ini mengenal Allah.”
Percakapan terjadi cukup lama. Hingga Cinta tersadar dia telah menghabiskan banyak waktunya bersama Diannova Abraham.
“Astagfirullah. Maaf, saya harus segera kembali melanjutkan pekerjaan saya.” Kata Cinta.
“Iya. Terima kasih.” Kata Diannova Abraham.
Cinta kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sungguh tidak terbayangkan sebelumnya dapat berbicara sedekat itu dengan pujaan hatinya, meskipun selama percakapan tadi terkesan bagitu formal
***
Malam itu, Cinta melamun seorang diri. Cinta teringat pertanyaan Diannova Abraham sore tadi tentang orangtuanya. Dilihatnya kalender tahun ini kemudian mencoba menghitung hari.
“Tahun ini hampir berakhir.” Gumam Cinta.
Cinta terdiam.
“Apa yang sedang kamu pikirkan Cinta?’ tanya Nisa yang baru datang dari luar.
“Aku merindukan ibu. Sudah hampir dua tahun orangtuaku pergi.” Kata Cinta.
Ya. Rupanya Cinta begitu merindukan kehadiran Danu dan Rani, orang yang selama ini telah membesarkannya hingga menjadi dewasa kini.
“Perbanyak doa untuk orangtuamu.” Kata Nisa.
“Kamu beruntung masih punya orangtua yang menyayangimu di dunia ini.”
Nisa diam sesaat kemudian berkata, “Bukankah kamu juga masih punya ibu di kampung halamanmu?” tanya Nisa dengan mata berbinar.
Cinta menundukan kepalanya, “Batak itu tidak sempit. Aku tidak ingat di mana rumah ibuku.”
“Om Danu tidak pernah memberikan alamat orangtua kandungmu?”
Cinta menggelengkan kepalanya, “Mungkin aku tidak dapat bertemu dengan orangtuaku lagi.” Kata Cinta.
“Jangan bersedih hati Cinta, pasti akan ada jalan untuk bertemu dengan ibumu.”
“Aku ingin segera bertemu dengan ibu dan mati muda setelah memeluk dan merasakan kasih sayangnya.”
Nisa sangat terkejut mendengar ucapan Cinta, “Mengapa? Jangan bicara seperti itu Cinta!” kata Nisa.
“Aku tidak ingin menderita lagi. Jadi lebih baik aku mati satelah aku bertemu dengan ibu.”
“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu.”
“Sama halnya dengan aku. Aku pun tidak mengerti dengan jalan hidupku.”
“Jangan banyak mengeluh sahabatku!” kata Nisa. “Cinta kamu tahu di mana Bibi Jawiah tinggal sekarang?” tanya Nisa,
“Ya.”
Nisa tersenyum, “Aku rasa Bi Jawiah tahu di mana alamat orangtua kandungmu.”
Ya. Jawiah yang sudah puluhan tahun bekerja di keluarga Danu mungkin tahu di mana keberadaan orangtua Cinta.
Dengan hati berbunga-bunga penuh harapan bisa mendapatkan apa yang diinginkan, Cinta dan Nisa menemui Jawiah di rumahnya. Sepertinya keberuntungan masih berpihak kepada mereka. Ketika itu Jawiah tengah bersiap-siap untuk kembali ke kampung halamannya. Terlambat sedikit saja Cinta akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan alamat orangtuanya.
Jawiah memberikan secarik kertas yang sudah sedikit kumal kepada Cinta. Rupanya Jawiah masih menyimpan alamat Marani Tonga.
***
Inilah awal perjalanan Cinta dalam pencariannya. Tanpa membuang banyak waktu, Cinta memutuskan untuk segera menemui ibunya.
“Apa lagi yang kamu fikirkan?” tanya Nisa ketika melihat sahabatnya bermain-main dengan lamunan.
“Entahlah. Aku sangat ingi bertemu dengan ibu tapi di lain sisi aku tidak ingin meninggakan tempat ini sebelum Diannova mengetahui perasaanku padanya.” Jawab Cinta.
“Kamu berharap dia menjadi pendampingmu?”
Cinta tidak menjawab pertanyaan Nisa. Cinta hanya meneteskan air mata seakan dia begitu berat jika harus meninggalkan cerita sederhananya bersama Diannova Abraham.
“Agama kita mengharamkan pernikahan beda agama.” Kata Nisa.
“Aku yakin Diannova Abraham tidak akan selamanya seperti ini.”
“Maksud kamu?”
“Aku pernah berbicara dengan dia. Cukup lama. Dia tahu banyak tentang islam, dia sangat menghargai islam. Aku yakin dalam hatinya ada jiwa seorang muslim.”
“Aku pernah mengatakannya kepadamu. Diannova Abraham mendalami semua ilmu termasuk islam. Tapi dia sama sekali tidak memiliki Tuhan yang dia percaya.”
Cinta tersenyum dan berkata penuh keyakinan, “Allah pasti akan membantu menuntun langkah kakinya.”
“Amin. Semoga saja demikian.” Kata Nisa tidak yakin. “Lalu apa rencanamu sekarang?”
“Aku yakin besok Diannova Abraham akan kembali datang ke restoran. Aku akan mengatakan perasaanku padanya.”
“Kamu akan menjatuhkan harga dirimu di depan seorang laki-laki?”
“Ini bukan menjatuhkan harga diri, tapi mengungkapkan isi hati.”
“Apa gunanya dia tahu perasaanmu jika pada akhirnya kamu akan pergi dan kalian tidak bisa bersama dalam satu agama dan ikatan pernikahan? Pikirkan kembali rencanamu ini, Cinta.”
“Alur selanjutnya hanya Allah yang tahu. Aku hanya ingin bertemu dengannya sebelum aku pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi.” Kata Cinta masih tetap dengan senyum misteriusnya.
***
Semua berjalan seperti biasanya.
Cinta terus memperhatikan perputaran jarum jam dengan penuh pengharapan. Hingga sore kini menjelang.
“Lima menit lagi, Diannova pasti akan datang.” Bathin Cinta.
Dengan penuh kesabaran Cinta terus menunggu kedatangan Diannova Abraham. Namun nihil. Hingga restoran tutup Diannova Abraham tidak nampak batang hidungnya sedikit pun. Begitulah yang terus terjadi hingga hari ketujuh.
“Diannova Abraham tidak datang lagi ke restoran.” Kata cinta kepada Nisa.
“Sudahlah Cinta. Jangan membuang waktu untuk penantian ini! Aku rasa ini saatnya kamu menemui ibumu.” Kata Nisa.
“Aku akan menunggu Diannova satu hari lagi. Besok.” Timpal Cinta.
Tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Diannova Abraham tidak datang juga. Perasaan Cinta begitu galau. Ada perasaan takut jika keinginannya untuk bertemu dengan Diannova Abraham tidak akan terwujud.
Detik demi detik diperhatikan secara jeli. Cinta terpaku sendiri menanti kehadiran pujaan hati. Sebagai sahabat, Nisa begitu setianya menemani Cinta yang sedang galau. Tidak bosan Nisa terus berusaha menghibur Cinta. Yang dinanti belum juga nampak. Diannova Abraham yang biasanya selalu datang setiap hari tiba-tiba saja hilang tanpa kabar.
“Jika Diannova Abraham datang kamu yakin akan mengatakan perasaan mu itu?’ tanya Nisa.
Cinta mengangguk, “Tiada pilihan lain.” Katanya.
“Kalau itu dapat membuat kamu bahagia, lakukanlah!” kata Nisa. “Tapi tetaplah ingat dengan pesanku. Jangan biarkan cinta kamu kepada Diannova Abraham melebihi cintamu kepada Allah. Ingat, seorang akhwat harus mendapatkan pedamping hidup seorang ikhwan sejati. Bukan dari golongan lain.” Tambahnya.
Cinta memejamkan matanya, “Aku tahu. Aku juga yakin suatu saat Diannova akan menjadi seorang ikhwan sejati.” Kata Cinta sangat yakin.
“Kamu begitu yakin suatu hari nanti Diannova akan menjadi seorang mualaf. Apa kamu punya alasan?” tanya Nisa penasaran.
Cinta menghela nafas panjang kemudian berkata, “Setiap waktu aku selalu berdoa berharap suatu saat Diannova Abraham membukakan hatinya untuk islam. Hingga pada suatu malam aku pernah bermimpi Diannova Abraham datang menemuiku dengan sebagai seorang muslim. Dalam mimpi itu aku mengenakan baju putih yang indah.” Jelas Cinta.
“Apa yang kamu yakini dari mimpi itu?” tanya Nisa.
“Suatu hari nanti Diannova akan menemuiku lagi setelah dia memeluk agama islam dan baju putih itu, mungkin itu adalah baju pengantin.”
“Kamu meyakini dia adalah jodohmu?”
“Insya Allah.”
“Kejar cintamu selama yang kamu yakini itu benar!” Kata Nisa.
Cinta mengangguk, “Bukannya hari ini kamu ada janji dengan keluarga Lukman?” kata Cinta mengingatkan.
“Astagfirullah, hampir saja aku melupakannya.” Kata Nisa, “Maaf Cinta aku tidak bisa menemanimu lebih lama.”
“Tidak apa-apa.” Kata Cinta.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Nisa segera bergegas pergi. Tinggallah Cinta seorang diri yang tengah disibukkan dengan lamunan. Yang dinanti endah dimana keberadaannya. Diannova Abraham tidak tercatat sebagai tamu restoran yang datang hari ini.
Senja kembali menyapa hari, dilihatnya jam tangan yang berwarna sedikit keemasan di tangan kiri Cinta. Diannova Abraham belum juga datang. Tiba-tiba…
Geeerrrr…
Handphone bergetar memecah lamunan. Sebuah pesan dari Nisa. Cinta sama sekali tidak menghiraukannya. Fikirannya terus melayang memikirkan pujaan hati yang tak jua kunjung datang. Lagi. Handphone bergetar. Barulah Cinta menyentuh ponselnya. Lima panggilan tidak terjawab dari Nisa. Dengan malas, Cinta membuka pesan dari Nisa. Dua pesan dengan isi yang sama.
Hari ini Diannova Abraham akan pergi ke luar negeri. Aku baru mengetahuinya dari sahabatku.
Cinta merasa tidak percaya dengan kabar yang dia terima. Secepatnya Cinta menghubungi Nisa.
Tut…tut…tut…
“Assalamu’alaikum.” terdengan jawaban halus dari seberang.
“Wa’alaikumsalam. Nisa apa benar yangisi pesanmu tadi?” Jawab Cinta dilanjutkan dengan pertanyaan.
“Benar, Cinta. Hari ini Diannova Abraham akan pergi. Dia akan melanjutkan studynya di Universitas Chicago, dan mengikuti kursus talmud di sana. Kemungkinan besar Diannova Abraham tidak akan kembali lagi ke Indonesia.” Kata Nisa.
Ya. Keluarga Diannova Abraham adalah yahudiah yang sangat taat. Hanya Diannova Abraham yang tidak mengikuti jejak mereka.
Tanpa mempedulikan Nisa yang masih berbicara kepada dirinya, Cinta lari meninggalkan restoran. Pikirannya kacau. Cinta masih ingat Diannova pernah memberitahu alamat apartemennya kepada Cinta.
“Aku harus bertemu denganmu, bagaimanapun caranya.” Gumam Cinta.
Tidak jauh berbeda dengan ibu kota. Hari libur seperti ini bandung juga tidak kalah macetnya. Cinta tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk terpenjara dalam kemacetan. Cinta terus berlari dan berlari mengejar cintanya.
“Katakanlah hari ini atau tidak untuk selamanya!” bathin Cinta selalu mengatakan itu membuat Cinta semakin yakin untuk mengejar kesempatan itu.
Rasa lelah tidak sedikitpun dirasa. Cinta terus berusaha untuk menemui Diannova Abraham. Waktunya sudah tidak banyak lagi. Kebaikkan diannova selama ini dirasanya adalah sesuatu yang berbeda dan mungkin Diannova Abraham juga memiliki perasaan yang sama, namun hingga kini semua masih tanda tanya. Entah berapa jauh Cinta melangkahkan kakinya, berlari menuju apartemen Diannova Abraham. Hingga apartemen yang dituju tampak jelas depan mata. Namun sayang, penglihatannya kini sudah mulai kabur, kakinya terasa panas dan pegal seakan tulang-tulang lepas dari persendian. Badannya lemas.
“Tinggal beberapa langkah lagi. Aku pasti dapat bertemu dengan Diannova Abraham.” Bathin Cinta.
Dengan terengah-engah Cinta terus melangkah untuk sampai ke apartemen itu. Malang. Sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak kepada dirinya. Cinta jatuh tidak sadarkan diri tepat di depan gerbang masuk apartemen megah itu.
Untuk beberapa saat tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi kepada Cinta. Tidak lama, muncul sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilat ke luar dari pintu masuk apartemen.
“Ada orang pingsan, Bu.” Kata pengemudi itu.
“Siapa?” tanya perempuan paruh baya itu.
“Seorang perempuan muda. Kita tolong dia dulu?”
“Hubungi saja orang apartemen, biar mereka yang urus. Kami sudah tidak punya banyak waktu.” Kata perempuan itu. “Benar begitu anakku?” tanyanya kepada seorang pemuda yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melamun.
“Terserah Ibu.” Jawab pemuda itu.
Pemuda itu adalah Diannova Abraham, orang yang sedang Cinta cari.
Segera mereka menghubungi petugas apartemen dan dengan sigapnya petugas di sana datang menolong Cinta. Mobil melaju dengan cepatnya. Sekilas tadi Diannova melihat ke luar jendela mobil.
“Ibu, sepertinya aku mengenal wanita itu.” Kata Diannova Abraham.
“Kita tidak punya banyak waktu Nak.” Jawab ibunya.
Dalam keadaan setengah tidak sadarkan diri, Cinta menyaksikan kepergian Diannova Abraham. Cinta sempat dapat merasakan ada Diannova Abraham di sana, namun Cinta tidak dapat berbuat apa-apa. Hatinya terus berteriak memanggil nama Diannova Abraham, namun mulutnya tidak dapat bergerak. Tubuhnyapun hanya terbaring tidak berdaya. Tetes demi tetes air mata berjatuhan bercampur keringat dingin yang terus bercucuran.
Keadaan Cinta yang cukup mengkhawatirkan membuatnya harus menjalani perawatan di rumah sakit. Cukup lama dia hanya terbaring tidak berdaya namun terus menitikan air mata. Seseorang mengabarkan kejadian ini kepada Nisa. Dengan penuh kecemasan, Nisa menemui Cinta.
“Mengapa jadi seperti ini Cinta?” tanya Nisa dalam hati. “Begitu cintanya kah kamu kepada pemuda itu?” tanyanya lagi.
Lama, barulah Cinta mulai membukakan matanya.
“Diannova…” ucap Cinta dengan mulut bergetar. “Aku harus menemuinya.”
“Cinta, tenangkan dirimu.” Kata Nisa.
\Namun Cinta tetap berontak. Dalam keadaan yang masih sangat labil Cinta berusaha untuk bangkit.
“Aku harus bertemu Diannova.” Ucapnya berulang kali.
Nisa dan dokter berusaha terus menahannya. Cinta tidak memikirkan keadaan dirinya yang masih sangat lemah. Cinta bangun dan mencoba berdiri, sayang, Cinta kembali terjatuh dan terjatuh lagi. Dia terbaring di lantai dengan linangan air mata. Kini Cinta menyadari Allah tidak merestui cintanya kepada Diannova Abraham. Cinta dua agama. Mau tidak mau Cinta harus menerima cintanya kepada Diannova Abraham tidak akan terungkap selamanya karena setelah menyelesaikan studinya Diannova Abraham akan menetap di California, tanah kelahiran ibunya.
“Kamu masih punya banyak mimpi yang harus kamu wujudkan. Kamu tidak boleh terlalu lama terpuruk dalam kesedihan ini. Ingat, kamu akan bertemu dengan keluargamu. Tersenyumlah untuk itu!” kata Nisa.
Cinta malah semakin merana. ,atanya berkaca-kaca dan tidak hentinya meneteskan air mata.
“Aku mohon, tersenyumlah!” desak Nisa.
Cinta mengangguk seraya tersenyum, namun air matanya terus membasahi pipinya seolah senyuman itu hanyalah sebuah topeng untuk menutupi kesedihan hatinya.
***
Setelah keadaan Cinta membaik, Nisa membawa Cinta kembali ke rumahnya. Tampak kesedihan masih melekat hebat di hati Cinta.
Hari ketiga setelah kejadian menyedihkan dalam sejarah hidup Cinta, dia memutuskan untuk pergi ke Batak.
“Aku akan sangat merindukanmu, sahabatku.” Kata Nisa ketika mengantarkan kepergian Cinta.
“Aku juga. Jika suatu saat nanti kamu bertemu dengan Diannova Abraham, katakan kepadanya tentang cinta yang aku penda selama ini. Jujur, aku hanya ingin dia tahu perasaanku.” Pinta Cinta dengan mata berkaca-kaca.
Nisa menganggukkan kepalanya seperti menahan kesedihan yang sama dengan Cinta.
Waktunya telah tiba.
Cinta harus kembali memerankan setiap skenario yang dituliskan Tuhan. Sebuah babak baru dia perankan.
Setelah melalui perjalanan jauh, sampailah Cinta disebuah perkampungan yang asri dan masih sangat kental dengan tradisi. Desa kelahirannya. Sambutan hangat dari keluarga telah menyambut kehadirannya yang tidak diduga. Jika dulu tangis sedih yang mewarnai kepergian Cinta, kini tangis harulah yang turut melengkapi drama baru yang dia perankan.
Berkumpul dengan keluarga adalah impian setiap orang. Itu juga yang dirasakan dan bahagia kini ada dalam genggamannya. Lagi-lagi, dalam bahagia itu terselip kesedihan. Jauh dilubuk hati Cinta dia masih sangat sedih mengenangkan Diannova Abraham. Nama Diannova Abraham telah menempati tahta tertinggi dihatinya.
Setiap harinya yang Cinta lakukan hanyalah menanti sebuah keajaiban. Tidak hentinya dia berdoa kepada Allah agar kebali dipertemukan dengan Diannova Abraham. Satu lagi doa yang tidak pernah dia lupakan, Cinta selalu memohon kepada Allah untuk mempermudah langkah Diannova Abraham menemukan jalan terbaik menuju islam.
“Aku yakin Diannova akan menjadi seorang mualaf secepatnya.” Bathin Cinta.
Sebagai pelampiasan kerinduan terhadap orang yang dia sayang, Cinta selalu menuliskan surat untuk Diannova Abraham. Berharap suatu saat nanti Diannova dapat membacanya dan mengerti dengan apa yang dia rasa.
Sepertinya liku jalan hidup Cinta tidak pernah ada habisnya. Kali ini Cinta dihadapkan pada sebuah drama percintaan yang tidak pernah dia harapkan.
Marani memiliki paham sebaliknya dengan ibunya dulu. Dari pengalaman rumah tangganya yang kandas dengan orang Arab bernama Abdul Husen, kini Marani Tonga tidak ingin putrinya mengalami kejadian serupa. Marani Tonga percaya, laki-laki dari marganya tidak akan melakukan penghianatan seperti yang Abdul Husen lakukan. Marani Tonga menjodohkan Cinta dengan putra seorang Raja Urung. Tidak tanggung-tanggung, tanggal dan tempat pernikahannyapun sudah ditata sedemikian rupa dengan sangat sempurna. Tidak seperti Marani Tonga yang selalu tunduk kepada ibunya dulu. Cinta sempat berontak dan menolak keras perjodohan itu.
“Ini bukan zaman Siti Nurbaya, Bu. Cinta punya pilihan sendiri untuk menjadi pendamping Cinta nanti.” Kata Cinta.
“Ibu hanya tidak ingin kamu sepertiku.”
“Maksud Ibu?” tanya Cinta.
Marani Tonga mulai bercerita tentang pengalaman pahitnya.
“Ibu sangat terluka oleh ayahmu.” Kata Marani Tonga. “Ibu tahu kamu mencintai orang asing yang fotonya selalu kamu pandangi di dalam kamar. Lupakan dia. Sampai kapanpun kalian tidak akan berjodoh.” Kata Marani Tonga lagi.
Cinta terkejut dengan apa yang dikatakan ibunya.
“Tega sekali ibu berkata seperti itu.” Kata Cinta.
“Ibu tidak berniat menyakitimu, niat ibu hanya satu, menjauhkan kamu dari orang-orang yang dapat menyakitimu.” Kata Marani Tonga.
Cinta benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Marani Tonga. Sekalipun Marani Tonga adalah ibu biologis Cinta, tapi hingga kini diantara mereka belum ada kecocokan. Keduanya selalu bertentangan. Jalan fikiran Cinta dan ibunya sungguh bertolak belakang.
“Mana kain yang sudah kamu tenun itu?” tanya Marani Tonga.
“ada di kamar.” Jawab Cinta.
“Antarkan ini kepada putra Raja Urung!” pinta Marani Tongga.
Cinta terkejut, “Untuk apa?” tanya Cinta.
“Hula-hula harus memberikan kain ulos kepada boru sebagai lammbang supaya penerimanya selalu merasakan hangat tubuh dan jiwa.” Jelas Marani Tonga.
“Tapi aku tidak ingin menjadi pengantinnya.” Jawab Cinta.
“Turuti perkataanku jika kamu memang benar anakku.” Kata Marani Tonga tegas.
Tidak ada pilihan lain. Cinta sangat menyayangi ibunya sekalipun mereka selalu beradu argumen. Cinta tidak ingin kehilangan ibu yang baru kembali mewarnai cerita hidupnya.
***
Sehari sebelum hari yang ditetapkan sebagai hari pernikahan Cinta dengan seorang putra Raja Urung, Cinta diajak melihat sebuah jabu sederhana yang dibangun di atas sebuah bukit. Begitu indah pemandangan di sana. Sebuah anak sungai terbentang di samping kiri mengitari bukit itu airnya jernih dan sejuk. Sebuah pohon besar tumbuh di halaman rumah. Rantingnya besar, bunganya indah berwarna warni dan sesekali ikut jatuh terbawa hembusan angin yang damai.
“Sangat indah, dan lebih indah jika aku dapat menikmanti keindahan ini dengan orang yang aku cintai.” Bathin Cinta. “Diannova Abraham, aku sangat mencintaimu.” Bathinnya lagi.
“Semuanya sudah siap. Seni tari tortor/ godang pangoido pasu-pasu akan memeriahkan pesta pernikahan kita.” Kata calon suami Cinta. “Aku yakin kamu akan bahagia hidup denganku.” Katanya lagi.
Cinta tidak mampu tersenyum meski hanya topeng untuk membuat orang yang ada di sampingnya bahagia. Lagi-lagi, Cinta tidak dapat membendung tangisnya.
“Kau menangis?” tanya caln suami Cinta.
Cinta mengusap air matanya.
“Tidak, aku sedang tertawa.” Jawab Cinta sinis.
(Lagian ada-ada aja cih… udah tau meneteskan air mata ea berarti itu nangis… malah nanya…)
“Ternyata kamu lucu juga. Kamu pandai bercanda.” Kata calon suami Cinta.
“Siapa juga yang bercanda?” bathin Cinta tambah kesal.
“Kita baru kenal.” Kata Cinta.
Pemuda yang dijodohkan kepada Cinta malah tersenyum, “Iya, aku uga tidak menyangka kita berjodoh.” Kata pemuda itu.
“Aku tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama.” Kata Cinta.
“Aku juga. Tapi tidak demikian setelah aku bertemu denganmu.” Timpal pemuda itu.
“Pernikahan tanpa cinta tidak akan bahagia.”
“Untungnya kita sama-sama saling cinta.”
Cinta menghela nafas panjang kemudian berkata dengan tegasnya, “Sebelum mengenalmu aku telah mencintai seorang pemuda di Pulau Jawa. Aku sangat mencintainya.”
Pemuda itu tersenyum dan berkata tanpa beban, “Setelah kamu mengenalku pemuda itu hilang dari hatimu. Dia akan menjadi masa lalumu dan akulah masa depanmu. Benar demikian bukan?” tanya pemuda itu.
Cinta benar-benar kesal, “Kamu tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti maksudku, Tuan?” tanya Cinta. “Aku tidak pernah engharapkan pernikahan ini.”
Pemuda itu tetap tenang, “Pesta sudah di depan mata, tidak ada yang bisa menggagakannya.”
“Apakah begini putra seorang Raja Urung? Sangat egois.”
“Ibumu telah merestui kita.”
“Tapi aku tidak mengharapkannya.” Kata Cinta.
“Terserah.” Kata pemuda itu seraya berlalu meninggalkan Cinta.
Hari-hari Cinta benar-benar penuh dengan linangan air mata.
Cinta tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Cinta benar-benar terjebak di dalam skenario yang selalu membuatnya terpojok. Cinta tiak memiliki seorang sahabatpun untuk berbagi suka dan duka.
“Bahkan aku tidak dapat menghubungimu Nisa.” Bathin Cinta.
Marani Tonga merasa takut putrinya masih menjalin komunikasi dengan Diannova Abraham dan merusak rencana pernikahan yang telah disiapkan. Akhirnya Marani Tonga mengambil paksa ponsel Cinta.
***
Inilah hari itu. Berbagai suara tetabuhan diperdengarkan. Pernikahan akan segera dilaksanakan. Tidak henti-hentinya Cinta meneteskan air mata.
“Aku selalu berharap Diannova yang kelak menjadi pendamping hidupku.” Gumam Cinta.
Calon suami Cinta tiba-tiba masuk ke dalam kamar, menghampiri Cinta yang sedang duduk di depan cermin seraya memandang wajahnya yang sayu layu.
“Harusnya ini menjadi hari bahagia kita. Kenapa kamu masih meneteskan air mata?” tanya pemuda itu.
“Pernikahan adalah ladang suci, dimana harus adanya pengertian antara si petani dengan bibit yang disemai. Agar kelak dapat menuai hasil panen yang baik.”
“Tetangga sudah menunggu sejarah baru yang menyatukan dua hati insan.”
“Pernikahan yang didasari sebuah keterpaksaan. Itu maksudmu?” tanya Cinta.
“Mencobalah menerima kenyataan.”
“Aku tidak akan pernah main-main dengan sesuatu yang sakral.” Jawab Cinta.
“Seberapa besar cintamu kepada pemuda asing yang kau kenal di Jawa?”
“Dia bukan pemuda asing. Aku megenalnya, kamulah yang asing bagiku.”
“Kamu benar-benar mencintainya?”
“Jika tidak, untuk apa aku menangis untuknya?” Cinta balik bertanya.
Pemuda yang sejak awal memaksa untuk menikahi Cinta tiba-tiba mengulurkan tangannya.
“Ini ponselmu.” Kata pemuda itu.
Cinta menerimanya, “Mengapa ada padamu?”
“Aku mendapatkannya dari ibumu.” Jawab pemuda itu. “Ada satu pesan dari temanmu.” Katanya lagi.
Segera Cinta membuka pesan masuk. Ya, satu pesan dari Nisa.
Assalamu’alaikum.
Sahabatku, aku yakin hari ini kamu akan tersenyum bahagia ketika membaca pesan ini. Subhannalah, sungguh Allah telah memperlihatkan keagungannya. Apa yang selama ini kamu yakini telah menjadi nyata. Orang yang kamu cinta telah menjadi seorang mualaf. Hari ini Diannova Abraham akan kembali ke Indonesia. Kabar ini aku dapatkan dari temanku di California.
Sebuah senyuman merekah di bibir Cinta.
“Alhamdulillah.” Kata Cinta seraya memeluk ponsel miliknya.
“Jangan menyerah untuk menggapai cinta yang kamu impikan.” Kata putra Raja Urung.
“Maksudmu?” tanya Cinta.
“Aku sengaja membukakan pintu belakang jabu ini. Kamu bisa menutup pintu dari luar. Kejar Cintamu!”
Cinta semakin tidak mengerti. Pemuda yang selalu teguh dengan pendiriannya dan tidak ingin melepaskan Cinta, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang ramah dan seakan ingin menjadi penyelamat cinta yang terpendam.
“Tunggu apa lagi? Cintamu sudah menanti. Temuilah!” kata pemuda itu lagi.
Tanpa berfikir panjang, Cinta meninggalkan pesta pernikahan yang sangat besar. Senyum terakhir disajikan kepada pemuda yang telah memberi dia kebebasan untuk meraih cinta.
“Terima kasih. Semoga Allah membalas kebaikkanmu. Sampaikan salam sayang ku kepada ibu.” Kata Cinta kemudian berlari mengejar Cintanya.
Kembali bathinnya berkata, “Katakanlah hari ini atau tidak untuk selamanya.”
Cinta merasa kebahagiaannya kini ada di depan mata. Entah berapa lama Diannova Abraham di indonesia, yang pasti masih banyak waktu dan pasti kesempatan itu tidak akan pernah disia-siakan.
Setelah menyebrangi laut yang memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera, tanpa kenal lelah dan tidak sedikitpun menghiraukan perutnya yang keroncongan Cinta menuju rumah Nisa. Sesuai dengan yang dia harapkan taksi melaju dengan sangat cepat. Tidak ada kemacetan.
Sepanjang perjalanan Cinta terus tersenyum, “Aku akan mendapatkan kebahagiaanku” bathinnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Nisa, segera Cinta menerimanya.
“Assalamu’alaikum, Nisa.” Kata Cinta.
“Wa’alaikumsalam.” Jawaban dari seberang. “Sudah sampai mana?”
“Lima belas menit lagi aku sampai di rumahmu.” Kata Cinta.
Naas.
Belum sempat tiba-tiba juga Nisa mengakhiri percakapannya dengan Cinta, telepon tiba-tiba terputus. Sebuah kecelakaan tidak dapat dihindarkan ketika taksi yang sedang melaju dengan cepat bertemu dengan truk dari arah yang berlawanan dengan laju yang tidak kalah cepatnya. Taksi terbalik. Asap tebal menggumpal, menyelimuti seluruh badan mobil, dan terbakar. Warga yang ada disekitar itu segera memberikan pertolongan, mencoba menyelamatkan Cinta dan sopir yang sama-sama menjadi korban. Secepatnya mereka dilarikan ke rumah sakit.
Ketika itu, Diannova Abraham telah tiba di rumah Nisa bersama seorang perempuan muda.
“Dimana sahabatmu itu?” tanya Diannova Abraham.
“Tadi saya sempat menghubunginya, namun tiba-tiba terputus dan saya sulit untuk menghubunginya lagi.” Jelas Nisa. “Dengan siapa anda kemari?” tanya Nisa.
“Istri saya.” Jawab Diannova Abraham.
Nisa sangat terkejut. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya saat Cinta mengetahui Diannova telah memiliki seorang istri. Nisa tahu ini akan sangat menghancurkan hati Cinta.
Perempuan itu mengulurkan tangan, “Mariam.” Katanya memperkenalkan diri.
“Nisa.” Sambut Nisa.
Nisa merasa sangat bersalah kepada Cinta. Entah apa yang harus dia katakan nanti kepada Cinta. Nisa benar-benar galau. Di lain sisi, hati Nisa terus bertanya-tanya dimana Cinta. Nisa sungguh merasa tidak tenang seolah telah mendapatkan firasat tentang sesuatu yang tidak diharapkan.
Akhirnya, berita kecelakaan sebuah truk dengan mobil taksi menyebar begitu cepat di kota Kembang hingga sampai di telinga Nisa.
“Semoga itu bukan Cinta.” Bathin Nisa.
Secepatnya Nisa mengajak Diannova Abraham dan Mariam melihat ketempat kejadian. Dengan dada yang terus berdebar-debar Nisa terus berdoa itu bukan Cinta, namun apalah daya. Takdir tidak dapat dipungkir, tidak ada yang dapat menolak suratan yang telah Tuhan berikan. Nisa dan Diannova Abraham harus menerima kenyataan orang yang lama dinantinya telah menjadi korban dan kini terbaring tidak sadar di rumah sakit.
Tangis pilu menaburi suasana yang sangat kelabu. Keadaan Cinta begitu kritis. Luka-luka ditubuhnya masih mengucurkan darah segar.
“Maafkan aku Cinta. Tidak seharusnya aku meminta kamu untuk kemari.” Kata Nisa berharap Cinta dapat mendengar penyesalannya.
Namun Cinta masih tidak sadarkan diri. Tidak lama Diannova Abraham datang bersama Mariam. Ditatapnya orang yang telah memberikan pencerahan hidup kepada dirinya.
“Semoga Allah meringankan rasa sakitmu.” Kata Diannova Abraham.
Tiba-tiba saja keluar butiran suci dari sudut mata Cinta. Sangat bening. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak, namun Cinta sepertinya dapat merasakan kehadiran orang yang sangat dicintainya.
Mariam menghampiri Cinta. Digenggamnya tangan kanan Cinta dengan kasih sayang yang tulus.
“Kamu adalah orang yang sangat baik. Kamu harus kuat Cinta. Allah akan selalu menolong orang baik seperti kamu.meskipun aku belum mengenal kamu tapi suamiku, Diannova Abraham banyak bercerita tentang kamu.” Kata Mariam. “Segeralah sembuh Cinta.”
Air mata Cinta semakin mengalir deras. Tetes demi tetes membasahi bantal putih.
“Aku sangat mencintaimu Diannova Abraham. Aku kembali ke sini untuk kamu. Tapi ternyata kamu telah ada yang memiliki, hatiku sakit melihatmu bersamanya, karena aku mencintaimu. Tapi aku relakan kamu bersamanya itu juga karena aku mencintaimu.” Ternyata dalam keadaan koma bathin Cinta masih sangat peka. Cinta tahu siapa yang ada disekitarnya.
Cinta,.
Entah kapan dia akan merasakan kebahagiaan di dalam hiduonya. Dari kecil hingga dewasa kini, hanyalah tangis yang mewarnai hidupnya. Tuhan telah menguji kesabarannya dengan segala cara. Mulai dari perpisahan dengan orang tua, kehilangan orang tua angkat yang dia sayang, dan kini pupus sudah harapannya untuk menjadi Nyonya Diannova Abraham.
***
Nisa teringat pada pesan Cinta sebelum Cinta pergi ke Batak.
“Katakan kepada Diannova tentang apa yang aku rasakan kepadanya.” Kata Cinta dulu.
Dengan ragu karena takut melukai hati Marani yang kini sudah menjadi istri Diannova Abraham, Nisa akhirnya menyampaikan pesan itu kepada Diannova Abraham di depan Mariam. Nisa meninggalkan Cinta seorang diri dalam kamar rumah sakit.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Diannova Abraham.
“Sebuah rahasia yang selama ini dipendam oleh Cinta.” Kata Nisa.
Diannova Abraham mengerutkan dahi, “Apa?”
“Setelah mengetahui semua yang akan saya ungkapkan, saya mohon tidak ada perselisihan atau kecurigaan lain di hati kalian. Sungguh saya tidak memiliki maksud buruk. Saya hanya menyampaikan amanat dari sahabat saya.” Kata Nisa.
Diannova Abraham semakin penasaran.
“Cinta adalah perempuan yang sangat tegar dan kuat.” Kata Nisa kemudian diam kembali.
“Iya, saya tahu itu.” Kata Diannova Abraham. “Lalu?” tanyanya.
“Sesungguhnya selama ini Cinta menaruh rasa yang lebih kepadamu. Rasa kagum yang tumbuh telah menghadirkan benih-benih cinta di hatinya. Bahkan kedatangan Cinta saat ini hanyalah untuk menemuimu. Dia ingin kamu tahu tentang perasaannya. Padahal kemarin adalah hari yang ditetapkan sebagai hari pernikahannya dengan pria pilihan orang tuanya. Dia rela meninggalkan semua itu hanya untuk kamu. Tidak kah kamu menyadari itu?’ tanya Nisa.
“Dia pandai menyembunyikan perasaannya di hadapan ku.” Jawab Diannova Abraham.
Nisa mencertakan semuanya kepada Diannova Abraham. Alangkah terkejutnya Diannova Abraham mendengar semua itu.
“Cinta sahabatku, hidupnya selalu berlinang air mata. Hanya kamu yang bisa membuatnya tersenyum. Tolong, untuk kali ini saja, bahagiakan Cinta.”
“Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang?” tanya Diannova Abraham. “Apakah saya harus menikahi orang yang dengan tulus mencintaiku seperti yang sering diceritakan dalam novel dan sinetron? Saya tidak mungkin melakukan itu. Bersikap adil adalah hal yang sangat sukar untuk saya lakukan.”
Mariam yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia kini mengungkapkan sarannya, “Hidup dengan dua akhwat yang halal bagimu, tentu akan melatihmu untuk bisa lebih adil. Lakukanlah! Nikahi orang yang mencintaimu.” Kata Mariam.
“Ini kehidupan nyata, bukan sinetron yang sering kamu tonton. Saya tidak akan melakukannya.” Jawab Diannova Abraham.
“Dia sangat mencintaimu.” Kata Mariam. “Tidakkah kamu melihat pengorbanan yang telah dia lakukan untukmu?” tanya Mariam.
“Aku tidak ingin nantinya malah akan menyakiti hatimu.”
“Aku ikhlas.” Timpal Mariam.
“Orang yang mengatakan ikhlas menandakan orang itu sebenarnya tidak menginginkannya.” Kata Diannova Abraham. “Nisa, terima kasih kamu sudah menceritakan semua ini. Saya sangat menghargai cinta dari siapapun itu, termasuk dari Cinta. Tapi dari awal perkenalanku dengan Cinta hingga kini saya tidak pernah memiliki perasaan lebih kepada dia.” Tambahnya.
Tanpa terasa air mata Nisa membasahi pipi. Dia dapat merasakan kesedihan sahabatnya jika tahu orang yang selama ini dipujanya sama sekali tidak mencintai Cinta.
Detik demi detik terus berlalu. Sebelum pergantian hari, sesuatu yang ditakutkan benar-benar terjadi.
Cinta. Senyum nan indah merekah dibirirnya. Matanya terpejam dengan sudut mata yang masih basah. Tidak ada lagi kata yang terucap dari mulutnya. Cinta telah tertidur dalam dunianya.
Tangis pilu pecah dalam keheningan malam itu.
Selamat jalan Cinta. Itulah salam terakhir dunia untuknya.
Di hadapan tanah merah yang masih basah, wajah-wajah sayu meneteskan air mata. Menaburkan bunga dan menyiraminya dengan doa, seraya menatap nisan bertuliskan Cintiya Thumbelina. Bukan hanya Nisa yang terpukul dengan kepergian Cinta. Seorang mualaf yang kini menjadi ikhwan sejati tidak kuasa jua menahan kesedihannya.
“Cinta sangat berjasa dalam hidup saya. Dialah yang telah memberikan cahaya sehingga saya dapat membuka mata hati dan melihat keagungan islam ini. Dia tidak pernah sekalipun memojokan saya meski ketika itu saya belum ada di jalan ini. Padahal dulu saya sempat memiliki pandangan buruk padanya hanya karena saya tahu dia seorang gadis berdarah Arab.” Kata Diannova Abraham. “Maafkan saya Cinta.”
Nisa tersenyum, “Cinta telah membuktikan apa yang telah dia ucpakannya. Dia meninggalkan senyuman diakhir hayatnya.” Nisa menghela nafas panjang. “Mungkin ini arti dari mimpinya. Dia bermimpi kamu datang menemuinya sebagai seorang mualaf disambut Cinta yang tengah mengenakan pakaian putih. Cinta meyakini itu adalah gaun pernikahan, namun ternyata inilah takdir Tuhan. Sebuah kain kafan.” Tambah Nisa.
Diannova Abraham menyadari masa lalunya sungguh sangat surap. Dia hidup tanpa tujuan, semua hanya berdasarkan apa yang dia yakini benar. Sangat ambigu. Dia tidak memiliki pegangan hidup seperti Al Quran dalam islam. Namun berkat Cinta, akhirnya semua telah berubah.
Seperti yang Cinta harapkan dulu. Mimpi-mimpinya telah terwujud. Cintanya telah terungkap dan pujaan hatinya menjadi seorang mualaf.
Itulah cinta. Cinta menuntut seseorang untuk melakukan pengorbanan dan perjuangan untuk menggapainya. Meskipun Cinta kini telah tiada, namun dian cinta tidak pernah padam menerangi sejarah kehidupan manusia.
zhie_mujahidah
Danu dan istrinya sangat menyayangi Cinta. Mereka membesarkan Cinta penuh kasih sayang. Semua yang Cinta butuhkan dipenuhi tanpa kata “nanti”. Meskipun istri Danu mengetahui Cinta adalah putri mantan kekasih Danu waktu SMA dulu, namun tidak terlintas kebencian sedikitpun di hatinya kepada Cinta. Dia justru mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Cinta.
Dulu.
Empat tahun lamanya Danu dan Ibunya Cinta merajut benang asmara, merenda hari penuh cinta. Namun semuanya berakhir karena sebuah adat. Orang tua mereka tidak merestui hubungan yang terjalin antara keduanya. Alasannya cukup sederhana. Hanya karena dalam sistem kekerabatan mereka seorang pria dan wanita tidak boleh menikah dengan orang semarga karena dianggap bersaudara. Hingga pada akhirnya hubungan mereka berakhir dengan sangat terpaksa.
Tidak lama setelah perpisahan itu, Danu dinikahkan dengan seorang gadis cantik bernama Rani, sedangkan Marani Tonga - ibunya Cinta, masih ditemani tangisan hati sepanjang hari. Dua tahun setelah resepsi pernikahan Danu dan Rani, datanglah seorang pria Arab bernama Abdul Husen menawarkan cintanya kepada Marani Tonga. Tanpa mendengarkan kata hati Marani Tonga, kedua orang tuanya langsung menerima pinangan Abdul Husen terhadap putrinya. Untuk kedua kalinya Marani Tongs hanya bisa menuruti apa yang dikehendaki oleh orang tuanya,
Meskipun mereka telah menjadi pasangan yang sah, tetapi hati Marani Tonga selalu tertuju kepada Danu. Dengan sabar, Abdul Husen terus berusaha untuk mendapatkan cinta Marani Tonga. Marani Tonga yang memang sedang membutuhkan seseorang yang dapat membalut luka masa lalunya, akhirnya membukakan pintu hatinya untuk suami yang sangat asing bagi dirinya. Tidaklah heran, itu karena Marani Tonga dan Abdul Husen belum pernah saling mengenal sebelumnya.
Ditengah bayang-bayang masa lalu yang sangat menyakitkan, lahirlah seorang bayi mungil yang sangat lucu. Dia adalah bidadari yang memberi energi baru dalam hidup Marani Tonga. Bidadari kecil itu diberi nama Cinta-Cintiya Thumbelina Husen.
Hari-hari yang mereka lalui berubah sejak kehadiran Cinta. Kebahagiaan dan tawa bahagia selalu mewarnai hari-hari mereka.
Namun sayang, badai telah datang menghempaskan kebahagiaan yang baru mereka rasakan. Berawal dari sebuah penghianatan yang berujung dengan perceraian. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Abdul Husen yang selama ini dibanggakam oleh Marani Tonga telah menodai fitrah pernikahan dengan menikahi seorang gadis belia tanpa sepengetahuan Marani Tonga. Rasa kecewa membuat Marani Tonga memilih jalan pisah dengan suaminya. Maka, anak yang tak berdosalah yang menjadi korbannya.
Seperti yang terjadi pada pasangan yang bercerai pada umumnya. Perebutan hak asuh anak selalu menjadi topik utama. Keduanya ingin mempertahankan Cinta dan berusaha agar hak asuk putri semata wayang mereka jatuh ke tangan mereka. Namun, usia Cinta yang ketika itu masih enam tahun menjadikan kemenangan hak asuh bagi Marani Tonga. Tentu saja Abdul Husen tidak dapat begitu saja menerima. Berulang kali Abdul Husen mencoba mengambil paksa Cinta. Untunglah, semua rencana itu tidak pernah berhasil. Karena Marani Tonga tidak pernah sedikitpun lengah untuk terus menjaga Cinta.
Sayang, lagi-lagi tradisi dalam keluarga merampas kebahagiaan Marini Tonga.
Sebuah tradisi turun temurun dalam keluarga Marini Tonga bahwa pasangan yang telah memiliki anak dan bercerai tidak boleh dipertemukan apalagi hidup bersama sebelum anak itu berusia dua puluh satu tahun. Maka anak yang orang tuanya bercerai harus dijauhkan dengan ayah dan ibunya karena diyakini akan membawa sial. Sungguh adat yang tidak rasional.
Orang tua Marani Tonga adalah orang yang sangat panatik akan tradisi. Mereka sangat tunduk dan bersikap tegas kepada siapa pun orang yang berani menentang tradisi keluarga mereka.
Mendengar musibah menimpa orang yang pernah menjadi ratu dihatinya, Danu mengajak istrinya menemui Marani Tonga. Rani - istri Danu memang perempuan yang sangat pengertian. Tanpa merasa curiga kisah cinta yang lalu terulang lagi, Rani menyetujui permintaan suaminya. Bahkan Rani mengusulkan untuk membantu meringankan masalah yang sedang dialami Marani Tonga dengan cara mengangkat Cinta sebagai putri mereka.
Ketika ditemui, Marani Tonga tampak sangat terpukul dengan takdir yang harus dia jalani. Marani Tonga hanya dapat tersenyum, bercanda dengan Cinta. Sebagai sesama perempuan, Rani dapat merasakan bagaimana jika harus berpisah dengan putri yang sangat dia cintai, meskipun sampai saat ini Rani belum dianugerahi seorang anak.
“Saya tidak tega jika harus memisahkan Marani Tonga dengan putrinya.” Bisik Rani kepada Danu seraya meneteskan air mata.
“Tradisi dikeluarga ini mengharuskan seperti itu.” Timpal Danu. “Jika bukan kita yang mengasuh Cinta, tetap saja Marani Tonga akan berpisah dengan Cinta.” Tambahnya.
Orang tua Marani Tonga mengambil paksa Cinta dari pangkuan Marani Tonga. Marani Tonga tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menangis seraya menyerukan nama putrinya.
Marani Tonga berharap orang tuanya dapat menghilangkan tradisi itu dan membiarkan dirinya membesarkan Cinta dengan kasih sayangnya. Namun, tradisi tetaplah tradisi.
“Tidak ada yang dapat menghapus tradisi ini.” Kata orang tua Marani dengan sangat tegas.
Memang, ini sangat tidak adil. Anak yang ia kandung sembilan bulan lamanya dan mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan buah hati tercinta harus diserahkan begitu saja kepada orang lain. Tapi kedua orang tua Marani Tonga tidak pernah memikirkan hal itu. Yang ada di dalam benak mereka hanyalah menjunjung nilai adat dan tradisi yang diwariskan orang-orang sebelum mereka.
Mungkin saat itu Cinta yang masih berusia enam tahun belum mengerti apa itu perpisahan dan apa arti sebuah tangisan, meski dia sendiri melihat ibunya merintih menangisi kepergian dirinya. Danu dan istrinya membawa Cinta pergi. Mobil mereka melaju perlahan, semakin berlalu hingga hilang di ujung jalan.
Marani Tonga terus menangis. Dia memanggil nama Cinta berulang-ulang. Berbeda halnya dengan orang tua Marani Tonga, mereka sama sekali tidak tampak meneteskan air mata. Kesedihanpun tidak ada barang sedikit saja.
“Sekalipun kamu menangis darah, itu tidak akan mengubah tradisi keluarga kita.” Kata orang tua Marani Tonga.
Semua telah terjadi. Marani Tonga masih harus menunggu setidaknya lima belas tahun lagi untuk bertemu dengan darah dagingnya sendiri.
***
Waktu terus berlalu, dari detik ke detik hingga tahun pun berganti wajah. Cinta, bidadari kecil yang lucu kini menjelma menjadi gadis cantik nan jelita.
SEMPURNA.
Mungkin itulah Cinta dimata orang-orang yang melihatnya. Seakan tidak ingin menghapus orang tua biologis yang telah memberinya kehidupan, karakter fisik orang tuanya sangat mendominasi ciri fisik Cinta.
Cinta.
Rambutnya sebahu berwarna cokelat tua, berkilau indah dan sedikit bergelombang. Kulitnya putih dengan tubuh semampai - seperti Abdul Husen, ayahnya. Mata sayu dengan alis hitam namun tidak tebal juga menambah kesempurnaan cantiknya remaja ini. Sangat mirip dengan Marani Tonga. Cinta juga sangat cerdas dan pandai bergaul.
Tidak ada yang meragukan prestasi Cinta di sekolah. Diusianya yang masih belia juga, Cinta sudah beberapa kali meraih penghargaan sebagai fasion designer termuda di tanah air. Pantaslah Danu dan istrinya sangat bangga kepada Cinta.
Seperti niatnya dulu. Danu dan istrinya hanya ingin membantu merawat Cinta, bukan menggantikan posisi Abdul Husen dan Marani Tonga di hati Cinta. Sehingga Danu dan Rani tidak pernah menyembunyikan siapa orang tua Cinta yang sebenarnya dari anak yang selama ini ikut mewarnai hari-hari mereka. Maka tidaklah heran, Cinta tidak pernah memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa.
***
Malam ini sangat indah.
Bintang-bintang bertaburan menghiasi langit alam. Cinta duduk seorang diri di beranda rumahnya. Tidak lama, datang seorang gadis cantik berulit sawo matang. Gaunnya panjang berwarna ungu serasi dengan jilbab putihnya dengan benik-benik kecil berwarna ungu muda. Gaun muslimah namun tetap modis. Dia adalah Nisa, sahabat Cinta dari semenjak mereka duduk di bangku sekolah dasar.
Cinta dan Nisa sudah saling memahami satu sama lainnya. Persahabatan mereka sudah lebih erat dari ikatan saudara. Mereka salng mengisi satu sama lainnya. Meski selama ini Nisa yang lebih banyak mengalah karena sifat Cinta yang sangat keras dan kokoh pendirian.
Begitulah.
Wajah anggun dan sayu namun karakternya begitu tegas dan keras. Tidak ada yang dapat membendung segala ambisinya. Cinta tidak suka diatur sehingga dalam persahabatanpun Cinta bukan tipe pengalah.
“Assalamu’alaikum.” Kata Nisa.
“Nisa. Tumben malam begini ke luar.” Sambut Cinta.
Nisa tersenyum, “Tadi aku mengucapkan salam. Kenapa tidak dijawab, Cinta?” tanya Nisa.
Cinta menjulurkan lidahnya, “Iya Ustadzah. Ribet baget jadi orang.” Kata Cinta. “Wa’alaikumsalam.” Sambungnya.
“Nah begitu, sahabatku.”
“Ada apa, Nisa?” tanya Cinta seraya memainkan rambutnya yang berkilau indah.
“Lho, kamu lupa malam ini Gesya ulang tahun?”
Cinta terkejut. “Serius?” tanyanya.
Nisa mengangguk.
“Sumpah gue lupa. Mana cape banget lagi.”
Ya, seharian ini Cinta memang sibuk di luar. Usai mengikuti fashion show, Cinta yang baru merintis karirnya sebagai model harus melakukan pemotretan dibeberapa tempat. Ditambah lagi kegiatan kampus yang memang sangat menguras tenaga.
Watak keras bukan berarti tidak punya solidaritas. Meski dalam keadaan lelah, Cinta tetap menghadiri ulang tahun Gesya, sahabatnya.
“Masuk dulu.” Ajak Cinta datar.
Dengan cepat, Cinta melangkah masuk rumah diikuti Nisa di belakangnya.
D kamar berwarna merah muda ini, Cinta mengeluarkan sebuah mini dress abu-abu bermotif bunga dari lemari putih berukuran besar. Bak seorang putri, dalam sekejap mata Cinta tampil dengan sejuta pesona. Tidaklah heran, hanya dengan memoles pipinya dengan bedak tipis kemudian memberi warna merah muda pada bibirnya, Cinta sudah dapat menyihir jutaan manusia untuk menatapnya penuh kagum. Karena gadis belia ini memang memiliki kecantikan alami dan sudah beberapa kali terpilih sebagai gadis sampul.
Ferpormence is the main point.
Itulah prinsip hidupnya selama ini.
Cinta selalu merasa penampilan adalah segalanya.
Selang beberapa lama, Cinta melangka panjang menuju ruang tamu menemui Danu.
“Mau kemana, sayang?” tanya Rani.
“Menghadiri ulang tahun Gesya, tante. Bolehkan?” jawab Cinta.
Rani tersenyum, “Minta ijin dulu sama om.”
“Siap.”
Dengan manja, Cinta menghampiri Danu. Dia duduk di samping orang yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri.
“Om boleh ya.” Kata Cinta tanpa basa basi.
“Ya, asal jangan pulang pagi lagi.” Jawab Danu.
“Ok.” Jawab Cinta girang.
***
Di pesta yang sederhana itu, Cinta tampak sangat cantik dan anggun. Bak seorang putri raja yang baru turun dari khayangan, semua mata tertuju padanya. Dengan sebuah jepit rambut kecil berbentuk kupu-kupu menghiasi rambutnya yang terurai, membuat Cinta semakin sedap dipandang mata.
Semua menatap kagum kepada Cinta, namun Cinta selalu bersikap acuh tak acuh kepada mereka.
Tibalah acara yang sangat dinantikan. Sebuah penampilan dari Vidi Aldiano menutup acara yang sangat sederhana itu.
(He…namanya juga orang terlanjur kaya. Ulang tahun sederhana juga mengundang penyanyi papan atas.)
“Vidi?” gumam Cinta melihat idolanya.
Tanpa canggung, Cinta ikut berdendang seiring dengan lagu yang ada. Mungkin juga karena melihat kecantikan Cinta yang selalu terpancar dari sudut manapun yang melihatnya, Vidi yang ketika itu membawakan lagu Nuansa Bening menghampiri Cinta dan mengajaknya bernyanyi bersama. Tentu saja Cinta tidak menolaknya. Cinta begitu menikmati panorama malam ini.
Jarum jam terus berputar, hingga waktupun menunjukkan pukul 02.10 dini hari. Sahabatnya, Nisa sudah terlebih dulu pulang. Sedangkan Cinta masih larut dalam suasana malam hingga acara berakhir.
Usai pesta, terlihat Cinta berjalan seorang diri.
“Sial. Mobil baru malah mogok.” Cinta menggerutu penuh kekesalan.
Tidak terbayangkan sebelumnya, mobil baru hadiah dari Danu dan Rani ketika Cinta lulus SMA.
Tahu-tahu seorang pemuda bertubuh kekar menghentikan langkah Cinta.
“Cinta.” Seru orang yang sudah tidak asing lagi bagi Cinta.
“Nick. Kamu di sini juga?” tanya Cinta kaget. “Aku tidak melihatmu di dalam.” Tambahnya.
“Aku memang hanya sebentar di sini. Ada agenda lain di luar.” Jawab Nick.
Nick adalah rekan seprofesi Cinta. Tampan dan kaya. Cinta dan Nick sudah dekat sejak lama, jadi tidaklah heran ada beberapa media lokal yang mengabarkan keduanya berpacaran.
“Kamu begitu cantik malam ini.” Puji Nick.
Cinta kembali mengambil langkah panjang meninggalkan Nick.
“Thanks, aku tahu. Semua orang berkata seperti itu.” Timpal Cinta seraya terus berjalan.
Nick memperhatikan Cinta yang terus menjauh dari pandangannya.
Cinta merogoh tas kecil yang senada dengan mini dress yang dia kenakan. Di keluarkannya sebuah handphone. Belum sempat Cinta menggunakan pnselnya, Nick kembali menghentikan langkah Cinta.
Nick berlari kecil menghampiri Cinta yang berada beberapa meter di depannya.
“Mobil kamu mana?” tanya Nick.
“Tidak mau ikut pulang bersamaku. Mungkin masih betah di tempat itu.” Jawab Cinta.
“Maksud kamu mogok?”
“Begitulah.” Jawab Cinta singkat.
Nick tertawa, “Pantas saja malam ini kamu jutek. Ternyata mobil itu yang telah membuat kamu kesal.”
Cinta tidak mempedulikan Nick. Dia terus memperhatikan mobil yang melintas barangkali ada taksi lewat.
“Cinta, kebetulan rumah kita searah. Bagaimana kalau aku yang mengantarmu pulang.” Tanya Nick.
“Makasih, Nick. Biar aku nunggu taksi saja. Tidak ingin merepotkanmu.”
“Aku yang meminta, itu artinya aku tidak merasa direpotkan.” Kata Nick berusaha meyakinkan. “Mari.” Ajaknya.
Akhirnya Cinta menerima ajakan Nick.
“Mana mobilmu?” tanya Cinta.
“Di sebelah sana.”
Dengan bangga, Nick membukakan pintu depan mobil mewah VW Passat berwarna biru dan mempersilahkan Cinta untuk masuk. Namun Cinta justru diam beberapa saat.
“Yang aku ingat mobil kamu bukan yang ini.” Ujar Cinta.
Nick tersenyum, “Oh, maaf seharusnya aku menceritakannya tadi.” Ujar Nick. “Mobil yang lama sudah waktunya istirahat, jadi aku membeli mobil ini sebagai gantinya. Bagus kan? Mewah.” Kata Nick dengan bangganya.
“Lumayan.” Jawab Cinta kemudian masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan Nick terus membanggakan mobil barunya itu.
“Kamu harus tahu, VW Passat ini merupakan mobil nomor satu ditujuh negara, terutama di Eropa dan Skandinava.” Jelas Nick.
Cinta tersenyum kaku, “Emang gue pikirin. “ bathin Cinta.
Dapat dikatakan Nick adalah putra salah satu orang terkaya di Jawa Barat. Selain seorang pengusaha yang menduduki jabatan di kursi top management, ayahnya juga adalah seorang aktivis yang memiliki lahan perkebunan yang sangat luas.
Mendengar cerita Nick, Cinta sempat dongkol juga. Pemuda yang usianya tiga tahun di atas Cinta ini ternyata lebih parah dari dirinya. Nick terlalu melek pinansial sehingga terkesan matre.
(Cowok matre… ke laut aje… he…)
Tapi jika harus jujur, sebenarnya diam-diam Cinta mengagumi sosok Nick yang sempurna dan memenuhi kriteria cowok idealnya. Begitu pun sebaliknya. Dalam diam Nick selalu berharap bidadari cantik yang saat ini ada di sampingnya kelak akan menjadi kekasihnya.
Saling mengagumi, namun tertutupi oleh ego dan gengsi. Tapi nampaknya Nick sudah tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Nick menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Tentu saja itu membuat Cinta terkejut.
“Gila kamu, Nick. Mengapa menghentikan mobil mendadak seperti itu?” ujar Cinta kesal.
Nick diam. Sesaat dia merangkaikan kata-kata terindah untuk mengutarakan perasaannya.
“Hanya ingin membuatmu kaget saja. Habisnya aku lihat kamu ngantuk begitu. Jadi biar kamu tidak tidur di mobil baru ku.”
Akhirnya bukan kata yang selama ini dia rangkai yang telah terucap.
“Sangat tidak lucu.” Kata Cinta tersenyum sinis kemudian kembali bersandar dan memejamkan matanya.
“Ya ampun, ini orang malah tidur.” Kata Nick.
Nick kembali menghidupkan mesin mobilnya dan melaju perlahan.
Sesekali dilihatnya wajah Cinta yang sangat bersih, cantik dan menawan. Jantungnya kembali berdetak cepat. Ada rasa ingin memilikinya.
Baru beberapa meter mobil melaju, Nick kembali menghentikan mobilnya.
Tentu saja kali ini Cinta yang baru memasuki alam tidur terkejut setengah mati.
“Nick.” Bentaknya. “Kamu sengaja?” tanyanya semakin kesal.
“Aku sayang kamu, Cinta.” Kata Nick antara sadar dan tidak.
Cinta diam.
Nick terus menatap wajah gadis pujaan hatinya yang tiba-tiba berubah menjadi merah padam.
“Aku harap kamu mau membukakan pintu hatimu untukku.” Kata Nick.
“Nick…” belum sempat Cinta berkata, Nick langsung memotong pembicaraan
Dengn nyali yang sangat pas-pasan Nick terus berusaha meyakinkan Cinta bahwa dirinya mampu menjadi yang terbaik bagi Cinta.
“Aku tahu aku tidak sempurna buat kamu. Tapi ijinkan aku menyempurnakan sebentuk hati yang kamu miliki. Aku akan membahagiakanmu, Cinta,” kata Nick lagi berharap hati Cinta terbuka untuk dirinya. “Terima aku, atau kamu akan melihat aku mati dalm hidup ini. Karena tanpa cintamu semua tiada yang berarti. Aku sangat mencintaimu.”
“Sure?” tanya Cinta berharap Nick akan memberinya sebuah jawaban yang pasti.
“Ya.” Jawabnya. “You always made me don’t rest. The shadow of a smile in your face already forced me to think of you. And now I conscious, that I fall in love with you.” Jelasnya.
Seakan tidak ingin kalah romantis dengan kata-kata Nick, Cinta memberikan jawaban dengan sangat puitis.
“Nick, if you wants to know, actually I have a same feeling with you.” Timpal Cinta.
“Jadi?” tanya Nick.
“Ketika hati ini sepi, aku selalu berharap akan ada pangeran yang datang dengan sekeping hati. Kini pangeran itu ada di hadapanku. Aku ingin hanya kamu yang memberi warna dalam cerita cintaku.” Kata Cinta.
“Kamu mau menjadikan aku raja di hatimu?” tanya Nick.
“Ya. Aku mau menjadi hamba yang selalu setia pada rajanya.” Jawab Nick.
“Kau bukan hamba. Tapi kamu adalah istana tempat sang raja menyemaikan cinta. Aku akan menjaga istana itu, karena di situlah tahtaku.”
Mengenang masa-masa muda saat virus cinta menyerang nadi setiap insan memang terasa begitu indah. Seperti yang sedang dialami Cinta dan Nick, sepasang remaja yang baru saja berjanji setia.
Cinta dan Nick memang sangat serasi. Keduanya berasal dari keluarga terpandang.
***
CINTA.
Sekali lagi cinta telah menjadi virus mematikan bagi orang-orang yang tidak bisa mengendalikannya. Remaja yang sedang dimabuk cinta biasanya lupa mana yang benar dan mana yang salah. Mereka hanya memikirkan apa yang dapat mereka lakukan untuk membuktikan keagungan cinta tanpa memikirkan dampaknya.
Gadis cantik bernama Cinta kini menjadi korban berikutnya.
Orang yang selama ini menjadi pangeran yang selalu dipujanya, kini kedoknya semakin terbongkar. Nick adalah seorang pecndu narkoba dan pecinta dunia malam. Tanpa ragu Nick memperkenalkan dunianya kepada Cinta. Cinta yang memang terlanjur cinta kepada Nick, tanpa ada upaya menolak dia sama sekali tidak keberatan untuk bersahabat dengan narkotika.
Dunia malam semakin kelam, kehidupan di luar memang kejam. Namun Cinta sangat menikmatinya. Sekali lagi karena cinta.
Bisnis Danu dan Rani yang semakin hari terus berkembang dengan pesatnya, juga membuat mereka semakin larut dalam obsesi kesuksesn hungga mereka lupa ada seorang remaja yang masih sangat membutuhkan perhatian dan bimbingan dari orangtua.
Cinta kini meninggalkan rutinitas kuliahnya, hanya karena cintanya kepada Nick.
Separah ini kah virus cinta menggrogoti akal sehat seorang manusia?
Ya. Inilah kenyataannya. Cinta yang selama ini menjadi kebanggaan Danu dan Rani telah berubah menjadi gadis arogan yang hanya memikirkan kesenangan. Semua karena Nick. Dialah yang membuat Cinta seperti ini.
Danu dan Rani tidak mengetahui sedikit pun bagaimana Cinta sekarang. Yang mereka tahu Cinta adalah putri kesayangan mereka yang sangat pantas untuk dibanggakan. Namun kenyataan sungguh sangat menyakitkan. Karena ternyata anak yang selama ini mereka banggakan tidak lain hanyalah seorang pecinta dunia malam. Gadis manja yang selalu mereka cinta adalah seseorang yang angkuh dan dibutakan ketenaran. Tidak tanggung-tanggung, kecantikan dan keindahan tubuh yang Tuhan anugerahkan tak segan Cinta pamerkan, semua bebas memandang.
Nick benar-benar mengubah hidup Cinta.
Sebagai seorang sahabat, hati Nisa ikut teriris melihat perubahan Cinta sekarang ini.
***
Waktu menunjukan pukul 01.15 dini hari. Seperti biasa, Nisa terjaga dari tidurnya. Segera dia menyegarkan diri dengan air wudhu. Dia dirikan shalat malam. Dengan hati yang benar-benar berserah kepada Yang Mahakuasa, dia mohonkan pinta dalam doa.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara bising di luar. Setelah mengakhiri doanya, rasa ingin tahu membawa Nisa mencari tahu apa yang sedang terjadi di luar rumahnya. Dia membuka sedikit tirai putih yang menutupi jendela kamarnya. Tampak sebuah mobil mewah dan puluhan motor sporty berhenti tepat di depan gerbang rumah Cinta. Nisa masih menatap jauh ke luar jendela. Dilihatnya seorang pemuda yang mengenakan jaket kulit berwarna merah padam ke luar dari dalam mobil mewah itu bersama seorang perempuan cantik yang sudah lama di kenalnya.
Perempuan itu mengenakan pakaian yang sangat ketat. Rok mini warna putih dan atasan tanpa lengan dengan bagian dada sedikit terbuka. Jalannya sempoyongan, sesekali dia tertawa kencang, sangat kencang diikuti deru motor teman-temannya yang arogan.
“Nisa?” gumam Nisa.
Melihat Cinta dalam keadaan seerti itu, Nisa menitikkan air mata. Nisa tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa agar sahabatnya bisa kembali seperti dulu. Meskipun Cinta berwatak keras dan tidak suka diatur, tapi itu lebih baik dari Cinta yang sekarang. Setidaknya kegiatan Cinta dulu masih positif dan jauh dari barang-barang haram.
Nisa tahu benar bagaimana sifat dan kepribadian Cinta. Dibutuhkan nyali dan kesabaran ekstra untuk dapat menyarankan apa yang sebaiknya Cinta lakukan. Itupun belum tentu didengarkan apalagi diterima oleh Cinta.
Nisa dan Cinta memang sudah sangat lama bersahabat. Sejak kecil, mereka selalu bersama bak kaka beradik yang terlahir dari satu rahim ibu. Namun sejak masih kanak-kanak pula prestasi Cinta lebih gemilang dibandingkan Nisa. Tidak jarang Nisa meminta Cinta untuk mengajarkan pelajaran akuntansi, matematika ataupun pelajaran yang lainnya. Namun tidak sebaliknya. Tidak pernah sekalipun tersirat dalam benak Cinta rasa ketertarikan akan kefasihan nisa dalam berbahasa Arab serta ilmu tauhidahnya yang sangat dalam.
Pribahasa mengatakan, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Atau orang Sunda sering mengatakan, uyah tees kahandap. Mungkin itu juga yang terjadi pada diri Cinta. Telahir dari keluarga animis yang memiliki paham kolot serta dibesarkan pebisnis sukses yang dimabuk harta. Danu memang orang terpandang. Sikapnya yang ramah dan dermawan membuat Danu digandrungi banyak orang. Namun tidak jauh berbeda dengan keluarga Cinta yang sesungguhnya. Danu dan istrinya juga adalah orang yang tidak mengenal Tuhan. Tujuan hidup mereka adalah bersenang-senang, mengejar mimpi dan mengukir karir.
(Cinta, malang nian nasibmu…)
Sebelum masuk ke dalam rumah yang megah, Cinta meoleh kepada Nick. Cinta tersenyum disambut ciuman dari Nick.
(Naudzubilahimindalik… sensor ah…)
Nisa memalingkan pandangannya. Bathinnya semakin merintih.
Di dalam dalam doanya, Nisa selalu meminta agar Allah memberikan secercah cahaya pelita untuk menerangi liku jalan hidup Cinta yang suram.
Tidak terbayangkan seandainya Danu dan Rani tahu apa yang telah terjadi dengan putrinya. Lalu jika ditanya siapa yang salah, siapakah yang pantas untuk disalahkan? Apakah adat dan tradisi yang membuat Cinta terpisah dari orangtuanya? Danu dan Rani yang tidak dapat membagi waktu antara Cinta dan pekerjaan? Atau pantaskah seorang hamba menyalahkan takdir Tuhan?
Semua bisu.
(Kalau begitu, tanya saja pada rumput yang bergoyang… ckckck…)
Akhir-akhir ini Danu memang semakin sibuk dengan pekerjaannya. Belum lebih dari dua bulan yang lalu, Danu dan Rani telah meresmikan perusahaan barunya di Bandung. Dapat dikatakan Danu memang orang yang sangat mujur. Setiap bisnis dan perusahaan yang dipegangnya selalu maju dan dapat memberkan laba yang memuaskan. Selain itu, Danu juga memiliki saham dengan persentase terbesar dibeberapa perusahaan asing.
Tapi untuk urusan mendidik, beginilah.
Dengan langkah gayang, Cinta menaiki anak tangga yang luas dengan sebuah karpet panjang mewah berwarna merah tua. Sungguh membuat rumah itu tampak seperti istana khayangan yang megah dan indah. Semua perabotan yang ada di dalam rumah ini adalah barang mmewah yang dibeli langsung dari toko furniture terbesar di Jepang. Sesampainya di kamar yang menggunakan semua perlengkapan bermotif kupu-kupu, Cinta langsung merebahkan diri di kasur empuk yang baru diganti satu minggu yang lalu. Terlelaplah Cinta, larut dalam mimpi-mimpinya.
Seorang pelayan perempuan setengah baya dengan pakaian biru dan rok sepanjang lutut, masuk ke dalam kamar Cinta yang pintunya masih terbuka lebar. Dia melihat setiap sudut kamar Cinta, kemudian berjalan menuju jendela.
“Astaghfirullah, maafkkan bibi, Neng. Lupa tidak menutup jendela sejak tadi. Neng Cinta pasti kedinginan.” Gumam pelayan itu dengan logat Sundanya yang khas seraya memnutup jendela kamar.
Jawiah, perempuan yang sudah hampir setengah abad mengembara di alam dunia dan mengabdikan diri pada keluarga Danu. Jawiah jugalah yang selama ini mengurus segala yang Cinta butuhkan.
Dengan penuh kesabaran, jawiah membuka high heeled shoes yang masih dikenakan Cinta. Rupanya Cinta sudah terlalu lelah hingga dia tidak sempat melepas sepatunya sendiri.
Tiba-tiba mata Jawiah berkaca-kaca menatap Cinta.
“Mudah-mudahan Gusti Allah menurunkan hidayah-Nya kepada Neng Cinta. Bibi tidak tega melihat si cantik seperti ini.” Kata Jawiah pelan seraya meneteskan air mata.
Bukan hanya malam ini, sering kali Cinta pulang dalam keadaan mabuk. Namun tidak ada seorang pun yang berani mengadukan Cinta kepada Danu dan istrinya.
***
Hari-hari Cinta semakin larut dalam pergaulan bebas. Baginya, Nick adalah dewa mulia yang selalu memberinya selangit kebahagiaan. Narkotika sejenis sabu, ovum dan ganja sudah menjadi sahabat karib Cinta.
Kemana Nick pergi, Cinta selalu setia mendampingi. Baginya ini adalah salah satu bukti cinta sejati. Tanpa mereka sadari ini bukanlah sebuah kesejatian melainkan jalan kesesatan. Namun tiada yang mengerti, masa muda telah membelenggu keduanya dengan kepuasan nafsu dunia. Dalam keadaan seperti ini, jangan pernah bertanya tentang virginitas.
Roda zaman terus berputar. Waktu tidak pernah berhenti walau sedetik saja. Kini tibalah semua berganti. Danu pengusaha kaya raya terlilit berbagai persoalan dan teancam bangkrut. Ratusan keluarga karyawan yang menjadi korban kebakaran di pabrik garmen miliknya berdemo menagih dana asuransi untuk biaya pengobatan keluarga mereka dengan jumlah dana yang tidak sedikit. Tidak jauh berbeda, pabrik tekstil yang baru saja ia bangun telah menimbulkan masalah besar yang mengakibatkan penutupan pada pabrik tersebut. Mengapa tidak? Ratusan penduduk yang bertempat tinggalnya disekitar lokasi pabrik datang berbondong-bondong meminta dana ganti rugi serta memaksa agar pabrik itu segera ditutup. Itu semua karena limbah pabrik tersebut telah meresahkan warga dan menimbulkan berbagai penyakit. Sungguh di luar dugaan.
Padahal pada waktu yang bersamaan Danu sedang terlilit utang. Karena kecerobohannya dalam mengambil sebuah keputusan beberapa waktu yang lalu sehingga mengakibatkan 65% saham yang dia miliki berpindah tangan kepada lawan bisnisnya.
Tidak seperti biasanya, malam ini Danu dan istrinya sudah ada di rumah. Padahal sudah beberapa bulan ini mereka tidak ada di rumah. Hanya sesekali pulang apabila ada keperluan kantor yang harus dibawa, kemudian pergi lagi dan tidak sekalipun menyempatkan makan bersama Cinta.
Sekalinya ada di rumah, Danu dan istrinya justru membuat keributan. Kegagalan dalam bisnis telah membuat lenyapnya rasa cinta dalam keluarga ini. Padahal jauh dilubuk hati Cinta, dia sangat merindukan masa-masa seperti dulu. Saat perhatian dan kasih sayang masih utuh dia dapatkan. Diam-diam, Cinta yang juga malam itu ada di rumah menguping pembicaraan Danu dan Rani dari balik pintu ruang kerja Danu.
“Apa yang kamu lakukan hingga kita menjadi bangkrut seperti ini?” tanya Rani dengan nada meninggi. “Kamu memang tidak becus mengelola perusahaan.” Makinya.
“Bisamu hanya menyalahkan orang. Padahal dalam hal ini kamupun ikut bersalah.” Timpal Danu dengan nada yang tidak kalah kerasnya. “Sebagai istri kamu hanya ingin menikmati hasilnya. Tidak peduli suami banting tulang di luar.” Tambahnya.
“Kamu anggap apa pengorbanan dan usahaku selama ini? Apa kamu fikir aku hanya istri yang hanya diam di rumah?” tanya Rani. “Kamu ingat, Mas. Keberhasilan yang kita raih juga adalah hasil kerja kerasku.”
“Ah, terserah. Lebih baik sekarang kamu bantu saya mencari jalan keluarnya.” Jawab Danu.
“Kamu yang membuat kegagalan ini. Tanggung jawab dong, Mas. Jangan malah mau mengajak istri hidup sengsara.”
“Rani, dimana akal sehat kamu? Ini perusahaan kita. Enak saja kamu mau lepas tangan begitu saja.”
Pertengkaran terus terjadi. Tidak ada yang mengalah antara Danu dan Rani. Masing-masing mempertahankan argumennya yang dirasanya itu yang paling benar. Sangat egois.
Mendengar pertengkaran itu, hati Cinta benar-benar terpukul. Lagi-lagi Cinta merasa hanya Nick yang dapat memberinya kebahagiaan. Segera Cinta lari ke kamarnya. Cinta menggapai ponsel yang dia letakkan di meja kecil dekat tempat tidurnya.
Sesegera mungkin Cinta menghubungi Nick. Namun Nick tidak dapat dihubungi. Perasaan Cinta sangat kacau. Pangeran pembawa kebahagiaan yang selalu dia puja kini tiada saat dia benar-benar membutuhkan seseorang yang dapat meneangkan bathinnya. Alhasil, jalan pintas yang Cinta pilih sungguh sangat gila. Pil-pil kecil barwarna putih telah menjadi pelarian untuk melupakan segala kepenatan.
Seraya menitikkan air mata, dengn perasaan putus asa Cinta menelan semua barang terlarang yang ada dalam genggamannya.
Seperti biasa, setiap malam Jawiah memeriksa kamar tidur Cinta barang kali ada keperluan Cinta yang belum tersedia atau hanya sekedar memeriksa barang kali ada jendela yang belum ditutup. Namun alangkah terkejutnya Jawiah ketika didapati anak majikannya tergeletak dilantai dengan mulut berbusa.
“Asstaghfirullah. Neng Cinta…” jeritnya nyaris tak sadar.
Suara Jawiah yang sangat kencang telah mengundang rasa penasaran orang-orang yang ada dalam rumah itu.
Semua berlari menuju kamar Cinta dengan rasa penasaran dan hati deg-degan-termasuk Danu dan Rani. Tidak seperti Jawiah. Danu dan Rani tampak lebih terkejut ketika melangkahkan kaki memasuki kamar Cinta. Putri kesayangannya telah terbaring tidak sadarkan diri di lantai kamar dengan waja pucat dan mulut mengeluarkan busa.
Rani segera merangkul Cinta. “Apa yang terjadi dengan outriku?” tanya Rani kepada Jawiah.’
“Bibi tidak tahu. Ketika bibi masuk, Neng Cinta sudah dalam keadaan seperti ini.” Jawab Jawiah bergetar.
Meskipun Cinta bukan anak yang terlahir dari rahimnya, namun Rani sangat menyayangi Cinta. Cinta sudah dia anggap seperti anak kandungnya sendiri.
***
Dengan hati yang terus diselimuti rasa khawatir, Danu dan Rani segera membawa Cinta ke rumah sakit. Cukup jauh.
Sepanjang perjalanan, Rani tidak henti-hentinya menetekan air mata hingga tibalah di banguan putih bernama Rumah Sakit. Seorang dokter muda melangkah cepat menuju ruang UGD diikuti dua suster yang cekatan namun tetap tenang.
“Selamatkan putri saya, Dokter.” Ujar Danu mengiba.
Pintu ditutup sangat rapat.
Danu dan Rani hanya bisa menungu jawaban dari dokter tanpa bisa berbuat apa-apa selain meneteskan air mata. Perasaan mereka campur aduk. Selama ini mereka belum dikaruniai seorang anak pun. Sekarang, anak yang selama ini mereka rawat sedang berada diambang kematian.
Hancur.
Itulah perasaan mereka saat ini. Lebih sakit dari ditusuk ribuan duri atau mungkin perasaan mereka bergetar tak menentu seperti ketika seorang hamba sahaya yang ditodong senapan dari berbagai arah. Hidup yang selama ini selalu dihujani dengan kesuksesan dan limpahan harta, harus lenyap dalam seketika. Sangat memperihatinkan. Bukan hanya itu, masih ada yang lebih memperihatinkan. Dalam keadaan ini, Danu dan istrinya masih saja tidak ingat pada kekuatan yang Mahasegalanya-Allah. Tidak tersirat sedikitpun rasa ingin memohon pertolongan Tuhan. Mereka hanya bisa termenung dan meratapi nasib mereka yang kini tidak memiliki apa-apa.
Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, namun yakin akan sulit bagi mereka menjawabnya, “Masih adakah Tuhan di hati mereka?”
Cukup lama, barulah seorang dokter cantik dan dua suster yang membantunya menampakkan batang hidung mereka.
Dengan cepat Rani menghampiri dokter itu.
“Bagaimana keadaan putri saya, Dokter? Tanyanya seraya menangis dengan penuh kebimbangan.
Sepertinya dokter itu sudah tidak heran dengan keadaan seperti ini. Sangat tenang. Dokter itu kemudian menjawab.
“Sejauh ini masih belum ada perkembangan.” Katanya. “Besok sore, Bapak dan Ibu ke ruangan saya untuk melihat hasil laboratorium..” Katanya lagi seraya tersenyum tidak memperlihatkan pertanda apapun.
“Tapi bagaimana dengan Cinta?” tanya Rani penasaran. “Saya mohon sembuhkan putri saya.”
“Kami akan berusaha dengan maksimal. Ibu dan Bapak mohon membantu dengan doa.” Kata dokter itu dengan suaranya yang lembut. “Saya permisi dulu.” Lanjutnya.
Danu terdiam.
“Ayah macam apa kamu? Anak kita dalam keadaan kritis, kamu hanya diam seperti itu, Mas.” Kata Rani.
Danu masih tetap diam seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Mas, apa ada dalam otak kamu? Anak kita sakit. Lebih baik kita bawa Cinta ke luar negeri untuk berobat.” Kata Rani semakin kesal.
Danu menoleh.
“Luar negeri?” tanya Danu. “Dimana otak kamu? Darimana kita mendapatkan biayanya? Kamu lupa? Sekarang kita bangkrut. Bangkrut.” Tegas Danu.
Sekarang giliran Rani yang terdiam. Air matanya terus mengalir.
“Sudahlah, jangan hanya menangis. Benar kata dokter tadi. Lebih baik kita berdoa.” Ujar Danu.
Sejenak suasana menjadi sepi. Hingga suara Rani memecah lamunan yang ada antara keduanya.
“Kamu tahu caranya berdoa agar Tuhan menerimanya?” tanya Rani.
Danu menggelengkan kepala. “Terlalu lama saya melupakan Tihan. Sampai-sampai saya lupa kapan terakhir kalinya saya berdoa.” Jawab Danu penuh penyesalan.
“Saya pernah mendengar orang bijak berkata Tuhan itu menetahui keinginan kita. Jadi kita tidak perlu yang namanya doa.”
Danu berlalu meninggalkan Rani seraya berkata, “Saya akan mencobanya. Yang saya dengar orang bijak berkata Tuhan sangat senang jika dipinta.”
Benar-benar tidak di luar dugaan. Sebuah perubahan besar terjadi dalam diri Danu.
Subhanallah.
Dengan sangat khusyuk Danu bersujud kepada Allah yang Maha Penyayang. Penuh kepasrahan dalam doanya Danu meminta kesembuhan untuk Cinta. Air matanya jatuh tetes demi tetes.
Rani yang sejak tadi mengikuti Danu dari belakang merasa terketuk hatinya melihat suaminya yang sedang memohon pertolongan Tuhan. Meski ragu doanya akan di dengar Tuhan, Rani memberanikan diri untuk mengikuti langkah suaminya.
***
Tidak perlu meninggalkan tempat Cinta untuk menunggu hasil pemeriksaan. Sepertinya lapar pun sudah tidak mereka rasa. Danu dan Rani dengan sabar melihat dan menjaga Cinta yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, terlihat warna biru memar dibeberapa bagian tubuhnya yang putih.
Keesokan harinya, berita yang sangat menyakitkan harus diterima oleh Danu. Dengan sangat hati-hati dan bijak, dokter menjelaskan kondisi Cinta dan apa yang menyebabkan Cinta seperti ini.
“…putri Anda over dosis.” Kata dkter setelah menjelaskan bagaimana keadaan Cinta.
Danu sangat terpukul mendengarnya.
Tidak begitu lama, Rani datang.
“Apa yang terjadi dengan Cinta, Mas?” tanya rani tiba-tiba. Dengan penuuh rasa penasaran, Rani menatap mata Danu yang sudah berkaca-kaca. “Bagai mana keadaan putri kami, Dok?” tanya Rani semakin penasaran.
Dengan kesabaran, dokter kembali menjelaskan. Pada saat itulah Rani murka. Tidak menerima dengan hasil tes putrinya.
“Anda memang dokter, tapi anda tidak tahu siapa Cinta. Putri saya anak yang sangat baik. Putri kami tidak mungkin menjadi seorang pemakai obat-obatan terlarang seperti itu.” Maki Rani.
Sebisa mungkin Danu menenangkan istrinya yang sangat tertekan. Tentu saja, siapa yang tidak terkejut mendengar Cinta adalah seorang pemakai? Karena selama ini, Cinta selalu jadi teladan semua orang, Cinta adalah sosok figur idaman.
Kondisi Cinta yang sangat memprihatinkan ini, menuntut Cinta untuk lebih lama berada di rumah sakit. Sudah empat hari, masih belum ada kabar baik untuk Danu dan Rani tentang putrinya. Sedangkan dalam keadaan seperti ini, Nick yang selama ini dipuja dan dipuji oleh Cinta tidak sedikitpun menampakkan batang hidungnya.
Cobaan yang menimpa keluarga Danu pun tidak cukup sampai di sini. Tanpa mempedulikan keadaan yang kini sedang dialmi Danu, warga yang tinggal disekitar pabrik tekstil terus mengompas dana ganti rugi atas terkontaminasinya air sungai yang mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari oleh berbagai limbah yang sebagian besar mengandung sulfida phenol yang dapat berpengaruh buruk pada kecerdasan anak dan wanita hamil, juga mengandung mineral NO3 yang dapat menimbulkan eutrofikasi.
Tentu saja warga sangat gelisah dengan keadaan ini. Karena eutrofikasi dapat mengakibatkan sulitnya cahaya matahari menembus permukaan air. Warga khawatir ekosistem di dalam air tidak dapat berfotosintesis. Selain itu belakangan diketahui bahwa peningkatan suhu yang terjadi disekitar diakibatkan oleh limbah pabrik berupa smog yang mengandung gas CO2 dengan persentase yang besar. Zat ini bersama mikro-organisme, debu, dan titik-titik air berkondensasi membentuk awan yang sifatnya dapat ditembus oleh sinar matahari namun tidak dapat ditembus oleh energi panas.
Hal ini sungguh membuat warga sangat geram. Terlebih lagi setelah zat berbahaya itu terakumulasi pada anggota keluarga mereka.
Saat ini keadaan Danu benar-benar sedang guncang. Dia tidak tahu lagi dari mana akan mendapatkan uang untuk biaya ganti rugi. Danu juga tidak ingin merugikan orang lain demi kepentingannya sendiri. Tanpa berfikir panjang, Danu menjual semua saham yang dia miliki di perusahaan Greatnees-sebuah perusahaan asing.
Mengetahui Danu telah menjual saham yang ada di perusahaan yang merupakan salah satu perusahaan terbesar di Asia itu, Rani sangat marah dan kecewa.
“Mengapa sampai harus menjual saham kita? Bagaimana kita dapat melanjutkan hidup jika kisa sudah tidak memiliki apa-apa?” tanya Rani.
“Tidak ada cara lain. Seluruh saham kita di Kaktus Niaga sudah disita bank. Sedangkan kita harus membayar dana asuransi kepada karyawan dan memberi dana ganti rugi kepada warga. Lalu apa kamu juga lupa? Kita harus membayar biaya pengobatan Cinta. Satu-satunya jalan hanyalah dengan menjual saham itu.” Je;as Danu.
“Semua ini salahmu. Adai saja kamu tidak ceroboh, tentu semua ini tidak akan pernah terjadi.”
“Bisamu hanya menggerutu. Masalah ini kita bicarakan di rumah saja.”
Rani tersenyum sinis. “Rumah yang mana, suami ku? Apa kamu pikir kita masih bisa menginjakan kaki di rumah besar itu?”
Danu diam sejenak. “Kita masih punya rumah yang dulu. Itu bisa kita jadikan tempat tinggal kita untuk sementara waktu.”
“Oh, yang itu? Bagiku itu bukan rumah, tapi kandang ayam.”
“Sudahlah. Jangan memperkeruh keadaan. Sekarang terserah kamu. Kamu mau ikut tinggal di kandang ayam itu dan kita bisa memulai kehidupan baru di sana meski harus menjadi ayam, tapi dapat menyambung hidup dengan usaha sendiri yang dikmpulkan butir demi butir, atau kamu akan tetap menjadi manusia angkuh yang nantinya akan menyambung hidup dari hasil meminta-minta di setiap sudut kota.”
Danu meninggalkan Rani yang masih sangat marah dan tertekan dengan kenyataan yang harus diterima. Namun tiba-tiba Rani menghentikan langkah Danu.
“Tunggu, Mas.” Katanya. “Maafkan saya. Benar, dalam hal ini aku juga bersalah.” Kata Rani.
***
Pada sebuah kesempatan, Rani dan Danu menyempatkan diri berkonsultasi dengan sahabat mereka yang kebetulan adalah seorang psikolog. Meski sebenarnya mereka merasa malu menceritakan apa yang telah dialami putrinya, tapi dengan ragu akhirnya Rani pun bicara.
Sejenak sahabat mereka diam setelah mendengarkan cerita dari Danu dan Rani, kemudian berkata, “Bukan hanya faktor lingkungan luar saja yang mempengaruhi perilaku seorang anak menyimpang. Tapi faktor keluarga juga.”
Rani terkejut. “Maksud anda?” tanyanya.
“Begini maksud saya. Diantara sekian banyak faktor yang menjadi penyebab menyimpangnya tingkah laku seorang anak diantaranya adalah disharmonisasi dalam keluarga. Ketidakharmonisan dalam keluarga akan menyebabkan seorang anak mencari perhatian lain di luar rumah atau bisa juga mencari kesenangan yang tidak dia rasakan dari keluarga dengan cara mengonsumsi narkotika, seperti yang terjadi pada Cinta saat ini.” Jelasnya lagi.
“Maksud Anda, kami yang bersalah?” tanya Rani tidak menerima..
“Saya tidak menyalahkan kalian sebagai orang tua. Tapi begitulah pada kenyataannya. Bukankah selama ini kalian membiarkan Cinta sendiri saat kalian sibuk mengurus perusahaan?”
Rani diam.
“Lalu bagaimana kami seharusnya?” tanya Danu. “Kami bekerja juga untuk Cinta. Karena kami menyayangi dia.” Tambahnya.
“Dari hasil musyawarah group dynamiscs, ada pendekatan yang disebut dengan heterofili dan homofili. Heterofili merupakan penegasan perbedaan pandangan antara yang berbicara dengan lawan bicaranya sehingga mengakibatkan terhalangnya produktivitas dalam kelompok. Sedangkan homofili memiliki arti sebaliknya, yaitu kesamaan pengertian antara orangtua dan anak, sehingga dalam konsep ini dapat terwujud suasana yang diidamkan, yaitu keharmonisan dalam keluarga.
Saat ini kenyataan memang telah membuktikan bahwa komunikasi yang tidak baik dapat berdampak sangat buruk, terutama bagi remaja yang belum begitu mengenal jati dirinya. Sehingga remaja dalam masa-masa rawan itu banyak yang terjebak dan ke luar dari norma yang ada.
Yang harus dilakukan saat ini, mulailah melakukan pendekatan pada Cinta. Karena orangtua sesungguhnya sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang mental seorang anak, apalagi remaja yang tengah memiliki hasrat yang sangat besar untuk mencoba sebala yang baru baginya. Sikap orangtua yang selalu tak acuh akan menjadi pemicu seorang anak yang telah beranjak dewasa untuk melakukan demoralisasi. Berikan Cinta perhatian dan kasih sayang. “
Mendengar semua yang dikatakan sahabatnya itu, Rani berbalik mencaci maki dirinya sendiri. Danu dan Rani kini menyadari tidak sepantasnya mereka saling menyalahkan karena apa yang terjadi pada Cinta jelaslah itu salah mereka berdua.
***
Pagi itu, Rani yang dengan begitu setia menemani Cinta terkejut dengan sebuah perkembangan Cinta.
Dilihatnya jemari Cinta bergerak, meski sangat pelan.
Karena merasa sangat bahagia, Rani segera memanggil dokter dan suaminya meski masih merasa setengah tidak percaya. Disaksikan Danu, Rani dan dokter, perlahan Cinta mulai membukakan matanya.
Cinta melihat sosok yang dikenalnya dengan samar-samar.
“Cinta.” Seru Rani bahagia.
Meski tidak memiliki apa-apa lagi, Rani dan Danu merasa sangat bahagia putrinya dapat kembali membukakan mata dan tersenyum kepada dirinya.
“Mama.” Ucap Cinta pelan.
Rani tersenyum bahagia. “Kamu memanggilku mama?” tanyanya tidak percaya.
“Ya.” Jawab Cinta pelan nyaris tidak terdengar. “Maaf, aku sedah mengecewakan semuanya.” Ucap Cinta lirih.
Cinta meneteskan air mata. Tampak penyesalan yang mendalam dari raut wajahnya.
“Cinta ingin pulang.” Ucap Cinta berkali-kali dengan suaranya yang parau.
Mendengar kata-kata Cinta, Rani merasa seluruh tulangnya copot dari persendian. Nadinya putus dengan darah segar yang terus mengalir. Tidak dapat terbayangkan ketika nanti harus membawa Cinta pulang ke tempat tinggal yang jauh berbeda dengan tempat tinggal mereka yang dulu. Sudah pasti Cinta tidak akan mudah untuk menerimanya.
Akhirnya setelah sekian lama dirawat karena kondisinya yang sangat memperihatinkan, Cinta pun diijinkan untuk meninggalkan rumah sakit ini.
***
Danu dan Rani segera membawa Cinta pulang dengan taksi berwarna biru.
“Mau kemana kita, Mah?” tanya Cinta.
“Pulang, sayang.” Jawab Rani dengan mata berkaca-kaca.
“Cinta tidak ingat jalan ini. Apa Cinta pernah ke sini sebelumnya?’
Rani menggelengkan kepala.
“Lalu pulang kemana kita?” tanya Cinta sangat penasaran.
Rani tidak menjawab. Hanya linangan air mata yang mewakili semua apa yang dia rasa.
“Ke rumah baru. Sebentar lagi kita akan sampai.” Kata Danu.
Cinta semakin tidak mengerti. Bathinnya pun terus bertanya-tanya mengapa harus pulang dengan taksi? Di mana mobil baru Rani? Di mana mobil kesayangan Danu? Dan juga di mana mobil miliknya? Mengapa tidak menggunakan salah satu mobil milik mereka?
Jutaan pertanyaan yang muncul dalam benaknya hanya mampu dipendam. Karena setiap kali Cinta bertanya hanya tetes air mata yang menjadi jawabanny.
“Ya sudahlah. Nanti juga aku akan mengetahuinya.” Bathin Cinta.
Sesuai dengan dugaan. Alangkah terkejutnta Cinta ketika sampai di depan rumah sederhana. Rumah tua. Bangunannya tua, prabotannya juga tua.
“Mengapa kita ke sini?” tanya Cinta dengan perasaan yang tidak menentu.
“Ini rumah kita yang sekarang.” Jawab Danu.
Cinta terdiam. Pikirannya jauh menerawang. Mungkin ini jawaban rinci dari pertengkaran yang dia dengar beberapa waktu lalu. Bangkrut. Cinta memeluk Rani dengan sangat erat.
“Kita akan mulai hidup yang lebi baik di sini.” Kata Cinta.
Rani dan Danu benar-benar merasa terharu. Dalam benak mereka sempat terpikir Cinta akan berontak dengan keadaan yang seperti ini. Tapi tidak. Sepertinya Cinta mulai belajar untuk memahami bahwa hidup tidak selamanya berada di atas.
Dalam rumah sederhana ini, terciptalah sebuah kehangatan. Di mana kasih seorang ibu tidak pernah lelah menyelimuti setiap sudut ruangan dan perhatian seorang ayah yang tidak pernah kurang. Cinta kini berubah menjadi gadis yang periang dan penuh pengertian. Tidak ada hura-hura, namun penuh tawa canda.
Memulai sebuah usaha dari bawah. Danu mengadu keberuntungan dengan menjadi seorang buruh bangunan, sedangkan Rani dan Cinta mengumpulkan kepingan rupiah dari hasil jualan sayur di pasar. Allah tidak akan menguji seseorang hingga luar batas kemampuan orang tersebut. Dengan kerja keras dan hati yang selalu berserah kepada Tuhan, Allah memberikan sebuah kemudahan untuk keluar dari permasalahan. Hasil sebuah usaha tidak ada yang sia-sia. Kini Danu dan istrinya dapat membeli sejengkal tanah untuk tempat usaha mereka. Mulanya hanya membangun sebuah warung kecil kemudian dalam waktu singkat berubah menjadi restoran sederhana yang setiap harinya tidak liput dari serbuan pembeli.
Kehidupan yang lebih baik kini mereka dapatkan, meski tidak lagi tergolong orang terpandang yang bergelimang harta. Namun di sinilah Danu dan keluarganya dapat merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
***
Hari bahagia kini akan segera tiba. Ulang tahun Cinta yang ke dua puluh satu tahun. Di mana pada ketika itu, Cinta dapat kembali kepada Marani Tonga-ibu kandungnya.
“Besok kamu sudah dapat kembali kepada ibumu, Cinta.” Kata Rani.
Cinta terkejut, “Kalian sudah tidak menginginkan kehadiranku lagi?” tanya Cinta seraya menatap Danu dan Rani.
“Bukan itu maksud kami. Kami hanya tidak ingin lebih lama menyiksa bathin Marani. Ibumu pasti sangat merinduknmu. Kamu mengerti kan maksud kami?” kata Rani.
Meskipun Danu dan Rani bukanlah orangtua kandung Cinta, tapi Cinta sudah sangat menyayangi mereka. Sungguh berat jika harus berpisah dengan orang yang selama ini ikut mewarnai hari-hari kita.
“Kami tetap akan menjadi orangtuamu. Kasih sayang kami tidak akan berkurang buat kamu.” Kata Rani lagi.
“Benar Cinta. Kami yakin kamu juga sangat merindukan ibumu.” Kata Danu.
Tanpa disadari air mata Cinta menetes.
Malam itu juga Danu, Rani dan Cinta mempersiapkan perlengkapan untuk terbang menuju Batak pada keesokan harinya.
“Cinta takut ini akan menjadi malam terakhir Cinta bersama kalian.” Kata Cinta seraya mengemas pakaiannya ke dalam koper besar.
Rani tersenyum. “Tenang putriku. Kekalipun kita jauh, tapi kasih sayang kami tidak akan pernah lelah menerangi hidupmu.” Kata Rani.
Suasana haru sangat terasa di rumah itu.
Mereka menghabiskan malam bersama, seakan tidak ingin kehilangan satu detik pun kebahagiaan yang mungkin tidak akan mereka rasakan lagi.
Jarum jam terus berputar. Malam berganti pagi yang dingin. Itulah Bandung, namun semua itu tidak menghalangi keberangkatan mereka menuju Batak.
“Tunggu sebentar, sayang. Kami akan ke luar.” Kata Rani.
Seraya menunggu Cinta bersiap-siap, Danu dan Rani hendak menyiapkan sebuah kado kecil. Dengan senyum bahagia Danu dan istrinya meninggalkan rumah.
“Untunglah kita sudah dapat mengumoulkan uang untuk membelikan Cinta gaun itu.” Kata Danu.
Danu dan Rani membelikan sebuah gaun berwarna kuning tua untuk Cinta. Itu adalah gaun yang sangat indah, meskipun harganya tidak seberapa dibandingkan dengan gaun yang dulu dapat mereka belikan setiap harinya.
Dengan perasaan berbunga-bunga tidak sabar ingin memberikan gaun yang sudah dibungkus dengan kotak kado dan pita kecil di tengahnya, Danu dan Rani meninggalkan toko dan melangkah dengan cepat. Sungguh, ini adalah adegan di luar skenario mereka. Sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi datang dari arah selatan.
Duak…!!!
Kado yang disiapkan terlempar jauh entah kemana.
Semua rencana yang sudah diatur sesempurna mungkin kini harus berakhir. Tiada lagi penerbangan menuju Batak, tiada kado istimewa yang mereka berikan untuk Cinta dengan cara yang luar biasa. Semua tinggal kenangan, hanya akan menjadi rencana yang tak mungkin kunjung menjadi nyata.
Hari bahagia, kini berselimut kabut duka, hari yang dinantikan ternyata hanyalahakan menjadi sebuah sejarah kematian.
Mendengar orangtuanya mengalami kecelakaan, Cinta berlari setengah tidak sadar ke tempat kejadian. Setibanya di sana, dia mendapati dua tubuh yang ditutupi koran tergeletak di aspal dengan darah segar yang masih bercucuran.
Hancur.
Cinta ingin segera menyusul Dani dan Rani. Cinta merasa sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Orang yang dia sayang kini telah tiada dan benar, tadi malam adalah malam terakhir untuk melihat senyum kedua orang tuanya.
Menatap raga tak bernyawa, muncul jutaan sesal di hati Cinta.
“Aku belum sempat membahagiakan kalian.” Bathinnya.
Teringat akan semuanya, ketika dirinya yang masih polos baru menginjakan kaki di Bandung. Dulu, Danu dan Rani selalu membawa Cinta ke alun-alun kota hanya sekedar untuk menikmati panorama senja. Hari-hari mereka selalu di liputi rasa bahagia. Dimaja ketika si manja minta dibuatkan susu sebelum tidur dan Danu yang selalu membuat lelucon-lelucon seru pada waktu malam. Semua terasa baru kemarin terjadi. Kini, tiada lagi sosok ibu yang dapat menjadi teman curhat, tidak ada lagi seorang ayah yang dapat menjadi pelindung dirinya.
Rasa rindu dan sesal terus berkecamuk di dalam hati Cinta.
SESAL-itu perasaan yang paling paling besar.
Menyesal karena belum sempat membahagiakan orang yang telah membesarkannya, sesal karena sudah sering mengecewakan orang yang menaruh harapan besar pada dirinya, juga sesal belum dapat membalas sgala kebaikan Danu dan Rani.
Tidak hentinya Cinta menangis histeris. Hatinya kini terasa jauh lebih sakit dibandingkan dengan ketika dia kehilangan semua harta kemewahannya. Cinta benar-benar tidak memiliki siapa-siapa. Nick, yang sempat menjadi pangeran dalam hidupnya hingga kini menghilang entah di mana. Dalam keadaan seperti ini, justru Nisa yang datang mengulurkan tangannya untuk membangkitkan Cinta dari keterpurukan.
“Aku tidak memliki siapa-siapa lagi. Gak ada gunanya aku hidup, Nisa.” Ucap Cinta getir.
Nisa merangkul sahabatnya. “Masih ada aku, Cinta. Kamu juga masih memiliki Allah. Dia tidak akan meninggalkanmu.” Kata Nisa. “untuk sementara ini, kamu bisa tinggal di rumahku.”
Cinta tidak menjawab apa-apa. Dia hanya bisa menangis seraya memaki Tuhan yang sama sekali tidak dikenalnya. Namun setelah Nisa memintanya berulang-ulang, barulah Cinta menjawab dengan sebuah anggukan.
Dengan tangan terbuka kedua orangtua Nisa menerima kehadiran Cinta. Mereka sama sekali tidak keberatanCinta tinggal di rumah mereka. Di rumah Nisa hanya ada tiga kamar. Dua kamar di bawah dan satu kamar di atas. Namun Cinta tidur di kamar atas bersama Nisa karena dua kamar yang ada di bawah milik orangtua Nisa dan adiknya.
Untuk saat ini keadaan Cinta masih sangat rapuh dan labil. Tidak ada satu orang pun yang dapat menyadrkan Cinta dari dunianya yang kini dipenuhi dengan ilusi. Diam-diam dalam keadaan yang masih guncang, Cinta sering memperhatikan rutinitas Nisa yang cukup asing baginya. Setiap malam, Nisa selalu terjaga dari tidurnya dan mendirikan shalat malam. Nisa selalu bangun pagi tidak lebih dari jam empat dini hari. Jilbab panjangnya tidak pernah dilepas ketika ada orang lain yang bukan muhrim, padahal rambut Nisa hitam panjang dan indah. Shalat lima waktu tidak pernah sekalipun ditinggalkan. Membaca Al-Quran pun sepertinya sudah menjadi suatu kebiasaan.
“Shalat dulu, Cinta!” kata Nisa dengan ramahnya.
“Shalat?” tanya Cinta.
Nisa mengangguk seraya tersenyum.
“Untuk apa?” tanya Cinta. “Apa dengan shalat kedua orangtua ku bisa kembali?” tanya Cinta lagi.
Nisa duduk di samping Cinta dan menjelaskan kepada Cinta bahwa shalat merupaka suatu kewajiban umat muslim dan tidak ada alasan untuk meninggalkannya kecuali yang empat hal, yaitu tertidur yang bukan disengajasehingga tertinggal waktu shalat, namun tetap harus melaksanakan shalat ketika ia terjaga. Benar-benar lupa dan harus melaksnakannya ketika ingat, mabuk atau pingsan dan harus melaksanakan shalat ketika sudah sadar, dan yang terakhir akhwat yang sedang haid atau nifas dan tidak perlu mengqodho’ shalat yang ditinggalkanselama haid atau nifas.
“Tapi Tuhan yang selalu kamu agungkan itu sudah bersikap tidak adil kepada ku. Dia telah merampas semua yang aku miliki.” Ujar Cinta dengan kesalnya.
“Cinta, tidak ada satupun yang bisa berbuat lebih adil dari Allah. Dalam setiap ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada hambanya akan selalu terselip hikmah dibalik semua itu. Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambanya. Percayalah! Akan ada jalan untuk keluar dari semua ini dan Allah telah menyiapkansebuah rencana terindah untukmu. Bahkan akan lebih indah dari yang kamu bayangkan.” Jelas Cinta kepada sahabatnya itu.
Namun entah apa yang salah dengan yang Nisa ucapkan. Tiba-tiba Cinta berlari ke luar rumah seraya meneteskan air mata. Sesegera mungkin Nisa mengejar Cinta.
“Kamu kenapa, Cinta?”tanya Nisa. “Apa ada yang salah denganku? Atau ucapanku tadi telah menyinggung perasaanmu?”
Cinta menggelengkan kepalanya.
“Lalu kamu kenapa?” tanya Nisa. “Apa yang membuatmu menjadi menangis seperti ini?”
Tampak Cinta menahan tangisnya dan berkata, “Aku iri sama kamu.”
Nisa benar-benar terkejut mendengarnya. “Maksud kamu apa?”
“Aku merasa Tuhan lebih menyayangimu.” Jawab Cinta.
Nisa benar-benar merasa bingung apa yang harus dia katakan.
“Kamu memang lebih pantas disayang Tuhan karena kamu adalah orang suci. Sedangkan aku, aku tidak bisa sepertimu. Aku hanyala seorang mantan pemakai narkoba, aku punya masa lalu yang suram, pecinta dunia malam. Aku tidak pantas bersimpuh memohon pertolongan Tuhan seperti yang selama ini kamu lakukan dan kamu ajarkan. Tuhan sudah sangat muak kepadaku, Dia tidak mungkin mendengarkan pintaku. Jangankan untuk memberi, apa yang selama ini aku miliki pun Tuhan tega mengambilnya.” Ujar Cinta tidak dapat menyeka air matanya lagi.
“Istighfar Cinta. Semua yang kamu katakan itu tidak benar. kita bisa memulai semuanya dari awal. Kamu harus bersyukur memiliki masa lalu. Kamu ingat apa yang dikatakan guru kita waktu SMA dulu?” tanya Nisa
“Apa?” tanya Cinta seraya menatap Nisa dengan matanya yang sayu.
“Orang yang memiliki masa depan adalah orang yang memiliki masa lalu itu artinya masa depan milik kamu Cinta. Dan masa depan kamu akan penuh dengan bahagia.” Jelas Nisa. “Jangan menangis seperti ini. Kita Allah sangat menyayangimu. Itu alasannya Allah menguji kamu karena Dia tahu kamu adalah orang yang tegar dan kuat.”
“Benarkah?” tanya Cinta.
Nisa menganggukan kepalanya seraya menatap Cinta yang berharap kepastian darinya.
“Tentu Cinta.” Jawab Nisa.
Sebisa mungkin Nisa membujuk Cinta untuk kembali tersenyum. Sampai akhirnya sebuah senyum hampa merekah dari bibir Cinta.
“Tidak ada satupun di dunia ini yang luput dari dosa. Namun Allah itu Mahapengampun dan penerima taubat asalkan ada niat dalam hati dan azzam untuk menjauhi semua larangan Allah dan melaksanakan segala perintahnya. Aku yakin Allah akan membantu kita untuk dapat terus berjalan lurus dalam ridha-Nya.” Jelas Nisa.
Dalam sebuah hadist Qudsi, Allah SWT berfirman,
“Jika kamu datang kepada-Ku, pasti aku menerimamu. Jika kamu datang pada malam hari, Aku pun akan menerimamu. Jika datang pada siang hari, Aku akan menyambutmu. Jika kamu mendekat satu jengkal tangan saja, maka Aku akan mendekatimu satu hasta. Jika kamu mendekati-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadamu satu depa. Jika kamu menemui-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku akan menemuimu dengan berlari. Sekiranya kamu kembali bertaubat kepada-Ku dengan membawa segudang dosa selain syirik, niscaya Aku akan datang dengan segudang ampunan pahala untukmu. Jika dosa-dosamu mencapai puncak gunung atau ke awan sekalipun, kemudian kamu kembali kepada-Ku dengan memohon ampunan, maka pasti Aku akan mengampunimu. Tidak ada yang lebih pemurah dariku. Aku Mahakaya dibanding yang lain.
Orang yang meninggalkan sesuatu karena Aku, maka aku akan memberikannnya lebih dari yang dia butuhkan. Siapa yang ingin ridha-Ku, maka Aku akan memenuhi dari yang kamu mau. Orang yang melakukan sesuatu atas dasar daya dan kekuatan-Ku, maka besi sekalipun akan Aku lunakkan untuknya. Ahli dzikir dan ahli syukur adalah kekasih-Ku. Orang-orang yang bermaksiat kepada-Ku, tidak akan aku putuskan rahmat-Ku. Jika mereka kembali kepada-Ku, maka Aku adalah kekasih mereka. Aku sungguh mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersuci. Jika mereka belum bertaubat, maka Aku adalah dokter mereka. Aku memberi ujian kepada mereka, agar mereka dapat membersihkan aib dan kesalahan mereka. Orang yang lebih mendahulukan Aku daripada yang lain, maka Aku akan mendahulukannya dari yang lain.
Satu kebaikan dari-Ku bernilai sepuluh bahkan bisa mencapai tujuh kali lipat dan seterusnya. Satu kejahatan dari-ku bernilai satu. Jika hamba-Ku menyesal dan meminta ampunan, maka Aku akan mengampuninya. Aku sangat menyambut baik amal saleh walau sedikitaku akan memberikan ampunan kepada orang yang mau kembali kepada-Ku. Rahmat-Ku lebih Aku dahulukan daripada murka-Ku. Kasih sayang-Ku jauh lebih Aku inginkan dari siksa-Ku. Ampunan dari-Ku lebih Aku cintai dari siksa-Ku. Aku jauh lebih sayang kepada hamba-hamba-Ku daripada seorang ibuyang mencintai anaknya.
Tidak hentinya air mata Cinta berlinang. Dia merasa bahwa dirinya adalah orang paling hina yang tidak pantas memohon pertolongan Tuhan. Hingga selama ini Cinta tidak pernah berani menyebut nama Tuhan.
“Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat.” Ucap Nisa.
Ada tiga modal utama untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Pertama, doa dan harapan, dengan menghadirkan hati, merintih dan hanya memohon kepada Allah serta yakinkan hati bahwa hanya Allah yang dapat memberikan ampunan. Kedua, beristighfar, meskipun banyaknya dosa sampai setinggi awan di langit. Dimulai dengan memuji keagungan Allah serta memohon ampunan kepada-Nya. Ketiga, bertauhid (menegaskan Allah SWT), karena tauhid adalah modal utama dikabulkannya doa.
Meski masih merasa pesimis, namun akhirnya hati cintapun terbuka untuk memulai lembaran baru yang lebih baik lagi. Masa lalu Cinta memang suram dan tidak ada satu orangpun yang dapat menghapus masa lalu seseorang. Lembaran hidup itu seumpama kaca. Jika sudah pecah mungkin dapat direkatkan kembali, namun retakannya akan tetap terlihat. Seperti nasi yang telah menjadi bubur, tidak akan dapat kembali seperti semula.
(Jadi lebih baik kita menjadikannya bubur ayam biar lebih enak… he… betul…betul…betul…)
Sama halnya dengan suratan hidup yang harus Cinta jalani. Meskipun bayang-bayang masa lalu masih melekat hebat di dalam ingatannya, namun sejarah tidak dapat terhapus meski alurnya tidak tertulis dalam sebuah narasi. Sehina apapun seorang hamba, anda ia mau berusaha dan menghadirkan niat yang kuat untuk kembali ke jalan Allah, maka bukanlah hal yang tidak mungkin ia akan menjadi kekasih yang sangat dicintai oleh Allah.
***
Dengan penuh kesabaran, Nisa membantu Cinta untuk memperbaiki hidupnya. Untunglah saat ini hati Cinta telah terbuka untuk menatap agungnya agama. Mulailah, Cinta mengenal siapa itu Tuhan, apa kewajiban seorang hamba kepada penciptanya, dan bagaimana seharusnya dia memperlakukan dan menempatkan Al Quran.
Malam itu, seperti biasa, Nisa membantu ibunya menyiapkan makan malam. Sementara Cinta berada di dalam kamar seorang diri, tidak jelas apa yang sedang dia kerjakan di dalam. Terkadang dia tersenyum takjub menatap wajahnya yang jelita dicermin, namun terkadang dia menangis dan seakan muak menatap dirinya sendiri. Entahlah, tidak ada yang tahu apa yang sedang ada dalam benak Cinta. Mungkin juga dia masih merenungi masa lalunya yang suram.
Ditatapnya foto Nisa yang dipajang di dekat tempat tidur. Nisa tampak begitu cantik meski tidak secantik dirinya. Tapi satu yang membuat hati Cinta bertanya-tanya,laki-laki yang dapat mencintai Cinta dengan tulus seperti Lukman yang selalu setia dan menjaga fitrah Nisa sebagai seorang perempuan. Semua hanya menggoda Cinta, tidak ada yang benar-benar tulus mencintainya.
“Jilbab?” gumam Cinta.
Diam-diam diraihnya sebuah jilbab berwarna hijau tua yang digantung tepat di belakang pintu kamar. Cinta kembali berjalan ke depan cermin. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, kalau-kalau ada orang yang melihat apa yang akan dia lakukan. Dengan penuh keraguan, Cinta mencoba mengenakan jilbab itu. Dia duduk di kursi depan cermin seraya menatap wajahnya yang indah.
Cinta mengusap air matanya. Dia tersenyum seorang diri “Akukah ini?”
Tanpa Cinta sadari, tahu-tahu Nisa datang.
“Subhanallah, Cinta. Kamu cantik sekali.” Ujar Nisa merasa takjub.
Cinta sangat terkejut. Segera ia hendak melepas kembali jilbabnya.
“Jangan dilepas, Cinta. Kamu sungguh jauh lebih cantik.” Puji Nisa.
Cinta tersipu malu. “Kamu tidak marah? Ini kan jilbab kamu.”
Nisa menggelengkan kepalanya. “Aku malah senang Cinta. Apalagi seandinya kamu mau mengenakan jilbab ketika ke luar rumah.”
Hati Cinta bergetar. Seakan hidayah dari Tuhan turun pada saat itu.
“Aku juga ingin mengenakan jilbab seperti kamu, Nisa.” Bathin Cinta.
“Mengapa tidak ada yang bisa mencintai aku dengan tulus?” tanya Cinta tiba-tiba.
Nisa diam. Dengan bijaknya Nisa berkata, “Suatu hari nanti kamu akan menemukan ikhwan yang selama ini kamu impikan.” Jawab Nisa.
“Tapi selama ini, semua laki-laki hanya menggodaku. Tidak ada yang mau menghargai aku seperti mereka menghargai kamu.”
“Itu karena kamu cantik, Cinta dan alangkah mulianya jika kamu dapat menghargai menjaga dan melindungi kecantikan yang Allah anugerahkan. Jangan biarkan mata yang tidak berhak menikmati keindahan itu.” Ujar Nisa sangat bijak.
Cinta merasa apa yang dikatakan Nisa ada benarnya juga. Namun pertanyaannya tidak cukup sampai di sini. Berkali-kali Cinta mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar.
“Apa jika aku menjadi orang baik, itu akan menghapus dosa-dosaku yang telah lalu?” tanya Cinta dengan mata berkaca-kaca.
“Insya Allah.”
Dalam Musnad Ahmad, Hqbah bin Amir mendengar Rasulullah saw bersabda,
“Perumpamaan orang yang mengerjakan dosa kemudian mengerjakan amal kebaikan sama seperti seorang laki-laki yang dihimpit baju besi. Sehingga, baju besi itu mencekik tubuhnya. Namun setelah mengerjakan amal kebaikan, satu persatu himpitan itu akan mengendur hingga ia bisa keluae ke muka bumi.”
Kini Cinta menyadari kesalahan yang dia lakukan selama ini. Melupakan Tuhan dan larut dalam kenikmatan dunia yang sesungguhnya hanyalah fatamorgana. Selama ini dia telah terbuai dalam bujuk rayu syetan. Azzam dalam hati Cinta semakin bulat untuk memperbaiki semuanya. Dia ingin berubah, tidak ingin lebih lama lagi tenggelam dalam lembah yang kelak dapat mengantarkannya ke depan gerbang neraka.
cinta ingin menata hidupnya kembali.
Seperti yang baru terlahir kembali. Kini, menjelmalah Cinta sebagai orang baru. Sangat jarng Cinta memperlihatkan rambutnya yang panjang bergelombang dan tidak pernah lagi dia memamerkan bentuk tubuhnya yang indah. Sekarang Cinta lebih suka menutupi auratnya. Meskipun busana muslim yang dia kenakan masih modis dan sedikit membentuk lekuk tubuh. Bukan hanya itu, kini Cinta tidak pernah meninggalkan kewajibannya mendirikan shalat, bersimpuh dan memohon ampunan kepada Allah.
***
Dengan semangat baru, Cinta kembali beraktivitas. Dia meneruskan usaha Danu dan Rani mengelola restoran yang sederhana dan terkadang dibantu Nisa-sahabat baiknya.
Siang itu, restoran yang diberi nama Dian Cinta tampak begitu sepi, tidak seperti biasanya. Hanya ada dua pengunjung. Pasangan muda mudi yang duduk di meja nomor empat. Itupun hanya sekedar minum. Suasana ini membuat semangat Cinta kembali kendur. Rasa Kantuk kerap kali datang menghampiri. Membuat Cinta menguap berkali-kali sampai akhirnya Cinta tertidur di kursi.
Belum lama.
(Baru “ngalenyap” kalau kata orang Sunda.)
Tiba-tiba seseorang datang dan membangunkannya
Cinta terperanjat, setengah tidak sadar. Dia mengusap wajahnya dengan lap meja. Orang yang membangunkan Cinta tampak berusaha menahan tawanya.
“Ada apa?” tanya Cinta heran.
Orang itu masih berusaha menahan tawanya. Kemudian mengulurkan tangan memberikan sapu tangan. “Lebih baik pakai ini. Lebih bersih.” Katanya.
Cinta terdiam memikirkan apa maksud perkataan orang itu.
“Apa?” tanya Cinta.
“Tuh.” Jawab orang yang belum Cinta kenal itu seraya menunjuk pada lap.
Setelah menyadari apa yang dilakukan dirinya, alhasil wajah Cinta menjadi merah seperti buah tomat yang baru dipetik dari tangkainya.
“Bukankah itu lap meja, Nona?” tanya pemuda kekar itu.
Cinta menyembunyikan rasa malu di balik senyumnya. Cinta terlihat salah tingkah. “Anda pesan apa?” tanya Cinta.
“Sepertinya jus apel puji sangat cocok untuk hari ini.” Jawab pemuda itu.
“Kenapa?” tanya Cinta.
“Warna merahnya sama dengan Anda.” Jawabnya seraya berbalik badan menuju kursi yang paling dekat dengan jendela.
Cinta merasa dongkol meski sebenarnya Cinta bahagia ada ornag yang dapat membangkitkan semangatnya.
Tidak lama, jus apel segar sudah siap.
“Semoga jus ini dapat memberi warna yang lebih indah untuk hari Anda” kata Cinta.
“Warna di hari saya kan?” tanya orang itu. “Kalau diwajah saya tidak mau. Karena saya tidak ingin menjadi s aingan Anda.”
Cinta benar-benar heran kepada orang itu. Baru pertama bertemu sudah bergurau stidak jelas seperti ini. Bahkan wajah merah Cinta pun selalu dia bahas.
“Diannova Abraham. Panggil saja Dian.” Kata orang itu seraya mengulurkan tangan.
Cinta terdiam.
“Boleh saya tahu nama Anda?”
Cinta menyambut tangan Diannova Abraham. “Cintiya Thumbelina.”
“Nama yang indah, Cintiya.” Kata Diannova.
“Makasih. Anda cukup memanggil saya Cinta.” Kata Cinta. “Baiklah, saya rasa saya harus segera kembali ke tempat saya.” Tambahnya.
Diannova hanya mempersilahkan dengan senyuman.
“Orang aneh.” Bathin Cinta.
Usai menghabiskan minumannya, Diannova langsung pergi. Begitu dan begitu lagi seterusnya. Setiap hari Diannova datang ke restoran itu hanya sekedar untuk melepas lelah dan dahaga.
Suatu ketika tidak seperti biasanya, Diannova tidak datang seorang diri melainkan bersama dua orang perempuan. Perempuan yang satu bertubuh gemuk dengan rambut putih usianya mungkin sudah lebih dari setengah abad, sedangkan yang satu lagi perempuan cantik dengan tubuh semampai. Pakaiannya terbuka Cinta terus memperhatikan Diannova Abraham. Jantungnya berdetak sangat cepat.
“Siapa perempuan itu? Apa mungkin itu kekasih Diannova?” tanya Cinta dalam hati.
Ada rasa kesal dan kecewa. Seperti rasa cemburu seorang perempuan yang melihat kekasihnya sedang bersama perempuan lain. Cinta ingin marah, tapi dia tidak bisa melakukannya karena Cinta bukan siapa-siapa.
Hari ini sikap Diannova juga berbeda. Tidak lagi mengajak Cinta bergurau. Mereka hanya saling sapa seperlunya saja.
“Mungkin benar perempuan itu calon istri Diannova.” Bathin Cinta untuk kesekian kalinya.
***
Petang mulai menjelang. Saatnya restoran ditutup. Cinta hanya membuka restoran hingga pukul lima sore. Ini sengaja dilakukan agar Cinta masih sempat meluangkan waktunya untuk mengkaji ilmu agama.
Di rumah, Cinta tampak sangat murung. Tiada senyum dia berikan kepada penghuni rumah.
“Kamu kenapa Cinta? Seharian ini kamu memasang muka muram.” Tanya Nisa.
“Entahlah. Aku juga bingung.” Jawab Cinta datar.
“Ada masalah di restoran?” tanya Nisa lagi.
“Ah…aku heran, kenapa dia harus datang dengan perempuan itu?” kata Cinta tidak menyadari apa yang dia katakan.
Nisa tersenyum, “Dia? Siapa?” tanya Nisa penasaran.
Seperti biasa.ketika harus memrasa malu, wajah Cinta menjadi merah.
“Apa sih? Cuma becanda juga.” Kata Cinta.
Nisa tersenyum. Sebenarnya Nisa tahu benar dengan apa yang sedang terjadi pada sahabatnya itu. Sebuah kata cinta kembali bersarang di hati sahabatnya.
“Aku siap mendengarkan cerita kamu.” Kata Nisa seraya menatap sahabatnya.
Cinta diam. Kemudian berkata, “Hmm, tapi kamu janji tidak akan menertawakanku.”
“Siap. Ada apa?”
“Seminggu setelah aku kembali membuka restoran, ada seorang pemuda yang datang membawa sebuah kebahagiaan. Ketika itu aku tengah tertidur di restoran karena restoran sepi dari pelanggan. Tiba-tiba dia datang. Dia menyaksikan kebodohanku.” Kata Cinta seraya tersenyum membayangkan peristiwa itu.
“Kebodohan apa?” tanya Nisa penasaran.
Cinta menahan tawanya. Wajahnya kembali memerah seperti ketika pertama kali bertemu dengan Diannova.
“Aku mengusap wajahku dengan lap meja.” Jawabnya tersenyum.
“Lalu?” tanya Nisa semakin penasaran.
“Dia memberiku sapu tangan. Diannova Abraham. Nama yang bagus bukan?” tanya Cinta.
“Ya. Itu nama pemuda itu?”
Cinta mengangguk. “Saat aku melihat senyumnya, tiba-tiba hatiku bergetar. Semua gerak tubuhnya membuatku merasa nyaman. Diannova selalu datang ke restoran setiap hari dan dia selalu memesan jus apel. Sebelum memesan minuman, dia selalu berkata saya suka bentuk hati, karena dunia akan lebih berwarna dengan cinta. Buatkan saya jus apel merah segar seperti wajah orang yang ada di hadapan saya ini. Dia selalu datang tepat lima belas menit sebelum restoran tutup dan dia datang setiap hari. Tapi, tadi orang itu datang dengan wajah yang berbeda. Seperti bukan pemuda yang selama ini aku kenal. Tidak sekalipun dia menyapaku. Dia hanya memesan makan dan minum dengan nada yang sangat datar. Bukan hanya itu, dia juga datang dengan dua orang perempuan. Yang satu perempuan yang sudah menjelang lanjut usia dan seorang lagi perempuan cantik.” Kata Cinta.
“Dia seorang akhwat?”
“Aku rasa bukan. Rambutnya terurai panjang, pakaiannya juga sangat terbuka.” Jawab Cinta. “Nisa, aku sangat cemburu melihat mereka.”
“Kamu mencintai pemuda itu?”
“Tidak mungkin.”
“Aku rasa itu mungkin saja. Kamu sendiri tahu kan, Mulan Jamilah saja yang sudah punya dua anak bisa jatuh cinta lagi.” Gurau Nisa.
“Uh, kamu malah bercanda.”
“Tapi benar kan?” tanya Nisa.
Cinta hanya diam. Seperti yang dikatakan orang-orang, diamnya perempuan berarti “ya”.
“Kalau boleh, besok aku akan menemanimu di restoran. Aku ingin tahu siapa pemuda itu.” Kata Nisa.
“Ya, ikutlah besok denganku.”
***
Keesokan harinya, seperti biasa. Diannova Abraham datang ke restoran. Seorang diri.
Segera Cinta memberitahu Nisa.
“Dia orang yang aku maksud.” Kata Cinta.
Tampak Nisa sangat terkejut “Jadi orang itu?”
“Kamu mengenalnya?” tanya Cinta.
“Aku tahu dia dari cerita teman kuliahku.”
“Dapatkah kamu menceritakan siapa pemuda itu?” tanya Cinta. “Sungguh, hatiku damai melihatnya.”
“Jaga pandanganmu, Cinta. Jangan biarkan apa yang ditangkap oleh matamu bercampur dengan nafsu.” Kata Nisa mengingatkan.
“Astaghfirullah. Terima kasih telah mengingatkanku, Nisa.”
“Cinta aku sedikit banyak tahu tentang dia. Aku harap kamu mengerti apa yang akan aku katakan nanti.” Kata Nisa. “ Diannocva adalah seorang mahasiswa dari luar negeri yang sedang melakukan penelitian di sini.”
“Sepertinya dia orang hebat.” Kata Cinta.
“Bukan hanya hebat, tapi sangat hebat. Banyak yang kagum kepadanya. Tapi aku berharap kamu akan mendapatkan pendamping yang lebih baik dari dia.”
“Apa maksudmu?”
“Yang dibutuhkan seorang akhwat adalah ikhwan yang bisa dijadikan imam dalam rumah tangga. Sebagai penuntun untuk tetap berjalan lurus di jalan ynag diridhai Allah.”
“Afwan, aku sungguh tidak mengerti apa maksud perkataanmu itu.”
“Seperti yang kamu katakan, Diannova adalah seseorang yang sangat hebat. Diusianya yang masih sangat muda dia sudah mengelilingi beberapa negara untuk mencari kedamaian dalam hatinya. Berbagai ilmu dia kuasai dan berbagai agama dia gali hukum dan normanya.” Kata Nisa.
“Lalu apakah itu sesuatu yang salah?” tanya Cinta.
“Diannova adalah orang yang tidak beragama.” Kata Nisa setengah berbisik.
Cinta terdiam seakan tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.
Sejenak Cinta meneteskan air mata ketika dia terkenang masa lalunya yang sama sekali tidak mengenal Tuhan. Cinta merasa Diannova tidak ada beda dengan dirinya. Sungguh kelam jalan hidup Cinta dulu. Cinta kembali membasuh pipinya dengan air mata. Rasanya sesal itu tidak pernah ada habisnya ketika bayang-bayang dosa terus menghantui fikiran Cinta. Dia merasa sangat takut dengan azab Tuhan.
Sungguh, Cinta sangat menyayangkan dengan apa yang terjadi dengan sosok yang sangat dikaguminya. Namun Cinta tidak dapat membohongi perasaannya bahwa dia telah jatuh cinta kepada Diannova Abraham.
“Tidak. Aku tidak boleh mencintainya.” Bathin Cinta terus berkata.
Namun apalah daya, tidak ada satu pun makhluk yang dapat menolak kehadiran cinta. Hampir setahun Cinta hanya terpaku dalam harapan kosong. Cintanya kepada Diannova seolah hanya fatamorgana. Sekalipun Diannova Abraham telah menjadi pelanggan tetap di restorannya, Diannova Abraham tidak pernah sekalipun menunjukan rasa yang berbeda kepada Cinta. Tampaknya Dian sama sekali tidak mengetahui peasaan Cinta.
(Pengalaman pribadi.. cinta terpendam itu menyakitkan lho… asli… percaya deh.)
Pada dasarnya Cinta adalah gadis yang kuat dan tegar. Cinta meyakini suatu saat Allah akan memberikan jalan terbaik untuk dirinya. Cinta juga percaya bahwa Diannova akan dapat membukakan pintu hatinya untuk menerima islam dan memeluk Al Qur’an sebagai pedoman dalam hidupnya. Seperti ketika Allah memberikan rahmat kepada Cinta hingga dia dapat mengambil hikmah dari kejadian yang menimpa keluarganya.
Tidak diduga. Hari itu, restoran yang biasanya ramai oleh pengunjung kembali sepi seperti ketika pertama Cinta bertemu dengan Diannova Abraham. Hanya ada beberapa orang di sana. Hari sore tampak mendung, tetes demi tetes air mata langit menitik membasahi taman restoran, semilir angin senja membawa dingin menusuk ke dalam tulang. Tiba-tiba terlihat seseorang berdiri di depan pintu masuk restoran.
“Diannova?” gumam Cinta.
Cinta berdiri dan bergegas menghampiri orang yang berdiri di mulut pintu itu.
“Diannova Abraham? Tidakkah Anda ingin memesan kopi untuk menghangatkan badan?” tanya Cinta.
Orang itu berbalik badan.
“Hujan lebat. Saya hanya ikut berteduh sebentar.” Kata pemuda itu.
Alangkah terkejutnya Cinta ketika terlihat orang yang ada di hadapannya bukanlah Diannova Abraham.
“Anda memanggilku siapa tadi?” tanya pemuda itu.
“Oh, tidak. Itu tidak penting. Lupakanlah!” jawab Cinta.
Beberapa menit kemudian, barulah hujan reda. Pemuda itu pergi meninggalkan restoran. Cinta memperhatikan kepergian pemuda itu.
“Tidak ada miripnya dengan Diannova Abraham. Tapi mengapa aku sapai salah orang?” tanya Cinta dalam hati.
Sekali lagi Cinta melihat ke mulut pintu. Kembali dilihatnya seorang pemuda berdiri di depan.
“Diannova Abraham?” bathinnya lagi.
Cinta tersenyum merasa sangat bahagia dapat kembali melihat Diannova Abraham datang ke restorannya.
“Ah, aku rasa itu bukan Diannova Abraham. Penglihatanku memang sudah eror.” Bathinnya.
Pemuda itu mendekat kemudian berkata, “Saya suka bentuk hati, karena dunia akan lebih berwarna dengan cinta. Buatkan saya jus apel merah segar seperti wajah orang yang ada di hadapan saya ini.”
Cinta terkejut. Itu benar-benar Diannova Abraham.
Cinta tersenyum, “Lima belas menit lagi restoran akan ditutup. Secepatnya minuman yang Anda pesan akan segera sampai di meja Anda.”
(Sedang hujan seprti itu memesan jus. Aneh gak sih..? apa gak makin dingin tuh?)
