Jumat, 04 Maret 2011

Menjaga Hati

Di Kota Kembang ini, aku hanyalah seorang perantau berbekal nawaitu untuk menuntut ilmu. Meski awalnya aku sedikit ragu untuk melangkahkan kaki di kampus ini, tapi dengan azzam di hati yang tidak dapat dibendung lagi akhirnya aku temukan satu titik keyakinan. Aku pangkas satu persatu masalah yang membebani pikiranku, rasa takut dan ragu.
Tidak ada seorang pun yang dapat menebak skenario yang Allah tuliskan untuk setiap hamba-Nya.
Tanpa sengaja aku mengenal dia. Dia adalah seorang Ikhwan sejati. Allah telah memberikan sejuta kesempurnaan kepadanya. Aku dapat melihat parasnya yang rupawan, meski tidak pernah sekalipun aku menatap wajahnya. Aku dapat merasakan, dia adalah orang yang sangat lembut, meski tidak pernah sedikitpun aku menyentuhnya. Dia selalu menampilkan kesederhanaan, sebagai cermin hatinya yang kaya. Dia juga selalu menunduk, begitu pandainya dia menjaga pandangan. Sungguh, di zaman yang sudah tua ini Ikhwan seperti dia telah memasuki zona langka.
Dari sinilah ceritaku bermula. Allah telah memberiku kesempatan untuk mengenal lebih jauh Ikhwan yang selalu menjadi kebanggaan di kampusku. Aku sungguh sangat bahagia mendapatkan sosok kakak yang begitu pengertian dan perhatian. Walau hanya lewat sebuah pesan singkat.
Ikhwan itu adalah orang yang sangat baik, seorang aktivis yang bijak dan mahasiswa berprestasi di kampusku. Dia selalu bersedia membimbingku agar langkahku tidak kaku, dia mengajarkan aku kedewasaan dan arti sebuah kehidupan. Jujur, meski berjilbab, aku bukanlah orang yang kaya akan ilmu agama. Namun seorang Ikhwan yang belum lama ini aku kenal selalu mengarahkan aku untuk memperbaiki semuanya.
Ikhwan itu mengajarkan aku untuk bangun sebelum adzan subuh. Pukul 03.30, pesan singkat darinya aku terima agar aku segera terjaga dari tidur yang lena. Dengan sabar dia selalu menceritakan tentang keutamaan bangun pada sepertiga malam dan mendirikan qiamul lail. Jujur saja awalnya aku sangat malas. Tidak jarang aku sama sekali tidak mengindahkan suara adzan subuh. Namun kali ini aku benar-benar ingin hijrah. Dengan mata yang masih setengah terpejam, aku seret kakiku mengembil air wudhu. Begitu dan begitu lagi seterusnya hingga aku terbiasa dengan rutinitas yang telah dia ajarkan.
Semenjak saat itu, aku merasa hidupku lebih berarti. Dia tidak memanjakan aku, namun membentuk aku menjadi pribadi yang tangguh. Dia tidak selalu ada di sampingku, namun dia selalu ada saat aku butuh, tanpa harus bertemu apalagi menyentuh. Petuahnya yang sangat bermanfaat selalu berhasil menuntunku untuk lebih mengenal siapa Penciptaku. Demi Allah, perubahanku bukan karena dia, namun sungguh hanya karena Dia
Malam itu, Minggu, 05 Desember 2010. Karena sebuah tugas yang sangat mendesak, dengan ide gila seorang sahabat, aku memberanikan diri untuk meminta bantuan Ikhwan itu. Dengan perasaan yang tidak menentu, aku menghubungi dia berharap bisa membantu menyelesaikan tugas-tugasku. Sungguh, hatinya sangat mulia. Dia adalah seorang aktivis yang digandrungi banyak orang, berwibawa dan sungguh luar biasa. Namun tidak sedikitpun dia tengadah dan angkuh. Malah dia mau mengantarkan bahan materi untuk tugas-tugasku, padahal aku hanyalah seorang “maru”.
Aku yang ketika itu sedang di kosan seorang sahabat, hanya bisa menunggu Ikhwan itu dengan harap-harap cemas. Entahlah… setiap kali bertemu dengan dia atau tahu akan bertemu dengan dia, perasaanku jadi tidak menentu bahkan tanganku dingin seakan mencapai titik beku. Aku selalu bertanya, pertanda apakah ini? Aku tahu begitu banyak orang yang mengagumi dia, bahkan mencintainya, dan aku tidak ingin menjadi salah satu diantara mereka yang memendam cinta kepada seorang ketua BEM HIMA.
