Aku akan menuliskan kembali sebuah kisah yang aku alami selama menyelami kehidupan baruku ini.
Aku termasuk orang yang sangat berutung karena telah mengenal dia dan mendapatkan banyak ilmu dari orang yang sangat luar biasa. Yang aku rasakan dia begitu baik dan perhatian meski aku yakin bukan hanya kepadaku. Karena tidak mungkin seorang ikhwan seperti dia mengistimewakan seorang perempuan kecuali ibu dan orang-orang yang tertulis di dalam Al Qur’an sebagai muhrim. Aku juga tidak pernah sedikitpun mengharapkan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari ini, meski sesungguhnya selama ini aku merasa takut jatuh hati. Tapi ya sudahlah…bukan itu yang ingin aku ceritakan di sini. Masalah hati, biar sepenuhnya Allah yang mengatur. Tujuanku menuliskan cerita ini juga bukan untuk pamer atau membanggakan diri karena diberi kesempatan untuk mengenal dia. Hanya ingin sedikit berbagi cerita dan semoga ada hikmah di balik semua ini.
Aku sudah tidak merasa sendiri lagi di perantauan ini. Aku memang anak bungsu yang mungkin bagai sebagian orang berpikiran aku ini anak manja (itu yang mereka katakan hingga aku lulus SMA beberapa bulan yang lalu.). Aku selalu ingin diperhatikan, dan selama ini aku memang mendapatkan apa yang aku inginkan. Kasih sayang orang tua, cinta dari saudara, dan teman-teman ku semua. Namun selama aku di Bandung, dan semenjak berbagai peristiwa terjadi akhir-akhir ini, aku merasa semakin jauh dari keluarga.
Kakak sulungku memang sudah berkeluarga sejak lama, makanya aku tidak begitu dekat dengannya. Sedangkan kakakku yang kedua baru beberapa bulan ini berumahtangga. Huft…dan ini cukup membuatku tertekan. Ya, tertekan. Mungkin aku terlalu lebay, tapi memang itu yang aku rasakan. Ada rasa takut kehilangan dan kegelisahan curiga terlupakan. Apalagi akhir-akhir ini kakakku itu tampak begitu sibuk dengan kehidupan barunya.
“Ya sudahlah. Aku harus tetap melanjutkan hidupku. Mungkin ini adalah batu lompatan untuk meraih kedewakasaan.” Bathinku.
Pada saat itulah aku mengenalnya. Sebut saja “M”. Dia mampu mengisi kehampaan di dalam hatiku. Meski mungkin posisi kakakku tidak akan pernah tergantikan di hati, tapi dia sudah memberikan apa yang aku butuhkan. Seperti yang pernah aku ceritakan, dia tidak pernah memanjakanku, tapi dia hadir untuk mengajarkanku arti kehidupan yang sesungguhnya.
Beberapa hari yang lalu aku tengah sibuk mempersiapkan perlengkapan untuk pengukuhan BINDER (Bina Kader). Seperti biasa aku dan dia berkomunikasi lewat sms (jangan salah! Sungguh tidak ada yang menyimpang dari sms yang kami kirimkan.). Pada saat itu aku memberitahu dia perlengkapan pengukuhan BINDER ku sudah siap kecuali jas hujan. Aku juga bertanya kepada dia barangkali memiliki dua jas hujan (pinjem.com). Namun ternyata dia hanya punya satu.
“Mangga, kalau Puji mau pinjem. Tapi berarti nanti Akang yang kehujanan dong.” Katanya.
# Endang Pujiastuti sebagian orang memanggiku Endang dan ada juga yang memanggilku Puji, tapi anehnya sampai sekarang tidak ada yang memanggilku dengan nama Astuti atau Tuti. ^_^
Tapi tentunya aku menolak tawaran itu. Masa iya aku tega melihat orang sebaik dia ujan-ujanan. Apalagi sekarang ini memang musim hujan. Tapi ketulusannya untuk membantu sesama sangat kuat terpancar.
“Gak apa-apa kok. Puji pakai saja. Besok Akang bawa jas hujannya. Tapi tolong ingatkan Akang ya.” Katanya lagi.
“Sebenarnya aku lagi bingung Kang.” Kataku kemudian menceritakan kebingunganku.
Untuk kesekian kalinya aku ‘menyusahkan’ dia. Aku menceritakan keadaan di kosan ku yang kurang kondusif, banyak orang luar yang keluar masuk ke dalam kosan dan ini tentu membuat aku was-was untuk meninggalkan barang-barangku di dalam kamar kosan.
“Di Akang saja ya. Kalau di simpen di tempat kakak jauh kesananya.” Kataku dengan gaya manja seorang adik yang khas.
“Puji ini ada-ada saja. Nanti kosan Akang Akang jadi kayak tempat penitipan barang. Tapi iya boleh deh. Besok bawa saja. Sekalian Akang kasih jas hujannya.”
Subhanallah. Aku tidak tahu lagi bagaimana cara untuk membalas kebaikan dia. Mungkin semuanya seperti biasa dan sederhana. Tapi andai Anda mengenal dia, Anda akan merasakan sendiri, dia adalah orang yang benar-benar tulus. Semoga Allah swt. yang membalas semua kebaikannya. Amin.
Keesokan harinya, Sabtu, 11 Desember 2010. Seperti yang dia ajarkan kepadaku, sekarang aku sudah terbiasa bangun pagi dan membasuh mukaku dengan air wudhu. Meski sebenarnya dinginnya subuh di kota Bandung masih berusaha menina bobokanku. Tapi sungguh, aku melakukan ini bukan karena dia tapi karena Dia. Dia hanya orang yang membantuku untuk bergerak ke arah yang lebih baik.
Aku segera mengirimkan pesan singkat untuk dia, dan seperti biasa kami berkomunikasi lewat sms. Aku harus sudah berada di ITC (Al Furqon) pukul 07.00 dan sebelum meluncur ke tempat pengukuhan aku harus terlebih dahulu menemui dia.
Sudah lewat dari pukul 06.00. Tiba-tiba handphone-nya tidak aktif. Aku sendiri bingung dimana aku harus menemui dia. Di Al furqon? Al Furqon itu sangat luas. Di sekre Tutorial? Ah tapi bagaimana kalau dia belum berangkat ke sana? Terakhir dia mengirim sms kalo dia akan ke tempat pengukuhan ba’da duhur. Hampir pukul tujuh. Aku melangkah dengan hampa. Daripada terlambat, tidak apa-apa lah aku tidak membawa jas hujan. Mungkin nanti hanya dihukum sedikit. Bathinku ketika itu.
Baru beberapa langkah aku meninggalkan pintu kosan handphoneku tiba-tiba bergetar kembali. Sebuah pesan dari dia.
“Afwan, tadi hp Akang jatuh dan mati. Puji dimana?” tanyanya.
Dia memintaku untuk menunggunya di depan mesjid Daarut Tauhid. Cukup lama aku berada di sana yang dinanti belum juga nampak. Pukul 07.00 telah lewat, barulah dia datang dengan sepedanya. Ya, sepeda. Pangeran bersepeda yang sekarang punya panggilan khusus dari teman-teman di PGSD; Pangeran Berkuda.
(eh…bukan aku lho yang ngasih nama Pangeran Bersepeda.)
Sedikit menyimpang dari tujuan awal yang igin aku ceritakan. Begini kisahnya. Beberapa waktu yang lalu ada Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM) buat MARU. Hanya saja aku gak ikut. Pada saat itu dia meminta nomor hp mama. Aku sendiri tidak tahu berapa kali dia menelpon mama untuk meminta ijin agar aku bisa ikut LKM. *beda operator lho…dijamin langsung Rp.0 tah kayaknya.
Semenjak LKM itulah teman-teman jadi memiliki panggilan khusus untuk dia; Pangeran Berkuda.
“Puji, Akang tidak pernah naik kuda. Jadi Akang lebih cocok dipanggil pangeran bersepeda.” Katanya kepadaku waktu itu.
(ternyata orang yang pada awalnya aku kira sangar bisa bercanda juga. Malah dia sering menghiburku.)
^_^ oke kita kembali lagi ke alur cerita yang pertama.
Akhirnya yang ditunggu datang juga.
Dan melihat penampilannya aku sedikit terkejut. Meski aku tidak pernah menatapnya secara ‘utuh’ apalagi memperhatikannya, tapi aku tahu biasanya dia tampil sangat rapi, tapi kali ini…hmmm… rupanya dia sangat buru-buru. Dia memberikan jas hujannya kepadaku “masih basah. Kemarin sudah dipakai.” Ucapnya.
Seperti biasa aku hanya menjawab dalam diam. Kemudian dia meminta laptopku dan memasukannya ke dalam tasnya. Aku tahu dia adalah orang yang sangat amanah.
Pengukuhan hanya dilaksanakan dua hari satu malam. Semuanya sangat brkesan, sampai-sampai aku enggan untuk mengakhiri semuanya.
Keesokan harinya. Ba’da isya aku sudah kembali ke kosan.
Aku ingat ada satu tugas yang belum aku selesaikan. Tapi biarlah. Besok saja aku kerjakan.
Hari Senin aku mencoba menghubungi dia. Lagi-lagi nomernya gak aktif. Tugas menanti sedangkan data-datanya ada dilaptop semua. Sempat terpikirkan sebuah ide gila. ‘Mungkin aku harus ke kosannya.’ Untunglah aku cepat sadar. Bisa-bisa aku diusir datang seorang diri ke tempat ikhwan. Memalukan.
Aku ingat dia pernah memberitahukan jadwal kuliahnya. Dari Senin sampai Rabu dan hari Senin masuk pukul 07.00. ini sudah pukul 06.00. aku memutuskan untuk menunggunya di kampus. Jarak adri kosan menuju kampus memang cukup dekat. Harus menunggu dia selama satu jam disini. Jenuh juga.
Ya, aku mulai melangkah menuju Al Furqon. Menunggu di sana selama satu jam juga tidak apa-apa. Gak disangka, aku melihat kudanya di depan sekre tutorial, maksudku sepedanya.
Rasanya tidak mungkin aku tiba-tiba masuk ke sekre. Lagipula Al Furqon masih sepi seperti ini. Untunglah tidak harus lama menunggu, dia ke luar dari sekre.
Kriiiiiing….
Suara sepedanya.
“Puji nunggu Akang?” tanyanya.
Aku hanya diam.
Dia sudah mengerti maksud kedatanganku kesana. Dia mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Sebenarnya banyak yang ingin aku katakan kepadanya. Mulai dari kata maaf sampai kata terima kasih yang tiada tara. Tapi ya inilah aku. Dia membisu.
“Tadi sms Akang?”
Aku menganggukkan kepalaku.
“Afwan, hp Akang mati lagi. Kok tahu Akang di sini? Sengaja?”
Barulah aku berkata, “Iya. Akang kan suka di mesjid jadi aku kesini.”
Setelah mendapatkan kembali laptopku. Aku melangkah menjauhinya menuju kosan.
# Kang, maksaih ya…
1 komentar:
nice story.... ^_^
Posting Komentar