Kurang dari lima menit jus yang dipesan Diannova Abraham sudah siap.
“Minuman dingin di musim hujan. Selamat menikmati.” Kata Cinta seraya menyajikan jus apel.
“Saya ingin sedikit ngobrol dengan Anda. Anda sedang tidak sibuk kan?” kata Diannova Abraham.
“Ada apa? Apakah itu penting?” tanya Cinta.
“Duduklah!” kata Diannova Abraham.
Meski ragu, Cinta akhirnya duduk di hadapan Diannova Abraham.
Diannova Abraham diam sampai akhirnya berkata.
“Maaf sebelumnya, saya hanya ingin lebih mengenal Anda.” Kata Diannova Abraham.
Cinta salah tingkah. Wajahnya kembali merah seperti yang dikatakan Diannova Abraham, merah seperti apel merah yang segar.
Diannova memulai pembicaraan. Seakan tengah mengumpulkan data sebuah penelitian, atau lebih tepatnya seperti seorang polisi yang sedang menyelidiki kasus kriminal, Diannova Abraham mengajukan begitu banyak pertanyaan kepada Cinta. Mulai dari perjalanan hidup Cinta, hingga soal agama.
“Islam mengajarkan saya arti hidup yang sesungguhnya dan kehidupan yang akan terjadi setelah mati.” Jawab Cinta ketika ditanya tentang islam.
“Apakah Tuhan Anda selalu bersikap baik dan adil?”
Cinta menatap Diannova Abraham dan menganggukkan kepalanya.
“Dia selalu memberikan yang Anda pinta?” tanya Diannova Abraham.
Dengan bangga Cinta berkata, “Allah tidak selalu memberikan apa yang aku inginkan, tapi Dia selalu memberikan apa yang aku butuhkan.”
Diannova Abraham tampak sangat memperhatikan setiap kata yang terucap dari mulut Cinta.
“Ada apa Anda mempertanyakan tentang keyakinan saya ini?” tanya Cinta.
Diannova Abraham tersenyum, “Hanya sekedar untuk menambah wawasan saja.” Jawab Diannova Abraham. “Satu lagi pertanyaan saya. Masih bersedia untuk memberi jawaban?” tanya Diannova Abraham.
“Ya. Silahkan.” Kata Cinta.
“Apakah orangtua Anda yang mengajarkan Anda untuk menjadi seorang muslimah seperti ini?” Kata Diannova Abraham.
Cinta meundukan kepalanya. Tampak pertanyaan itu membuat Cinta kembali teringat kesedihan hatinya.
“Maaf. Apa ada yang salah dengan pertanyaan saya tadi?”
Cinta mengangkat kepalanya sejenang tengadah menatap langit-langit restoran kemudian berkata, “Tidak perlu minta maaf.” Kata Cinta. “Saya baru dua tahun ini merasakan hidup dan mempunyai kehidupan.” Tambahnya.
Diannova mengerutkan dahinya, “Maksud Anda?”
“Saya dibesarkan oleh pasangan dermawan kaya tapi saya sama sekali tidak mengenal agama. Orangtua kandung saya bercerai ketika saya masih kecil. Ibu saya adalah orang yang sangat terikat oleh adat dan tradisi. Sekarang ibu saya ada di Batak. Saya menjadi seperti ini dengan bantuan sahabat saya dan tentunya dengan ijin dari Allah. ”
“Lalu ayah Anda?”
“Saya tidak tahu pasti di mana keberadaannya. Kabar terakhir yang saya dengar, ayah saya kembali ke negara asalnya. Arab.” Jelas Cinta.
Tampak Diannova Abraham sangat terkejut, “Ayah Anda seorang Arab?” tanya Diannova Abraham.
“Ya.” Jawab Cinta.
‘Lalu apa maksud Anda baru merasakan hidup dan mempunyai kehidupan?”
“Karena saya baru dua tahun ini mengenal Allah.”
Percakapan terjadi cukup lama. Hingga Cinta tersadar dia telah menghabiskan banyak waktunya bersama Diannova Abraham.
“Astagfirullah. Maaf, saya harus segera kembali melanjutkan pekerjaan saya.” Kata Cinta.
“Iya. Terima kasih.” Kata Diannova Abraham.
Cinta kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sungguh tidak terbayangkan sebelumnya dapat berbicara sedekat itu dengan pujaan hatinya, meskipun selama percakapan tadi terkesan bagitu formal
***
Malam itu, Cinta melamun seorang diri. Cinta teringat pertanyaan Diannova Abraham sore tadi tentang orangtuanya. Dilihatnya kalender tahun ini kemudian mencoba menghitung hari.
“Tahun ini hampir berakhir.” Gumam Cinta.
Cinta terdiam.
“Apa yang sedang kamu pikirkan Cinta?’ tanya Nisa yang baru datang dari luar.
“Aku merindukan ibu. Sudah hampir dua tahun orangtuaku pergi.” Kata Cinta.
Ya. Rupanya Cinta begitu merindukan kehadiran Danu dan Rani, orang yang selama ini telah membesarkannya hingga menjadi dewasa kini.
“Perbanyak doa untuk orangtuamu.” Kata Nisa.
“Kamu beruntung masih punya orangtua yang menyayangimu di dunia ini.”
Nisa diam sesaat kemudian berkata, “Bukankah kamu juga masih punya ibu di kampung halamanmu?” tanya Nisa dengan mata berbinar.
Cinta menundukan kepalanya, “Batak itu tidak sempit. Aku tidak ingat di mana rumah ibuku.”
“Om Danu tidak pernah memberikan alamat orangtua kandungmu?”
Cinta menggelengkan kepalanya, “Mungkin aku tidak dapat bertemu dengan orangtuaku lagi.” Kata Cinta.
“Jangan bersedih hati Cinta, pasti akan ada jalan untuk bertemu dengan ibumu.”
“Aku ingin segera bertemu dengan ibu dan mati muda setelah memeluk dan merasakan kasih sayangnya.”
Nisa sangat terkejut mendengar ucapan Cinta, “Mengapa? Jangan bicara seperti itu Cinta!” kata Nisa.
“Aku tidak ingin menderita lagi. Jadi lebih baik aku mati satelah aku bertemu dengan ibu.”
“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu.”
“Sama halnya dengan aku. Aku pun tidak mengerti dengan jalan hidupku.”
“Jangan banyak mengeluh sahabatku!” kata Nisa. “Cinta kamu tahu di mana Bibi Jawiah tinggal sekarang?” tanya Nisa,
“Ya.”
Nisa tersenyum, “Aku rasa Bi Jawiah tahu di mana alamat orangtua kandungmu.”
Ya. Jawiah yang sudah puluhan tahun bekerja di keluarga Danu mungkin tahu di mana keberadaan orangtua Cinta.
Dengan hati berbunga-bunga penuh harapan bisa mendapatkan apa yang diinginkan, Cinta dan Nisa menemui Jawiah di rumahnya. Sepertinya keberuntungan masih berpihak kepada mereka. Ketika itu Jawiah tengah bersiap-siap untuk kembali ke kampung halamannya. Terlambat sedikit saja Cinta akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan alamat orangtuanya.
Jawiah memberikan secarik kertas yang sudah sedikit kumal kepada Cinta. Rupanya Jawiah masih menyimpan alamat Marani Tonga.
***
Inilah awal perjalanan Cinta dalam pencariannya. Tanpa membuang banyak waktu, Cinta memutuskan untuk segera menemui ibunya.
“Apa lagi yang kamu fikirkan?” tanya Nisa ketika melihat sahabatnya bermain-main dengan lamunan.
“Entahlah. Aku sangat ingi bertemu dengan ibu tapi di lain sisi aku tidak ingin meninggakan tempat ini sebelum Diannova mengetahui perasaanku padanya.” Jawab Cinta.
“Kamu berharap dia menjadi pendampingmu?”
Cinta tidak menjawab pertanyaan Nisa. Cinta hanya meneteskan air mata seakan dia begitu berat jika harus meninggalkan cerita sederhananya bersama Diannova Abraham.
“Agama kita mengharamkan pernikahan beda agama.” Kata Nisa.
“Aku yakin Diannova Abraham tidak akan selamanya seperti ini.”
“Maksud kamu?”
“Aku pernah berbicara dengan dia. Cukup lama. Dia tahu banyak tentang islam, dia sangat menghargai islam. Aku yakin dalam hatinya ada jiwa seorang muslim.”
“Aku pernah mengatakannya kepadamu. Diannova Abraham mendalami semua ilmu termasuk islam. Tapi dia sama sekali tidak memiliki Tuhan yang dia percaya.”
Cinta tersenyum dan berkata penuh keyakinan, “Allah pasti akan membantu menuntun langkah kakinya.”
“Amin. Semoga saja demikian.” Kata Nisa tidak yakin. “Lalu apa rencanamu sekarang?”
“Aku yakin besok Diannova Abraham akan kembali datang ke restoran. Aku akan mengatakan perasaanku padanya.”
“Kamu akan menjatuhkan harga dirimu di depan seorang laki-laki?”
“Ini bukan menjatuhkan harga diri, tapi mengungkapkan isi hati.”
“Apa gunanya dia tahu perasaanmu jika pada akhirnya kamu akan pergi dan kalian tidak bisa bersama dalam satu agama dan ikatan pernikahan? Pikirkan kembali rencanamu ini, Cinta.”
“Alur selanjutnya hanya Allah yang tahu. Aku hanya ingin bertemu dengannya sebelum aku pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi.” Kata Cinta masih tetap dengan senyum misteriusnya.
***
Semua berjalan seperti biasanya.
Cinta terus memperhatikan perputaran jarum jam dengan penuh pengharapan. Hingga sore kini menjelang.
“Lima menit lagi, Diannova pasti akan datang.” Bathin Cinta.
Dengan penuh kesabaran Cinta terus menunggu kedatangan Diannova Abraham. Namun nihil. Hingga restoran tutup Diannova Abraham tidak nampak batang hidungnya sedikit pun. Begitulah yang terus terjadi hingga hari ketujuh.
“Diannova Abraham tidak datang lagi ke restoran.” Kata cinta kepada Nisa.
“Sudahlah Cinta. Jangan membuang waktu untuk penantian ini! Aku rasa ini saatnya kamu menemui ibumu.” Kata Nisa.
“Aku akan menunggu Diannova satu hari lagi. Besok.” Timpal Cinta.
Tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Diannova Abraham tidak datang juga. Perasaan Cinta begitu galau. Ada perasaan takut jika keinginannya untuk bertemu dengan Diannova Abraham tidak akan terwujud.
Detik demi detik diperhatikan secara jeli. Cinta terpaku sendiri menanti kehadiran pujaan hati. Sebagai sahabat, Nisa begitu setianya menemani Cinta yang sedang galau. Tidak bosan Nisa terus berusaha menghibur Cinta. Yang dinanti belum juga nampak. Diannova Abraham yang biasanya selalu datang setiap hari tiba-tiba saja hilang tanpa kabar.
“Jika Diannova Abraham datang kamu yakin akan mengatakan perasaan mu itu?’ tanya Nisa.
Cinta mengangguk, “Tiada pilihan lain.” Katanya.
“Kalau itu dapat membuat kamu bahagia, lakukanlah!” kata Nisa. “Tapi tetaplah ingat dengan pesanku. Jangan biarkan cinta kamu kepada Diannova Abraham melebihi cintamu kepada Allah. Ingat, seorang akhwat harus mendapatkan pedamping hidup seorang ikhwan sejati. Bukan dari golongan lain.” Tambahnya.
Cinta memejamkan matanya, “Aku tahu. Aku juga yakin suatu saat Diannova akan menjadi seorang ikhwan sejati.” Kata Cinta sangat yakin.
“Kamu begitu yakin suatu hari nanti Diannova akan menjadi seorang mualaf. Apa kamu punya alasan?” tanya Nisa penasaran.
Cinta menghela nafas panjang kemudian berkata, “Setiap waktu aku selalu berdoa berharap suatu saat Diannova Abraham membukakan hatinya untuk islam. Hingga pada suatu malam aku pernah bermimpi Diannova Abraham datang menemuiku dengan sebagai seorang muslim. Dalam mimpi itu aku mengenakan baju putih yang indah.” Jelas Cinta.
“Apa yang kamu yakini dari mimpi itu?” tanya Nisa.
“Suatu hari nanti Diannova akan menemuiku lagi setelah dia memeluk agama islam dan baju putih itu, mungkin itu adalah baju pengantin.”
“Kamu meyakini dia adalah jodohmu?”
“Insya Allah.”
“Kejar cintamu selama yang kamu yakini itu benar!” Kata Nisa.
Cinta mengangguk, “Bukannya hari ini kamu ada janji dengan keluarga Lukman?” kata Cinta mengingatkan.
“Astagfirullah, hampir saja aku melupakannya.” Kata Nisa, “Maaf Cinta aku tidak bisa menemanimu lebih lama.”
“Tidak apa-apa.” Kata Cinta.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Nisa segera bergegas pergi. Tinggallah Cinta seorang diri yang tengah disibukkan dengan lamunan. Yang dinanti endah dimana keberadaannya. Diannova Abraham tidak tercatat sebagai tamu restoran yang datang hari ini.
Senja kembali menyapa hari, dilihatnya jam tangan yang berwarna sedikit keemasan di tangan kiri Cinta. Diannova Abraham belum juga datang. Tiba-tiba…
Geeerrrr…
Handphone bergetar memecah lamunan. Sebuah pesan dari Nisa. Cinta sama sekali tidak menghiraukannya. Fikirannya terus melayang memikirkan pujaan hati yang tak jua kunjung datang. Lagi. Handphone bergetar. Barulah Cinta menyentuh ponselnya. Lima panggilan tidak terjawab dari Nisa. Dengan malas, Cinta membuka pesan dari Nisa. Dua pesan dengan isi yang sama.
Hari ini Diannova Abraham akan pergi ke luar negeri. Aku baru mengetahuinya dari sahabatku.
Cinta merasa tidak percaya dengan kabar yang dia terima. Secepatnya Cinta menghubungi Nisa.
Tut…tut…tut…
“Assalamu’alaikum.” terdengan jawaban halus dari seberang.
“Wa’alaikumsalam. Nisa apa benar yangisi pesanmu tadi?” Jawab Cinta dilanjutkan dengan pertanyaan.
“Benar, Cinta. Hari ini Diannova Abraham akan pergi. Dia akan melanjutkan studynya di Universitas Chicago, dan mengikuti kursus talmud di sana. Kemungkinan besar Diannova Abraham tidak akan kembali lagi ke Indonesia.” Kata Nisa.
Ya. Keluarga Diannova Abraham adalah yahudiah yang sangat taat. Hanya Diannova Abraham yang tidak mengikuti jejak mereka.
Tanpa mempedulikan Nisa yang masih berbicara kepada dirinya, Cinta lari meninggalkan restoran. Pikirannya kacau. Cinta masih ingat Diannova pernah memberitahu alamat apartemennya kepada Cinta.
“Aku harus bertemu denganmu, bagaimanapun caranya.” Gumam Cinta.
Tidak jauh berbeda dengan ibu kota. Hari libur seperti ini bandung juga tidak kalah macetnya. Cinta tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk terpenjara dalam kemacetan. Cinta terus berlari dan berlari mengejar cintanya.
“Katakanlah hari ini atau tidak untuk selamanya!” bathin Cinta selalu mengatakan itu membuat Cinta semakin yakin untuk mengejar kesempatan itu.
Rasa lelah tidak sedikitpun dirasa. Cinta terus berusaha untuk menemui Diannova Abraham. Waktunya sudah tidak banyak lagi. Kebaikkan diannova selama ini dirasanya adalah sesuatu yang berbeda dan mungkin Diannova Abraham juga memiliki perasaan yang sama, namun hingga kini semua masih tanda tanya. Entah berapa jauh Cinta melangkahkan kakinya, berlari menuju apartemen Diannova Abraham. Hingga apartemen yang dituju tampak jelas depan mata. Namun sayang, penglihatannya kini sudah mulai kabur, kakinya terasa panas dan pegal seakan tulang-tulang lepas dari persendian. Badannya lemas.
“Tinggal beberapa langkah lagi. Aku pasti dapat bertemu dengan Diannova Abraham.” Bathin Cinta.
Dengan terengah-engah Cinta terus melangkah untuk sampai ke apartemen itu. Malang. Sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak kepada dirinya. Cinta jatuh tidak sadarkan diri tepat di depan gerbang masuk apartemen megah itu.
Untuk beberapa saat tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi kepada Cinta. Tidak lama, muncul sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilat ke luar dari pintu masuk apartemen.
“Ada orang pingsan, Bu.” Kata pengemudi itu.
“Siapa?” tanya perempuan paruh baya itu.
“Seorang perempuan muda. Kita tolong dia dulu?”
“Hubungi saja orang apartemen, biar mereka yang urus. Kami sudah tidak punya banyak waktu.” Kata perempuan itu. “Benar begitu anakku?” tanyanya kepada seorang pemuda yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melamun.
“Terserah Ibu.” Jawab pemuda itu.
Pemuda itu adalah Diannova Abraham, orang yang sedang Cinta cari.
Segera mereka menghubungi petugas apartemen dan dengan sigapnya petugas di sana datang menolong Cinta. Mobil melaju dengan cepatnya. Sekilas tadi Diannova melihat ke luar jendela mobil.
“Ibu, sepertinya aku mengenal wanita itu.” Kata Diannova Abraham.
“Kita tidak punya banyak waktu Nak.” Jawab ibunya.
Dalam keadaan setengah tidak sadarkan diri, Cinta menyaksikan kepergian Diannova Abraham. Cinta sempat dapat merasakan ada Diannova Abraham di sana, namun Cinta tidak dapat berbuat apa-apa. Hatinya terus berteriak memanggil nama Diannova Abraham, namun mulutnya tidak dapat bergerak. Tubuhnyapun hanya terbaring tidak berdaya. Tetes demi tetes air mata berjatuhan bercampur keringat dingin yang terus bercucuran.
Keadaan Cinta yang cukup mengkhawatirkan membuatnya harus menjalani perawatan di rumah sakit. Cukup lama dia hanya terbaring tidak berdaya namun terus menitikan air mata. Seseorang mengabarkan kejadian ini kepada Nisa. Dengan penuh kecemasan, Nisa menemui Cinta.
“Mengapa jadi seperti ini Cinta?” tanya Nisa dalam hati. “Begitu cintanya kah kamu kepada pemuda itu?” tanyanya lagi.
Lama, barulah Cinta mulai membukakan matanya.
“Diannova…” ucap Cinta dengan mulut bergetar. “Aku harus menemuinya.”
“Cinta, tenangkan dirimu.” Kata Nisa.
\Namun Cinta tetap berontak. Dalam keadaan yang masih sangat labil Cinta berusaha untuk bangkit.
“Aku harus bertemu Diannova.” Ucapnya berulang kali.
Nisa dan dokter berusaha terus menahannya. Cinta tidak memikirkan keadaan dirinya yang masih sangat lemah. Cinta bangun dan mencoba berdiri, sayang, Cinta kembali terjatuh dan terjatuh lagi. Dia terbaring di lantai dengan linangan air mata. Kini Cinta menyadari Allah tidak merestui cintanya kepada Diannova Abraham. Cinta dua agama. Mau tidak mau Cinta harus menerima cintanya kepada Diannova Abraham tidak akan terungkap selamanya karena setelah menyelesaikan studinya Diannova Abraham akan menetap di California, tanah kelahiran ibunya.
“Kamu masih punya banyak mimpi yang harus kamu wujudkan. Kamu tidak boleh terlalu lama terpuruk dalam kesedihan ini. Ingat, kamu akan bertemu dengan keluargamu. Tersenyumlah untuk itu!” kata Nisa.
Cinta malah semakin merana. ,atanya berkaca-kaca dan tidak hentinya meneteskan air mata.
“Aku mohon, tersenyumlah!” desak Nisa.
Cinta mengangguk seraya tersenyum, namun air matanya terus membasahi pipinya seolah senyuman itu hanyalah sebuah topeng untuk menutupi kesedihan hatinya.
***
Setelah keadaan Cinta membaik, Nisa membawa Cinta kembali ke rumahnya. Tampak kesedihan masih melekat hebat di hati Cinta.
Hari ketiga setelah kejadian menyedihkan dalam sejarah hidup Cinta, dia memutuskan untuk pergi ke Batak.
“Aku akan sangat merindukanmu, sahabatku.” Kata Nisa ketika mengantarkan kepergian Cinta.
“Aku juga. Jika suatu saat nanti kamu bertemu dengan Diannova Abraham, katakan kepadanya tentang cinta yang aku penda selama ini. Jujur, aku hanya ingin dia tahu perasaanku.” Pinta Cinta dengan mata berkaca-kaca.
Nisa menganggukkan kepalanya seperti menahan kesedihan yang sama dengan Cinta.
Waktunya telah tiba.
Cinta harus kembali memerankan setiap skenario yang dituliskan Tuhan. Sebuah babak baru dia perankan.
Setelah melalui perjalanan jauh, sampailah Cinta disebuah perkampungan yang asri dan masih sangat kental dengan tradisi. Desa kelahirannya. Sambutan hangat dari keluarga telah menyambut kehadirannya yang tidak diduga. Jika dulu tangis sedih yang mewarnai kepergian Cinta, kini tangis harulah yang turut melengkapi drama baru yang dia perankan.
Berkumpul dengan keluarga adalah impian setiap orang. Itu juga yang dirasakan dan bahagia kini ada dalam genggamannya. Lagi-lagi, dalam bahagia itu terselip kesedihan. Jauh dilubuk hati Cinta dia masih sangat sedih mengenangkan Diannova Abraham. Nama Diannova Abraham telah menempati tahta tertinggi dihatinya.
Setiap harinya yang Cinta lakukan hanyalah menanti sebuah keajaiban. Tidak hentinya dia berdoa kepada Allah agar kebali dipertemukan dengan Diannova Abraham. Satu lagi doa yang tidak pernah dia lupakan, Cinta selalu memohon kepada Allah untuk mempermudah langkah Diannova Abraham menemukan jalan terbaik menuju islam.
“Aku yakin Diannova akan menjadi seorang mualaf secepatnya.” Bathin Cinta.
Sebagai pelampiasan kerinduan terhadap orang yang dia sayang, Cinta selalu menuliskan surat untuk Diannova Abraham. Berharap suatu saat nanti Diannova dapat membacanya dan mengerti dengan apa yang dia rasa.
Sepertinya liku jalan hidup Cinta tidak pernah ada habisnya. Kali ini Cinta dihadapkan pada sebuah drama percintaan yang tidak pernah dia harapkan.
Marani memiliki paham sebaliknya dengan ibunya dulu. Dari pengalaman rumah tangganya yang kandas dengan orang Arab bernama Abdul Husen, kini Marani Tonga tidak ingin putrinya mengalami kejadian serupa. Marani Tonga percaya, laki-laki dari marganya tidak akan melakukan penghianatan seperti yang Abdul Husen lakukan. Marani Tonga menjodohkan Cinta dengan putra seorang Raja Urung. Tidak tanggung-tanggung, tanggal dan tempat pernikahannyapun sudah ditata sedemikian rupa dengan sangat sempurna. Tidak seperti Marani Tonga yang selalu tunduk kepada ibunya dulu. Cinta sempat berontak dan menolak keras perjodohan itu.
“Ini bukan zaman Siti Nurbaya, Bu. Cinta punya pilihan sendiri untuk menjadi pendamping Cinta nanti.” Kata Cinta.
“Ibu hanya tidak ingin kamu sepertiku.”
“Maksud Ibu?” tanya Cinta.
Marani Tonga mulai bercerita tentang pengalaman pahitnya.
“Ibu sangat terluka oleh ayahmu.” Kata Marani Tonga. “Ibu tahu kamu mencintai orang asing yang fotonya selalu kamu pandangi di dalam kamar. Lupakan dia. Sampai kapanpun kalian tidak akan berjodoh.” Kata Marani Tonga lagi.
Cinta terkejut dengan apa yang dikatakan ibunya.
“Tega sekali ibu berkata seperti itu.” Kata Cinta.
“Ibu tidak berniat menyakitimu, niat ibu hanya satu, menjauhkan kamu dari orang-orang yang dapat menyakitimu.” Kata Marani Tonga.
Cinta benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Marani Tonga. Sekalipun Marani Tonga adalah ibu biologis Cinta, tapi hingga kini diantara mereka belum ada kecocokan. Keduanya selalu bertentangan. Jalan fikiran Cinta dan ibunya sungguh bertolak belakang.
“Mana kain yang sudah kamu tenun itu?” tanya Marani Tonga.
“ada di kamar.” Jawab Cinta.
“Antarkan ini kepada putra Raja Urung!” pinta Marani Tongga.
Cinta terkejut, “Untuk apa?” tanya Cinta.
“Hula-hula harus memberikan kain ulos kepada boru sebagai lammbang supaya penerimanya selalu merasakan hangat tubuh dan jiwa.” Jelas Marani Tonga.
“Tapi aku tidak ingin menjadi pengantinnya.” Jawab Cinta.
“Turuti perkataanku jika kamu memang benar anakku.” Kata Marani Tonga tegas.
Tidak ada pilihan lain. Cinta sangat menyayangi ibunya sekalipun mereka selalu beradu argumen. Cinta tidak ingin kehilangan ibu yang baru kembali mewarnai cerita hidupnya.
***
Sehari sebelum hari yang ditetapkan sebagai hari pernikahan Cinta dengan seorang putra Raja Urung, Cinta diajak melihat sebuah jabu sederhana yang dibangun di atas sebuah bukit. Begitu indah pemandangan di sana. Sebuah anak sungai terbentang di samping kiri mengitari bukit itu airnya jernih dan sejuk. Sebuah pohon besar tumbuh di halaman rumah. Rantingnya besar, bunganya indah berwarna warni dan sesekali ikut jatuh terbawa hembusan angin yang damai.
“Sangat indah, dan lebih indah jika aku dapat menikmanti keindahan ini dengan orang yang aku cintai.” Bathin Cinta. “Diannova Abraham, aku sangat mencintaimu.” Bathinnya lagi.
“Semuanya sudah siap. Seni tari tortor/ godang pangoido pasu-pasu akan memeriahkan pesta pernikahan kita.” Kata calon suami Cinta. “Aku yakin kamu akan bahagia hidup denganku.” Katanya lagi.
Cinta tidak mampu tersenyum meski hanya topeng untuk membuat orang yang ada di sampingnya bahagia. Lagi-lagi, Cinta tidak dapat membendung tangisnya.
“Kau menangis?” tanya caln suami Cinta.
Cinta mengusap air matanya.
“Tidak, aku sedang tertawa.” Jawab Cinta sinis.
(Lagian ada-ada aja cih… udah tau meneteskan air mata ea berarti itu nangis… malah nanya…)
“Ternyata kamu lucu juga. Kamu pandai bercanda.” Kata calon suami Cinta.
“Siapa juga yang bercanda?” bathin Cinta tambah kesal.
“Kita baru kenal.” Kata Cinta.
Pemuda yang dijodohkan kepada Cinta malah tersenyum, “Iya, aku uga tidak menyangka kita berjodoh.” Kata pemuda itu.
“Aku tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama.” Kata Cinta.
“Aku juga. Tapi tidak demikian setelah aku bertemu denganmu.” Timpal pemuda itu.
“Pernikahan tanpa cinta tidak akan bahagia.”
“Untungnya kita sama-sama saling cinta.”
Cinta menghela nafas panjang kemudian berkata dengan tegasnya, “Sebelum mengenalmu aku telah mencintai seorang pemuda di Pulau Jawa. Aku sangat mencintainya.”
Pemuda itu tersenyum dan berkata tanpa beban, “Setelah kamu mengenalku pemuda itu hilang dari hatimu. Dia akan menjadi masa lalumu dan akulah masa depanmu. Benar demikian bukan?” tanya pemuda itu.
Cinta benar-benar kesal, “Kamu tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti maksudku, Tuan?” tanya Cinta. “Aku tidak pernah engharapkan pernikahan ini.”
Pemuda itu tetap tenang, “Pesta sudah di depan mata, tidak ada yang bisa menggagakannya.”
“Apakah begini putra seorang Raja Urung? Sangat egois.”
“Ibumu telah merestui kita.”
“Tapi aku tidak mengharapkannya.” Kata Cinta.
“Terserah.” Kata pemuda itu seraya berlalu meninggalkan Cinta.
Hari-hari Cinta benar-benar penuh dengan linangan air mata.
Cinta tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Cinta benar-benar terjebak di dalam skenario yang selalu membuatnya terpojok. Cinta tiak memiliki seorang sahabatpun untuk berbagi suka dan duka.
“Bahkan aku tidak dapat menghubungimu Nisa.” Bathin Cinta.
Marani Tonga merasa takut putrinya masih menjalin komunikasi dengan Diannova Abraham dan merusak rencana pernikahan yang telah disiapkan. Akhirnya Marani Tonga mengambil paksa ponsel Cinta.
***
Inilah hari itu. Berbagai suara tetabuhan diperdengarkan. Pernikahan akan segera dilaksanakan. Tidak henti-hentinya Cinta meneteskan air mata.
“Aku selalu berharap Diannova yang kelak menjadi pendamping hidupku.” Gumam Cinta.
Calon suami Cinta tiba-tiba masuk ke dalam kamar, menghampiri Cinta yang sedang duduk di depan cermin seraya memandang wajahnya yang sayu layu.
“Harusnya ini menjadi hari bahagia kita. Kenapa kamu masih meneteskan air mata?” tanya pemuda itu.
“Pernikahan adalah ladang suci, dimana harus adanya pengertian antara si petani dengan bibit yang disemai. Agar kelak dapat menuai hasil panen yang baik.”
“Tetangga sudah menunggu sejarah baru yang menyatukan dua hati insan.”
“Pernikahan yang didasari sebuah keterpaksaan. Itu maksudmu?” tanya Cinta.
“Mencobalah menerima kenyataan.”
“Aku tidak akan pernah main-main dengan sesuatu yang sakral.” Jawab Cinta.
“Seberapa besar cintamu kepada pemuda asing yang kau kenal di Jawa?”
“Dia bukan pemuda asing. Aku megenalnya, kamulah yang asing bagiku.”
“Kamu benar-benar mencintainya?”
“Jika tidak, untuk apa aku menangis untuknya?” Cinta balik bertanya.
Pemuda yang sejak awal memaksa untuk menikahi Cinta tiba-tiba mengulurkan tangannya.
“Ini ponselmu.” Kata pemuda itu.
Cinta menerimanya, “Mengapa ada padamu?”
“Aku mendapatkannya dari ibumu.” Jawab pemuda itu. “Ada satu pesan dari temanmu.” Katanya lagi.
Segera Cinta membuka pesan masuk. Ya, satu pesan dari Nisa.
Assalamu’alaikum.
Sahabatku, aku yakin hari ini kamu akan tersenyum bahagia ketika membaca pesan ini. Subhannalah, sungguh Allah telah memperlihatkan keagungannya. Apa yang selama ini kamu yakini telah menjadi nyata. Orang yang kamu cinta telah menjadi seorang mualaf. Hari ini Diannova Abraham akan kembali ke Indonesia. Kabar ini aku dapatkan dari temanku di California.
Sebuah senyuman merekah di bibir Cinta.
“Alhamdulillah.” Kata Cinta seraya memeluk ponsel miliknya.
“Jangan menyerah untuk menggapai cinta yang kamu impikan.” Kata putra Raja Urung.
“Maksudmu?” tanya Cinta.
“Aku sengaja membukakan pintu belakang jabu ini. Kamu bisa menutup pintu dari luar. Kejar Cintamu!”
Cinta semakin tidak mengerti. Pemuda yang selalu teguh dengan pendiriannya dan tidak ingin melepaskan Cinta, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang ramah dan seakan ingin menjadi penyelamat cinta yang terpendam.
“Tunggu apa lagi? Cintamu sudah menanti. Temuilah!” kata pemuda itu lagi.
Tanpa berfikir panjang, Cinta meninggalkan pesta pernikahan yang sangat besar. Senyum terakhir disajikan kepada pemuda yang telah memberi dia kebebasan untuk meraih cinta.
“Terima kasih. Semoga Allah membalas kebaikkanmu. Sampaikan salam sayang ku kepada ibu.” Kata Cinta kemudian berlari mengejar Cintanya.
Kembali bathinnya berkata, “Katakanlah hari ini atau tidak untuk selamanya.”
Cinta merasa kebahagiaannya kini ada di depan mata. Entah berapa lama Diannova Abraham di indonesia, yang pasti masih banyak waktu dan pasti kesempatan itu tidak akan pernah disia-siakan.
Setelah menyebrangi laut yang memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera, tanpa kenal lelah dan tidak sedikitpun menghiraukan perutnya yang keroncongan Cinta menuju rumah Nisa. Sesuai dengan yang dia harapkan taksi melaju dengan sangat cepat. Tidak ada kemacetan.
Sepanjang perjalanan Cinta terus tersenyum, “Aku akan mendapatkan kebahagiaanku” bathinnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Nisa, segera Cinta menerimanya.
“Assalamu’alaikum, Nisa.” Kata Cinta.
“Wa’alaikumsalam.” Jawaban dari seberang. “Sudah sampai mana?”
“Lima belas menit lagi aku sampai di rumahmu.” Kata Cinta.
Naas.
Belum sempat tiba-tiba juga Nisa mengakhiri percakapannya dengan Cinta, telepon tiba-tiba terputus. Sebuah kecelakaan tidak dapat dihindarkan ketika taksi yang sedang melaju dengan cepat bertemu dengan truk dari arah yang berlawanan dengan laju yang tidak kalah cepatnya. Taksi terbalik. Asap tebal menggumpal, menyelimuti seluruh badan mobil, dan terbakar. Warga yang ada disekitar itu segera memberikan pertolongan, mencoba menyelamatkan Cinta dan sopir yang sama-sama menjadi korban. Secepatnya mereka dilarikan ke rumah sakit.
Ketika itu, Diannova Abraham telah tiba di rumah Nisa bersama seorang perempuan muda.
“Dimana sahabatmu itu?” tanya Diannova Abraham.
“Tadi saya sempat menghubunginya, namun tiba-tiba terputus dan saya sulit untuk menghubunginya lagi.” Jelas Nisa. “Dengan siapa anda kemari?” tanya Nisa.
“Istri saya.” Jawab Diannova Abraham.
Nisa sangat terkejut. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya saat Cinta mengetahui Diannova telah memiliki seorang istri. Nisa tahu ini akan sangat menghancurkan hati Cinta.
Perempuan itu mengulurkan tangan, “Mariam.” Katanya memperkenalkan diri.
“Nisa.” Sambut Nisa.
Nisa merasa sangat bersalah kepada Cinta. Entah apa yang harus dia katakan nanti kepada Cinta. Nisa benar-benar galau. Di lain sisi, hati Nisa terus bertanya-tanya dimana Cinta. Nisa sungguh merasa tidak tenang seolah telah mendapatkan firasat tentang sesuatu yang tidak diharapkan.
Akhirnya, berita kecelakaan sebuah truk dengan mobil taksi menyebar begitu cepat di kota Kembang hingga sampai di telinga Nisa.
“Semoga itu bukan Cinta.” Bathin Nisa.
Secepatnya Nisa mengajak Diannova Abraham dan Mariam melihat ketempat kejadian. Dengan dada yang terus berdebar-debar Nisa terus berdoa itu bukan Cinta, namun apalah daya. Takdir tidak dapat dipungkir, tidak ada yang dapat menolak suratan yang telah Tuhan berikan. Nisa dan Diannova Abraham harus menerima kenyataan orang yang lama dinantinya telah menjadi korban dan kini terbaring tidak sadar di rumah sakit.
Tangis pilu menaburi suasana yang sangat kelabu. Keadaan Cinta begitu kritis. Luka-luka ditubuhnya masih mengucurkan darah segar.
“Maafkan aku Cinta. Tidak seharusnya aku meminta kamu untuk kemari.” Kata Nisa berharap Cinta dapat mendengar penyesalannya.
Namun Cinta masih tidak sadarkan diri. Tidak lama Diannova Abraham datang bersama Mariam. Ditatapnya orang yang telah memberikan pencerahan hidup kepada dirinya.
“Semoga Allah meringankan rasa sakitmu.” Kata Diannova Abraham.
Tiba-tiba saja keluar butiran suci dari sudut mata Cinta. Sangat bening. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak, namun Cinta sepertinya dapat merasakan kehadiran orang yang sangat dicintainya.
Mariam menghampiri Cinta. Digenggamnya tangan kanan Cinta dengan kasih sayang yang tulus.
“Kamu adalah orang yang sangat baik. Kamu harus kuat Cinta. Allah akan selalu menolong orang baik seperti kamu.meskipun aku belum mengenal kamu tapi suamiku, Diannova Abraham banyak bercerita tentang kamu.” Kata Mariam. “Segeralah sembuh Cinta.”
Air mata Cinta semakin mengalir deras. Tetes demi tetes membasahi bantal putih.
“Aku sangat mencintaimu Diannova Abraham. Aku kembali ke sini untuk kamu. Tapi ternyata kamu telah ada yang memiliki, hatiku sakit melihatmu bersamanya, karena aku mencintaimu. Tapi aku relakan kamu bersamanya itu juga karena aku mencintaimu.” Ternyata dalam keadaan koma bathin Cinta masih sangat peka. Cinta tahu siapa yang ada disekitarnya.
Cinta,.
Entah kapan dia akan merasakan kebahagiaan di dalam hiduonya. Dari kecil hingga dewasa kini, hanyalah tangis yang mewarnai hidupnya. Tuhan telah menguji kesabarannya dengan segala cara. Mulai dari perpisahan dengan orang tua, kehilangan orang tua angkat yang dia sayang, dan kini pupus sudah harapannya untuk menjadi Nyonya Diannova Abraham.
***
Nisa teringat pada pesan Cinta sebelum Cinta pergi ke Batak.
“Katakan kepada Diannova tentang apa yang aku rasakan kepadanya.” Kata Cinta dulu.
Dengan ragu karena takut melukai hati Marani yang kini sudah menjadi istri Diannova Abraham, Nisa akhirnya menyampaikan pesan itu kepada Diannova Abraham di depan Mariam. Nisa meninggalkan Cinta seorang diri dalam kamar rumah sakit.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Diannova Abraham.
“Sebuah rahasia yang selama ini dipendam oleh Cinta.” Kata Nisa.
Diannova Abraham mengerutkan dahi, “Apa?”
“Setelah mengetahui semua yang akan saya ungkapkan, saya mohon tidak ada perselisihan atau kecurigaan lain di hati kalian. Sungguh saya tidak memiliki maksud buruk. Saya hanya menyampaikan amanat dari sahabat saya.” Kata Nisa.
Diannova Abraham semakin penasaran.
“Cinta adalah perempuan yang sangat tegar dan kuat.” Kata Nisa kemudian diam kembali.
“Iya, saya tahu itu.” Kata Diannova Abraham. “Lalu?” tanyanya.
“Sesungguhnya selama ini Cinta menaruh rasa yang lebih kepadamu. Rasa kagum yang tumbuh telah menghadirkan benih-benih cinta di hatinya. Bahkan kedatangan Cinta saat ini hanyalah untuk menemuimu. Dia ingin kamu tahu tentang perasaannya. Padahal kemarin adalah hari yang ditetapkan sebagai hari pernikahannya dengan pria pilihan orang tuanya. Dia rela meninggalkan semua itu hanya untuk kamu. Tidak kah kamu menyadari itu?’ tanya Nisa.
“Dia pandai menyembunyikan perasaannya di hadapan ku.” Jawab Diannova Abraham.
Nisa mencertakan semuanya kepada Diannova Abraham. Alangkah terkejutnya Diannova Abraham mendengar semua itu.
“Cinta sahabatku, hidupnya selalu berlinang air mata. Hanya kamu yang bisa membuatnya tersenyum. Tolong, untuk kali ini saja, bahagiakan Cinta.”
“Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang?” tanya Diannova Abraham. “Apakah saya harus menikahi orang yang dengan tulus mencintaiku seperti yang sering diceritakan dalam novel dan sinetron? Saya tidak mungkin melakukan itu. Bersikap adil adalah hal yang sangat sukar untuk saya lakukan.”
Mariam yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia kini mengungkapkan sarannya, “Hidup dengan dua akhwat yang halal bagimu, tentu akan melatihmu untuk bisa lebih adil. Lakukanlah! Nikahi orang yang mencintaimu.” Kata Mariam.
“Ini kehidupan nyata, bukan sinetron yang sering kamu tonton. Saya tidak akan melakukannya.” Jawab Diannova Abraham.
“Dia sangat mencintaimu.” Kata Mariam. “Tidakkah kamu melihat pengorbanan yang telah dia lakukan untukmu?” tanya Mariam.
“Aku tidak ingin nantinya malah akan menyakiti hatimu.”
“Aku ikhlas.” Timpal Mariam.
“Orang yang mengatakan ikhlas menandakan orang itu sebenarnya tidak menginginkannya.” Kata Diannova Abraham. “Nisa, terima kasih kamu sudah menceritakan semua ini. Saya sangat menghargai cinta dari siapapun itu, termasuk dari Cinta. Tapi dari awal perkenalanku dengan Cinta hingga kini saya tidak pernah memiliki perasaan lebih kepada dia.” Tambahnya.
Tanpa terasa air mata Nisa membasahi pipi. Dia dapat merasakan kesedihan sahabatnya jika tahu orang yang selama ini dipujanya sama sekali tidak mencintai Cinta.
Detik demi detik terus berlalu. Sebelum pergantian hari, sesuatu yang ditakutkan benar-benar terjadi.
Cinta. Senyum nan indah merekah dibirirnya. Matanya terpejam dengan sudut mata yang masih basah. Tidak ada lagi kata yang terucap dari mulutnya. Cinta telah tertidur dalam dunianya.
Tangis pilu pecah dalam keheningan malam itu.
Selamat jalan Cinta. Itulah salam terakhir dunia untuknya.
Di hadapan tanah merah yang masih basah, wajah-wajah sayu meneteskan air mata. Menaburkan bunga dan menyiraminya dengan doa, seraya menatap nisan bertuliskan Cintiya Thumbelina. Bukan hanya Nisa yang terpukul dengan kepergian Cinta. Seorang mualaf yang kini menjadi ikhwan sejati tidak kuasa jua menahan kesedihannya.
“Cinta sangat berjasa dalam hidup saya. Dialah yang telah memberikan cahaya sehingga saya dapat membuka mata hati dan melihat keagungan islam ini. Dia tidak pernah sekalipun memojokan saya meski ketika itu saya belum ada di jalan ini. Padahal dulu saya sempat memiliki pandangan buruk padanya hanya karena saya tahu dia seorang gadis berdarah Arab.” Kata Diannova Abraham. “Maafkan saya Cinta.”
Nisa tersenyum, “Cinta telah membuktikan apa yang telah dia ucpakannya. Dia meninggalkan senyuman diakhir hayatnya.” Nisa menghela nafas panjang. “Mungkin ini arti dari mimpinya. Dia bermimpi kamu datang menemuinya sebagai seorang mualaf disambut Cinta yang tengah mengenakan pakaian putih. Cinta meyakini itu adalah gaun pernikahan, namun ternyata inilah takdir Tuhan. Sebuah kain kafan.” Tambah Nisa.
Diannova Abraham menyadari masa lalunya sungguh sangat surap. Dia hidup tanpa tujuan, semua hanya berdasarkan apa yang dia yakini benar. Sangat ambigu. Dia tidak memiliki pegangan hidup seperti Al Quran dalam islam. Namun berkat Cinta, akhirnya semua telah berubah.
Seperti yang Cinta harapkan dulu. Mimpi-mimpinya telah terwujud. Cintanya telah terungkap dan pujaan hatinya menjadi seorang mualaf.
Itulah cinta. Cinta menuntut seseorang untuk melakukan pengorbanan dan perjuangan untuk menggapainya. Meskipun Cinta kini telah tiada, namun dian cinta tidak pernah padam menerangi sejarah kehidupan manusia.
zhie_mujahidah
Langganan:
Postingan (Atom)