Tahukah, Sobat?
Karena rasa takutku yang begitu besar, diam-diam aku memiliki sebuah cara untuk menghindari virus cinta agar tidak singgah di hati ini. Aku adalah seorang akhwat berkaca mata. Penglihatanku sedikit kabur tanpa bantuan kaca mata yang sudah beberapa bulan ini setia menemaniku. Aku ingat apa yang sering dikatakan orang-orang tentang cinta. Dari mata turun ke hati. Tidak… aku tidak menginginkan itu. Azzamku sudah bulat untuk menghapus kata pacaran dari kamus bathinku. Maka, setiap kali aku bertemu dengan dia, dengan sengaja aku melepas kaca mataku. Tujuanku hanya satu, agar aku tidak melihat jelas bagaimana rupa Ikhwan yang selama ini menuntun langkahku lewat pesan singkat yang dia kirimkan. Sekali lagi, ini aku lakukan karena aku takut mencintainya. Aku takut keyakinan yang selama ini aku pegang teguh goyah dan membuat aku lupa pada ikrar hati dalam sebuah malam yang sunyi.
Ba’da isya aku melihat seorang Ikhwan yang mengenakan jaket abu-abu berdiri di depan halaman rumah kontrakan khusus Akhwat ini.
“Ya Allah, dia benar-benar datang.” Bathinku.
Aku yang ketika itu ditemani seorang sahabatku segera membukakan pintu.
Seperti biasa, dia hanya menundukkan kepala dan mengucapkan salam dengan ramahnya. Aku tidak berani mempersilahkan dia masuk ke dalam rumah. Aku tahu benar siapa dia, aku takut dia justru berprasangka buruk apabila aku mengajaknya masuk. Jujur, aku tidak tahu bagaimana caranya memperlakukan seorang Ikhwan.
Kala itu gerimis baru saja reda. Teras rumah masih basah dan sedikit kotor, namun keikhlasan selalu dia pancarkan. Dia mengeluarkan laptop dari dalam tasnya dan kemudian duduk di teras yang “basah”. Subhanallah, sekali lagi aku begitu meyakini kemuliaan hati Ikhwan ini.
Atas permintaan dari sahabatku, dengan penuh keraguan aku berkata sedikit terbata-bata, “Masuk saja, Kang. Di luar kotor.” Kataku, tidak berani menatapnya.
“Tidak apa-apa.” Jawabnya pelan.
Cukup lama, sepertinya dia sedikit bingung materi mana yang harus dia berikan untuk melengkapi tugasku-konsep dasar matematika.
“Afwan, baterainya lemah. Bisa ikut ngecas di sini?” tanyanya.
Sahabatku mempersilahkanya masuk. Aku berdiri di samping Ikhwan itu, namun sahabatku segera memanggilku. Pada saat itu aku benar-benar sangat malu. Aku memang masih terlalu awam, malah aku sendiri tidak tahu apakah aku pantas disebut sebagai seorang akhwat. Aku lupa, Akhwat dan Ikhwan harus dipisahkan dengan hijab.
Jantungku masih berdetak cepat. Dibalik hijab ini, setan berhasil membujukku. Sesekali aku mengintip ikhwan itu. Aku belum tahu bagaimana rupanya dan aku ingin mengetahuinya lebih jelas. Padahal selama ini aku selalu berusaha untuk menjaga pandanganku terhadapnya. Untunglah, sepertinya Allah tidak mengijinkan aku untuk melihat dia. Dia duduk membelakangiku, sehingga yang aku lihat hanya punggungnya saja.
Di rumah kontrakan itu, ada sekitar sepuluh orang Akhwat. Mereka sangat terkejut ketika mengetahui ada ikhwan yang masuk ke dalam rumah malam-malam seperti ini. Sungguh aku malu, apalagi ketika aku ketahuan diam-diam mengintip tamu dadakan itu.
Semenjak malam itu, aku semakin takut tidak dapat menjaga hatiku. Aku takut suatu saat aku jatuh hati kepadanya. Merasakan cinta yang tidak semestinya. Seperti yang pernah dia katakan, cinta adalah fitrah manusia, namun bagiku sangat sulit untuk menjaga kesuciannya dari noda-noda berbau nista.
Semoga Allah senantiasa mengistiqamahkan hatiku agar kesucian hati tidak ternodai dengan bara cinta sebelum waktunya.

Tidak ada komentar: